Koridor dan ruang kelas di tengah hiruk-pikuk sekolah. Sekotah pelajar berjalan tergesa-gesa. Ransel bertengger di punggung berisi buku pelajaran. Sebagian sibuk bercanda, ada pula yang menunduk memeriksa layar ponsel. Dari mereka, tampak isyarat kecil, masa depan bangsa sebenarnya sedang menghidu mereka. Penuh energi, tanya, dan kemungkinan.
Namun, muncul hal lain, sering luput dari sorotan: bagaimana para pelajar memahami keberagaman di sekitar mereka?
Medio akhir tahun, Kemenag Bantaeng, 13-14 Desember 2025, menghelat Kemah Moderasi Gelora (gerakan leadership remaja lintas agama) di Lapangan Parela Dampang, Kecamatan Gantarangkeke, Bantaeng. Sekira 50 pelajar selaku peserta, berasal dari madrasah aliyah se-Kabupaten Bantaeng. Pun, perkemahan ini sebagai rangkaian pelaksanaan Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag Agama RI. Dibuka langsung oleh H. Misbahudin, Kepala Kantor Kemenag Bantaeng. Temanya, “Memperkuat moderasi, membangun kepemimpinan menuju generasi emas 2045”.
Paling tidak ada, ada dua alasan saya percaya diri, untuk mengiyakan permintaan penyelenggara perkemahan moderasi beragama. Khususnya bercuap-cuap di depan pelajar, meski pelantang suara menjangkau seluruh area perkemahan. Saya didapuk memantik materi sajian dalam dua sesi, seputar literasi moderasi beragama dan kepemimpinan pelajar Indonesia Emas 2045.
Pertama, pengalaman sebagai seorang pelajar sejak sekolah dasar, hingga perguruan tinggi. Kala bersekolah di SD No. 2 Lembang Cina Bantaeng (1973-1979) saya sudah sekelas dengan teman berbeda suku dan agama. Masuk SMP Neg. 1 Bantaeng (1979-1982) dan SMA Neg. 1 Bantaeng (1982-1985), lebih beragam lagi, selain beda suku dan agama, juga ada pengalaman baru, sekelas dengan etnik Tionghoa. Bahkan, lebih dari itu, ketika ke Makassar untuk kuliah, lebih beranekacorak keragaman dalam beragama.
Pada poin semacam itu, di ruang kelas, diisi beragam latar keluarga, keyakinan, dan pengalaman, sebenarnya sedang berlangsung latihan paling penting untuk Indonesia masa depan. Sebentuk pengalaman buat menjadi manusia, agar mampu hidup bersama, tanpa saling mencurigai. Konten dan konteks semisal ini, literasi moderasi beragama menemukan rumahnya.
Kedua, fakta objektif Kabupaten Bantaeng, sering saya dapuk sebagai miniatur kebhinekaan dalam suku, ras, dan agama. Sebagai anak negeri, lahur, tumbuh dan berkembang di Bantaeng, sudah terbiasa dengan perbedaan. Bayangkan, di kota kecil ini, ada 3 gereja (Katolik, Protestan, dan Pantekosta), hidup berdampingan dengan tempat ibadah lainnya. Dan, satu hal perlu dicatat, di Bantaeng belum pernah ada konflik berlapik agama, khususnya muslim dan non-muslim.
Bagi anak negeri seperti saya, bisa bilang, bahwa moderasi beragama, bagi sebagian orang, mungkin terdengar sebagai istilah canggih nan melangit, seperti konsep yang hanya cocok dibahas dalam seminar atau ruang akademik.
Padahal, jika ditarik ke akar paling dasarnya, moderasi beragama merupakan perkara keseharian, terkait cara memperlakukan teman sekelas berbeda keyakinan, tingkah menahan kata-kata sebelum memancing perpecahan, dan laku iman dipeluk bukan alasan buat merendahkan orang lain.
Moderasi tidak bicara tentang “memperlemah” agama, tetapi justru menguatkan akarnya: akhlak, cinta sesama, dan kebijaksanaan. Persis seperti jembatan penghubung nilai keimanan seseorang dengan kehidupan sosialnya. Setiap orang boleh berjalan di jembatan itu, sembari membawa keyakinan masing-masing. Paling penting, jangan merobohkan jalannya, hanya karena orang lain melintas dengan cara berbeda.
Bagi pelajar, sepantasnya mengintimi literasi moderasi beragama, serupa kemampuan membaca keberagaman berlapik hati seluas halaman sekolah. Itu bukan sekadar “tahu” bahwa Indonesia terdiri dari berbagai agama, tetapi “mengerti” bagaimana keberagaman itu harus dirawat. Di era di mana informasi berseliweran begitu cepat, kemampuan memahami pesan positif dan negatif, menjadi keahlian baru, harus dimiliki generasi muda.
Singkatnya, tatkala muncul pertanyaan, apa itu moderasi beragama? Jawabannya sederhana saja, sebentuk cara memahami dan mengamalkan ajaran agama secara adil, seimbang, dan tidak berlebihan. Azasnya bertopang empat pilar utama moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal.
Indonesia Emas 2045 sering diimajinasikan sebagai masa ketika negeri ini berdiri tegak, maju, dan dihormati. Namun, mari jujur sejenak, Indonesia emas tidak akan datang hanya dengan membangun gedung tinggi atau jalan-jalan baru. Ia membutuhkan manusia emas, sewajah manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara iman dan akal, antara keyakinan dan kemanusiaan.
Defenitnya, pelajar memainkan peran tak tergantikan. Mereka sekaum generasi, tumbuh dengan telepon pintar di tangan, berjejaring secara digital, dan terbiasa melihat dunia dalam hitungan detik. Namun, teknologi tanpa kebijaksanaan, hanya akan melahirkan kecepatan tiada kedalaman. Moderasi beragama memberikan kedalaman itu: ia mengajak pelajar untuk berhenti sejenak, berpikir, dan mempertanyakan, apakah pesan diterima, membantu memperkuat persaudaraan atau justru membakarnya?
Membangun Indonesia Emas bermakna membangun kemampuan buat hidup bersama, tanpa saling meniadakan. Dan itu hanya mungkin, jika sejak bangku sekolah, pelajar mulai terbiasa dengan tiga hal sederhana: menghormati, mendengar, dan memahami.
Pelajar separas cermin masa depan. Jika cerminnya retak hari ini karena intoleransi, Indonesia akan berjalan dengan wajah tergores. Namun, bila cermin itu jernih—karena kebiasaan merawat keberagaman—maka Indonesia akan tumbuh sebagai bangsa kuat dan sulit dipecah belah.
Literasi moderasi beragama bagi pelajar, bukan lagi sebatas program pemerintah. Ia senapas kebutuhan hidup, sama seperti pelajaran matematika atau bahasa. Bedanya, moderasi mengajarkan cara menghitung hubungan antarmanusia, dan mengajarkan bahasa persaudaraan. Kosakatanya simpel, tetapi sering dilupakan: empati, hormat, dan kesabaran.
Pelajar hari ini, mungkin belum memegang jabatan atau memimpin organisasi besar, apalagi negara. Tetapi mereka sedang memimpin diri sendiri. Dan, kepemimpinan paling dasar, berupa kemampuan mengendalikan prasangka, menahan diri agar tidak menyebarkan kebencian, dan memilih buat memperbaiki bukan merusak. Jika pelajar bisa melakukan itu, berarti mereka sudah lebih dari siap menyambut Indonesia Emas 2045.
Di masa depan, mereka akan menjadi guru, dokter, pemimpin daerah, pebisnis, wartawan, atau bahkan pembuat kebijakan. Keputusan-keputusan mereka kelak, akan sangat dipengaruhi oleh nilai yang mereka rawat sejak sekolah. Bila nilai itu berwujud toleransi dan kebijaksanaan, maka Indonesia Emas bukan lagi angan-angan: ia tinggal menunggu dijemput.
Moderasi beragama, pada akhirnya, bukan milik para ahli. Ia milik semua orang, termasuk pelajar yang setiap hari duduk di kelas dengan seragam sama, tetapi latar cerita berbeda. Ketika pelajar bisa melihat perbedaan sebagai kekuatan dan bukan ancaman, mereka telah melakukan sesuatu, jauh lebih besar daripada nilai ujian mana pun: mereka sedang menjaga republik ini tetap utuh.
Indonesia Emas lahir dari hati moderat, pikiran jernih, dan tindakan menghormati sesama. Dan, perjalanan itu dimulai hari ini, tepatnya di sekolah, koridor dan ruang kelas, maupun obrolan kecil antara teman-teman. Berlapik hal-hal sederhana, waima sering dianggap remeh.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply