“Man Yasra Yahshud; Siapa Saja Yang Menanam Pasti Akan Memetik.”
Siapa sangka peristiwa naas itu datang tiba-tiba. Beberapa dekade belakangan ini, negeri kita sering dilanda bencana alam. Meski pemerintah merencanakan upaya mitigasi, tetap saja, bencana itu datang memporak-porandakan pranata hayati.
Di pengunjung November 2025, khalayak dikagetkan berita bencana banjir bandang, terjadi di wilayah Sumatera, khusunya Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Belajar dari peristiwa sebelumnnya, dampak banjir bandang membawa pilu, kehilangan sanak keluarga, harta benda, rusaknya fasilitas umum, dll.
Dari seluruh catatan peristiwa bencana alam, kategori bencana banjir (Hidrometeorologi) paling mendominasi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. BNPB merilis, terjadi 2. 726 peristiwa bencana alam, selama satu dekade belakangan ini, faktornya, selain cuaca ekstrem, ditambah lagi, kerusakan hutan secara besar-besaran.
Peristiwa banjir bandang melanda Aceh dan Sumatera, persis sama dialami daerah lainnya, namun, kali ini, tingkat keparahan banjir Aceh dan Sumatera lebih besar dibanding wilayah lain. Peristiwa banjir ini, menyingkap kembali ingatan bencana tsunami 21 tahun silam di Aceh. Banyak orang mengatakan, banjir bandang kali ini, semacam tsunami kedua di Aceh.
Setiap banjir bah terjadi, menimbulkan tanda tanya, apa penyebab, hingga alam murka pada pengguninya. Padahal, jauh-jauh hari pemerintah sudah mengabarkan potensi cuaca ekstrem, serta langka antisipasinya. Namun, peristiwa naas selalu saja terjadi.
Cuaca ekstrem yang sering terjadi penghujung tahun, bukanlah satu-satunya penyebab banjir raya, berbagai faktor pendukung ikut menyertai. Perlakukan manusia terhadap alam sangat mempengaruhi keseimbangan ekosistem, jika hal ini tak disadari, maka, bencana alam akan terus terjadi setiap waktu.
Sudah saatnya, perspektif pembangunan berangkat dari kesadaran ekologis, pemahaman mendalam tentang hubungan antara tindakan manusia dan dampaknya pada lingkungan. Kesadaran ini mendorong sikap hormat, tanggung jawab dan selaras dengan alam, bukan mendominasi, apalagi, menganggap alam arena penaklukan.
Manusia dan alam bagian integral tak terpisahkan. Posisi alam sejak diciptakan, tak pernah menempatkan dirinya sebagai lawan, kenyataanya, manusia lah menciptakan jarak. Ketika gunung digerogoti tambang, hutan digusur demi lahan, sungai penuh limbah, tanah dieksploitasi seenaknya, maka, bukan alam saja yang rusak, kehidupan manusia akan ikut rusak.
Kesadaran bahwa kita bagian dari alam, seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Memanfaatkan alam secukupnya dan tidak berlebihan, adalah tindakan cerdas menjaga batas-batas yang tidak tampak. Kedudukan manusia bukan raja, melainkan penjaga keseimbangan alam. Tak satu pun teknologi dapat mengantikan alam (tanah, air, udara dll). Sehingga, keselamatan manusia bukan karena dominasinya terhadap alam, melainkan, hidup selaras dengan alam.
Menelisk kehidupan manusia dan alam, Maurice Merleau-Ponty, filsuf Prancis terkemuka abad 20, mendedahkan pemikiran ekofenomologinya, baginya, manusia tidak sebatas memahami dunia lewat akalnya yang mengapung di luar tubuh, tetapi, lewat pengalaman tubuh-hidup (lived body/le corps propre), artinya, tubuh bukan objek, melainkan subjek pertama yang berjumpa dengan dunia.
Masih menurut Ponty, pola hubungan manusia dan alam dialami secara langsung melalui gerak, ambang rasa, orientasi, dan ritme tubuh. Hal ini membedakan dengan pemikiran Cartesian dualism (tubuh vs pikiran). Sebelum kita berpikir, menganalisis, atau memberi nama, kita sudah lebih dulu mengalami. Inilah yang membuat teori Ponty relevan terhadap etika lingkungan.
salah satu konsep paling penting dalam filsafat Maurice Merleau-Ponty, bahwa, manusia dan bumi itu saling-mengada (intertwining/chiasm). Manusia dan bumi tidak berdiri berhadap-hadapan, tetapi, saling menjalin seperti dua benang yang bersilangan dan membentuk satu anyaman.
Manakala kita berada di tengah-tengah alam sekitar, dengan sendirinya alam membentuk cara kita melihat, merasakan dan merespon segala yang melekat pada alam. Kesemuanya adalah hubungan timbal balik, bukan dominatif.
Konsep ekofenomenologi Ponty membongkar cara berpikir modern memisahkan manusia dan alam. Sejatinya, manusia bukan penonton, atau pengamat yang berdiri di luar. Kita adalah bagian dari tekstur dunia, menghirup udara yang sama, bergerak dalam ruang yang sama, diikat oleh “daging dunia” yang sama.
Banjir bandang di Aceh dan Sumatera, bukan hanya peristiwa alam tetapi ketidakseimbangan hubungan cara kita hidup dan cara alam merespon. Melalui konsep ekofenomologi Ponty, membantu kita meneropong kerusakan lingkungan, bukan hanya faktor cuaca ekstrim, melainkan keretakan relasi antara tubuh-hidup manusia dan tubuh-hidup bumi.
Intinya, ekofenomelogi Ponty, menyimpulkan, dunia yang kita sentuh juga “menyentuh” kita. Hubungan manusia dan alam selalu dua arah, saling memanggil, saling mempengaruhi. Di sinilah benih Ekofenomenologi: alam bukan objek pasif, tetapi mitra dalam jaringan relasional pengalaman.
Sudah waktunya, kita melihat bencana alam yang sering terjadi, bukan karena hukuman alam, tetapi, konsekuensi dari relasi yang timpang. Bencana ini, seolah dunia kembali meyeimbangkan dirinya, sementara manusia berada di jalurnya.
Sudah saatnya pula, kebijakan deforestasi ditinjau kembali. Ketika hutan ratusan tahun digunduli, itu sama halnya mencabut keintiman terhadap bumi. Kita tidak lagi mendengar suara daun jatuh dari pepohonan, melihat air mengalir dari bebatuan, atau ritme musim yang menjadi cara hidup dari nenek-nenek kita. Ketika hal itu masih berlangsung, hubungan kita selamanya rapuh.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply