Ada satu emosi yang tampak pribadi, tetapi sesungguhnya mengalir dari struktur sosial yang lebih luas: “rasa bersalah“. Ia seperti bayangan yang mengikuti perempuan ke mana pun ia pergi: ke ruang kerja, ke ruang keluarga, ke ruang batin. Ia kita rasakan seolah muncul dari dalam diri, padahal sering kali ia dibangun dari luar.
Nawal El Saadawi berulang kali menekankan bahwa salah satu mekanisme paling efektif dalam mengontrol perempuan bukanlah kekerasan fisik, melainkan konstruksi psikologis. Dan di antara konstruksi itu, rasa bersalah adalah yang paling licik. Ia bekerja diam-diam, lembut, dan sangat meyakinkan.
Dalam konteks ini, self-love feminis harus berani membongkar: dari mana rasa bersalah itu sebenarnya berasal?
Rasa Bersalah yang Tidak Kita Ciptakan Sendiri
Sejak kecil, banyak perempuan belajar bahwa mereka harus: meminta maaf karena terlalu banyak bicara, meminta maaf karena dianggap terlalu keras, meminta maaf karena tidak cukup lembut, meminta maaf karena mengejar mimpi yang “tidak feminin”, meminta maaf karena ingin istirahat, meminta maaf bahkan ketika tidak bersalah. Dan yang paling menyakitkan adalah perempuan belajar meminta maaf karena tidak memenuhi ekspektasi orang lain, bukan karena pelanggaran moral yang nyata.
Rasa bersalah seperti ini sesungguhnya bukan refleksi etika pribadi; ia adalah alat politik yang menjaga struktur tetap berjalan tanpa perlawanan.
Ketika Sistem Membutuhkan Perempuan Merasa Salah
El Saadawi mengurai bahwa dalam masyarakat patriarkal dan oligarkis, perempuan ideal adalah perempuan yang patuh. Bukan karena mereka tidak mampu berpikir, tetapi karena sistem membutuhkan mereka untuk tidak mengganggu status quo.
Dan cara paling efektif untuk membuat seseorang tetap patuh adalah membuatnya: meragukan dirinya, takut mengecewakan, takut terlihat egois, takut dianggap kurang baik. Dengan kata lain, sistem membutuhkan perempuan merasa salah bahkan sebelum melakukan apa pun.
Rasa bersalah menjadi pagar tak kasat mata yang menjaga perempuan tetap berada di jalur yang “aman”, baik bagi struktur kekuasaan maupun bagi kenyamanan sosial.
Self-Love sebagai Proses Mendeteksi Sumber Rasa Bersalah
Dalam self-love journey, salah satu langkah paling menentukan adalah memisahkan dua hal: rasa bersalah yang muncul dari nilai moral pribadi, seperti menyesali sikap menyakiti orang lain; rasa bersalah yang ditanamkan untuk mengendalikan, seperti merasa jahat karena ingin merawat diri, memiliki pilihan berbeda, atau sekadar ingin hidup damai.
Perempuan sering dihukum bukan karena berbuat salah, tetapi karena berani mengambil ruang. Oleh karena itu, self-love meminta perempuan untuk bertanya dengan jujur: “Apakah aku merasa bersalah karena benar-benar bersalah, atau karena aku melanggar ekspektasi yang tak pernah kuizinkan mengaturku?”
Pertanyaan itu sederhana namun radikal, ia menggeser pusat kendali dari luar ke dalam diri. Aku pernah merasakan ini saat memutuskan mengakhiri sebuah hubungan pernikahan yang masih dianggap sebuah aib dalam keluarga. Sementara menurutku, itu adalah hakku, aku memegang kendali atas hidupku sendiri dan semua yang terjadi di dalamnya. Aku tidak perlu merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi ekspektasi orang banyak.
Membebaskan Diri dari Rasa Bersalah yang Diwariskan
Proses pembebasan ini tidak mudah. Rasa bersalah bukan sekadar emosi; ia adalah warisan lintas generasi.
Kita melihat ibu kita merasa bersalah saat: tidak bisa menyajikan makanan enak untuk keluarga, menunda pekerjaannya karena ingin beristirahat, berkata tidak pada beban yang tidak manusiawi. Kita belajar bahwa perempuan baik adalah perempuan yang terus mengorbankan diri, hingga mereka kehilangan dirinya. Dan aku tidak mau itu semua terjadi padaku, karena anak-anakku membutuhkan seorang ibu yang mengenal dirinya sendiri, bukan berpura-pura baik-baik saja dan melupakan dirinya yang sebenarnya.
Self-love feminis tidak menghina pengorbanan, tetapi menolak pengorbanan yang diwajibkan. Ia mengajarkan perempuan bahwa: merawat diri bukan egois, menetapkan batas bukan durhaka, mengejar impian bukan pembangkangan, hidup atas kehendak sendiri bukan dosa.
Dalam pemikiran El Saadawi, seorang perempuan yang tidak lagi dikuasai rasa bersalah adalah perempuan yang sepenuhnya merdeka. Dan aku ingin menjadi perempuan yang merdeka.
Dari Rasa Bersalah Menuju Kesadaran Diri
Ketika perempuan membongkar rasa bersalah yang ditanamkan, ia membuka ruang bagi kesadaran baru: bahwa hidupnya bukan utang kepada siapa pun, bahwa keberaniannya valid, bahwa kebutuhannya penting, bahwa suaranya layak untuk dihargai. Inilah yang membuat penyembuhan perempuan menjadi tindakan politis. Karena setiap kali seorang perempuan berdiri tanpa rasa bersalah yang keliru, struktur yang semula mengontrolnya mulai retak.
Self-love pada akhirnya, adalah pembebasan batin dari politik rasa bersalah. Dan pembebasan batin, seperti kata El Saadawi, selalu merupakan awal dari pembebasan sosial.
Adapun Fokus Self-love:
✓ Mengenali rasa bersalah yang berasal dari kontrol sosial, dan memastikan bahwa itu bukan dari hati nurani.
✓ Berani bertanya: “Siapa yang diuntungkan ketika aku merasa salah?”
✓ Melepaskan identitas “perempuan baik” yang dibentuk oleh ekspektasi orang lain.
✓ Menetapkan batas tanpa merasa jahat atau egois.
✓ Mengganti rasa bersalah palsu dengan kesadaran diri: aku berhak memilih hidupku sendiri.
✓ Menjadikan kejujuran pada diri sendiri sebagai bentuk pembebasan batin.

Lahir dan besar di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada Program Studi Statistika, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan pendidikan S2 pada Jurusan Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar.
Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, Atte aktif menulis karya-karya fiksi yang sarat makna kehidupan. Novel-novel yang telah diterbitkannya antara lain: Titisan Cinta Leluhur, Djarina, Surat Cinta untuk Djarina, dan Sang Anak Guru. Juga sebuah Otobiografi berjudul Menuju Jalan Pulang.
Ia percaya bahwa setiap tulisan adalah doa yang menjelma kata, dan setiap kisah yang lahir dari hati akan menemukan pembacanya sendiri.


Leave a Reply