Saya tergugat dan tergugah seketika, saat menerima pesan WhatsApp, bahwa hari penerimaan rapor harus dihadiri oleh ayah. Saya menatap Argan yang sudah siuman bergegas menuju kamar mandi.
Sesaat kemudian Argan lengkap dengan seragamnya, saya sambil mengusapnya dan membujuknya. Maafkan saya, tidak harus hadir mewakili ayahmu. Dia mengangguk melepaskan senyuman seperti biasa, dan saya sangat paham betul anggukan dan senyuman itu.
Serba salah, seribu bongkahan narasi hendak meloncat keluar, tetapi tercekat. Saya terpaksa hanya menghukum diri sendiri, cara untuk tidak gegabah melepaskan anak panah, sifat saya yang kadang meluap-luap. Kadang gagal menahan serta meredam gejolak amarah itu.
Ini kurikulum apalagi? Tanya saya kepada ibunya Argan. Karena ini seakan dipaksa menghadiri penerimaan rapor.
Pagi buta, saat matahari condong menegur mimpi dan tidur saya yang terusik semalam. Melambai membasuhku seakan tahu tipuan kantukku yang sangat rentan dan amat pembenci matahari pagi bin pemalas ini.
Argan mulai bersiap, saya berusaha menghiburnya untuk tidak kecewa jika saya tidak harus hadir saat penerimaan rapornya. Secara psikis dan mental, menghadapi nilai tertera di rapor tahunan, yang tanpa sadar menjadi perundungan bagi anak didik.
Teringat masa saya dulu, jalan kaki, pulang tak dijemput pula, penerimaan rapor tidak harus sedetail kurikulum yang juga masih mengalami stagnansi, tidak mengubah secara signifikan. Baik kecerdasan kognitif dan pengembangan kreasi anak didik itu sendiri. Apatahlagi kehadiran ayah ibu di sekolah saat penerimaan rapor.
Kini hanya ajang pamer saja, dengan dalih agar ada interaksi guru dan orang tua, sementara sebagian orang tua malu, tidak terbiasa, bercampur takut akan perundungan terhadap anak dan dirinya sendiri secara tidak sengaja, saat nilai rapor anaknya jauh di bawah.
Parenting bede! Tapi tidak ada tukar menukar pola didik, yang ada tukar menukar dan takar nilai pakaian, kehidupan, serta seribu rangkaian pengakuan identitas sosial.
Saya hanya menghantar Argan, seperti biasa jauh dari gerbang sekolahnya. Agar tidak lagi menyaksikan anak cium tangan secara terpaksa, tetapi tak ada reaksi kehangatan beberapa guru menjemput di gerbang. Sering menyaksikan ini.
Sementara Argan tidak pernah saya harus paksa secara brutal, harus ini dan itu, sebab dia punya karakter, dan cara mengolah perannya sebagai anak. Mau cium tangan kepada saya, mau tunduk dan seolah patuh tapi hanya “tundu’-tundu’ pulando” istilah makassarnya. Saya tidak ingin itu klise. Seperti yang kusaksikan fenomena sekarang hampir separuh orang-orang hanya klise.
Ini bukan tidak sepenuhnya sepakat terhadap kurikulum, dan tambahan program bernama “Ayah ke Sekolah”. Tapi semakin ke sini, sejubel dan sebundel istilah, nama dan kreasi. Justru menambah ribet saja. Itu menurut saya. Seolah terlihat “wah”, tetapi ending dan mengejewantahkannya terkesan “Weh”!
Pada akhirnya keputusan itu hadir, meski pada raut wajah Fahrul tidak sepaham. Tapi dia tidak terbiasa dengan harus memaksakan kehendaknya. Sengaja saya latih untuk mengubah perasaanya, menjadi kekuatan mentalitas, yang saya tahu dia mudah goyah, tapi cara saya berbeda, melatihnya untuk tidak cengeng menghadapi belantara kehidupan selanjutnya.
Sebuah laman menyuguhkan, di mana gerakan ayah ke sekolah adalah sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi ayah dalam pendidikan anak-anak mereka.
Katanya! Program ini mendorong ayah untuk menemani anak-anak mereka ke sekolah, berinteraksi dengan guru dan orang tua lainnya, serta terlibat dalam kegiatan sekolah.
Tujuan ayah ke sekolah diurai, dengan cekungan kalimat lantip: Meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, meningkatkan partisipasi ayah dalam pendidikan anak-anak, meningkatkan hubungan antara ayah dan anak-anak. Serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Wets.
Pertanyaan saya apakah dengan demikian, Gerakan Ayah ke Sekolah dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk generasi yang lebih baik?
Seribu tanya dalam benak saya, apa hubungannya ayah ke sekolah, serta menghadiri penerimaan rapor? Lalu bagaimana jika diantara mereka ada seorang anak mengalami kehilangan, tidak lagi bersama, hanya dibesarkan oleh seorang ibu, lalu bagaimana membendung perasaan anak tersebut? Itulah perundungan secara berjamaah sesungguhnya yang amat kejam menurut saya.
Mengapa semakin ke sini dunia pendidikan seperti parodi saja, serta penuh kerusuhan sistim yang kocak.
Kenapa rentetan aturan, di periode sesuai alur visi misi pemimpin berganti? Padahal itu hanya peristiwa berulang. Pendidikan bagai diperah untuk sekadar mencari alasan untuk sebuah kepentingan sesaat. Sementara katanya pakar, tokoh, akademisi sang perancang kurikulum ini toh kebablasan pula, tidak cukup mampu mengatasi keterpurukan pendidikan di Indonesia.
Ini hanya ibarat konten dalam sebuah kontestasi, minim prestasi dalam mewujudkan pendidikan yang lebih bermutu untuk menghadapi peradaban yang begitu pesat menghantui dan memenuhi kolom-kolom budaya, sosial, ekonomi dan politik. Kebijakan hanya berpijak pada kepentingan serta kesenangan.
Alasan mendasar, karena sistem pendidikan kita sering berubah. Maka begitulah adanya, kadang-kadang hanya sebatas slogan, misalnya saat itu bernama kurikulum 2013, yang katanya lebih baik, lebih modern, terus ada namanya pendidikan karakter: Jadikan anak-anak kita lebih baik.
Tetiba muncul lagi gebrakan baru bernama Guru Penggerak: Katanya Guru yang inspiratif, siswa yang hebat. Lalu di antara ada istilah lagi Merdeka Belajar: Katanya Belajar bebas, tapi tetap berkualitas, padahal di antara oknum diskusinya hanya sertifikasi, dan bagaimana memburu jam mengajar, malas mengasah diri dan belajar.
Argan telah tiba di sekolahnya sepagi tadi saya antar, kemungkinan pula sudah menerima raport, atau bermain dengan teman sesama pemalu dan golongan strata sosial menengah ke bawah. Sambil memicingkan matanya ke arah bola yang dia bawa dari rumah yang dia taruh dalam tasnya.
Atau Argan bermain sambil mengatur jajannya, yang kali ini hanya dengan uang pecahan selembar seribuan dan selembar lagi dua ribuan.
Sambil menunggu masa debaran itu, saat sekolah memprogramkan kehadiran ayah di sekolah, kali ini Argan didampingi ibunya. Dalam seribu kecemasan bagaimana menerima hasil nilai dalam rapornya. Tanpa Ayahnya yang sedang bertaruh peluh di rantau, berjuang menafkahinya, plus saya yang selalu bersamanya.
Saya membayangkan Argan merasakan gumpalan awan mendung membenturkannya, bagai di persimpangan antara dua sisi kenyataan dan situasi dia harus hadapi. Saat penerimaan rapor yang mengharuskan ayahnya hadir, dan dia harus hadapi perasaannya, mentalitasnya sendiri.
Maka dia harus menempuh dirinya, memaksakan tegar, menerima dengan tidak merasa larut dalam sedih tak berarti itu, yang tidak seharusnya dia sedihkan, keluar dari sifat cengengnya walau kadang juga suka cengengesan. Di situlah kurikulum yang saya titipkan kepadanya.
Rapor telah diterimanya, digenggamannya dia bawa pulang, melewati seribu kecemasan, di mana sesungguhnya tidaklah sepadan tentang realitas serta seribu tetabuan melengkapi hidupnya pada lingkungan budaya nilai di antara angka-angka.
”Tanreja namminra nyawana, lanri anrena manggena angngurangi anhtarina raporna, surang tanre tongja naranggasela, anre tongja akkusiang. Naerang belo-belomami“.
Sumber gambar: Gemini

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply