Pemuda dan Sejarah: Refleksi Pemikiran Barlop

Suatu ketika, Prof. Dr. Baharuddin Lopa (sering disingkat Barlop) ditanya tentang kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda. Alih-alih menyoroti isu hukum atau korupsi yang menjadi bidang keahliannya, Barlop; sapaan akrab beliau, justru mengungkapkan kegelisahan yang tak terduga: generasi muda kehilangan arah karena tidak memahami sejarah bangsanya sendiri.

Pernyataan ini mengejutkan, namun menyimpan makna yang dalam. Bagi Barlop, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas suatu bangsa. Ia menegaskan, “Ketika generasi kita tidak paham sejarahnya, dia akan berpotensi kehilangan identitas. Saat kehilangan identitas, dia akan kehilangan bangsanya beserta kearifannya.”

Pandangan ini mencerminkan keyakinan bahwa sejarah adalah akar dari identitas kolektif. Tanpa pemahaman sejarah, generasi muda akan kehilangan orientasi: tidak tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai-nilai apa yang membentuk masyarakatnya. Ketika identitas menjadi kabur, masa depan pun menjadi rapuh.

Kekhawatiran Barlop kini terasa semakin relevan. Di berbagai perguruan tinggi, jurusan sejarah kian sepi peminat karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Sejarah dipandang sebagai cerita masa lalu yang usang, bukan sebagai cermin untuk memahami masa kini dan menata masa depan.

Lebih jauh, Barlop menyoroti bahwa kehilangan sejarah berarti kehilangan kemampuan untuk berdialog dan berbaur dalam keberagaman. Ketika identitas menjadi kaku dan tak bisa dinegosiasikan, yang muncul adalah pengentalan identitas; sebuah kondisi yang menghambat ruang dialog. Padahal, dialog adalah pintu utama menuju pembauran dan harmoni sosial.

Dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat, dikenal konsep tallu cappa (tiga ujung) yang melambangkan keberanian, kehormatan, dan kebijaksanaan. Konsep ini mencerminkan identitas yang cair dan adaptif, yang memungkinkan masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur tanpa menutup diri dari perbedaan. Inilah bentuk kearifan lokal yang lahir dari pemahaman sejarah dan budaya sendiri.

Kesadaran sejarah tidak hanya dibentuk oleh institusi pendidikan, tetapi juga oleh keluarga sebagai tatanan sosial pertama. Rumah adalah ruang awal tempat nilai-nilai diwariskan. Ketika keluarga mulai abai terhadap sejarah, proses pewarisan nilai pun terputus. Generasi muda akan tumbuh tanpa akar, mudah terombang-ambing oleh arus zaman yang serba instan dan dangkal.

Kini, bangsa kita dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menghidupkan kembali kesadaran sejarah di tengah generasi muda? Bagaimana menjadikan sejarah bukan sekadar mata pelajaran, tetapi sebagai napas kehidupan berbangsa? Tanpa pemahaman sejarah, cinta tanah air akan menjadi semu, rapuh dan mudah luntur.

Pada akhirnya, bangsa yang besar tidak hanya dibangun dari hukum yang tegas dan ekonomi yang kuat, tetapi juga dari ingatan yang terjaga. Sejarah adalah cahaya yang menuntun arah, tempat kearifan bertumbuh. Tanpa keduanya, kita hanya membangun tubuh tanpa jiwa; bangsa berdiri, tapi kehilangan makna.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *