Sekira 10 tahun belakangan ini, setiap bulan Desember, baik saat menjelang peringatan Hari Jadi Bantaeng, maupun sesudahnya, saya amat suka mengintimi perkara-perkara berdimensi Butta Toa sebagai julukan Kabupaten Bantaeng. Selain bersilaturrahmi dengan budayawan, tetua negeri, juga amat intens mengeja karya-karya literasi terkait masa silam Bantaeng. Bentangan masanya cukup panjang untuk dintimi, sejak zaman Orang Toala, hingga kiwari.
Beberapa tahun lalu, ada seorang ASN yang bertugas di Balitbang Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, La Sakka, memasuki purna tugas alias pensiun. Uniknya, ia betul-betul memensiunkan dirinya dari kerumitan penelitian dan sejenisnya. Buktinya, seluruh buku-bukunya diserahkan kepada koleganya untuk dirawat. Koleganya itu adalah kawan baik saya, sehingga ia menawarkan pula kepada saya sebagian dari koleksi tersebut.
Bagi saya yang bersetubuh dengan geliat literasi, mengibaratkan diri mendapatkan durian runtuh. Ada empat koli kardus besar diberikan kepada saya. Sebagian saya teruskan menjadi wakaf buku di beberapa komunitas dan perpustakaan, termasuk Perpusda Bantaeng, selebihnya menjadi bahan bacaan di Paradigma Institute. Dilalah-nya paling tidak, saya mendapatkan beberapa buku, laporan penelitian, maupun dokumen tentang Bantaeng.
Apa yang saya dedahkan terkait dengan Petta Tjalleng kali ini, rujukan utamanya saya lapikkan pada satu duplikat skripsi warisan dari La Sakka berjudul, “Peranan Petta Tjalleng Daeng Magguliling dalam Mengembangkan Islam di Bantaeng”. Skripsi setebal 60 halaman ini, ditulis oleh Andi Tenri Abeng, sebagai syarat mencapai gelar Sarjana Agama Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, pada Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang, tahun 1997.
Sewaktu mendaras skripsi tersebut, saya penasaran dengan penulisnya. Pasalnya, saya ingin menulis satu esai tentang Petta Tjalleng, berdasarkan skripsi ini, sebagai jangkar utama hasil riset plus beberapa informasi dari literatur lainnya. Facebook jadi dewa penolong. Saya merambah mencari nama Andi Tenri Abeng, yang menampilkan beberapa akun. Rezeki anak saleh menyata, saya bisa baku kontak dengan sang penulis via Facebook, lalu lanjut WhatsApp. Ada percakapan seputar skripsinya, tetapi lebih dari itu, saya uritakan bahwa saya bakal menulis satu esai, berlapik skripsinya. Sekadar ikut mengenal sang penulis skirpsi, saat ini menjadi guru di SMP Neg. 2 Tompobulu Bantaeng.
Butuh ketelatenan tersendiri buat menjadikan skripsi tersebut menjadi secarik esai. Namun, karena semangat mengabadikan produk literasi, sekotah perkara bisa saya atasi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekadar penguat, skripsi ini selain melakukan riset literatur, juga mewawancarai beberapa orang tokoh. Ada satu naskah unik sebagai rujukan, “Mengenal Rantai Keluarga Petta Tjalleng Daeng Magguliling”, di tulis oleh Tim Penyusun, terbit di Bantaeng tanpa tahun.
Baiklah, saya mengimajinasikan saja Bantaeng di masa 1800-an. Sesarinya, ada tokoh-tokoh yang lahir bukan hanya untuk memikul nama keluarga, tetapi untuk menampung aliran panjang sejarah yang bertemu di urat nadi mereka. Petta Tjalleng Daeng Maggulliling atau La Tjalleng Daeng Magguliling merupakan salah satu yang dihadirkan sejarah seperti itu. Ia lahir di Bantaeng sekitar 1792, pada masa pemerintahan Karaeng Bantaeng ke-18, I Bagala Daeng Mangnguluang To Nijalloka ri Kajang. Namun, kelahirannya bukan sekadar catatan kecil dalam silsilah. Ia seperti simpul tempat empat kerajaan besar—Luwu, Bone, Gowa, dan Bantaeng—menautkan takdirnya.
Dari garis ayahnya mengalir darah Luwu dan Bone: cucu dari putri Raja Luwu ke-18 dan pewaris Raja Bone ke-22, La Temma Songe, yang pernah dibuang ke Buton, kemudian dipanggil kembali untuk menaiki takhta setelah Batari Toja mangkat tanpa keturunan. Dari garis ibu, We Tenri Kingking, ia mewarisi darah Gowa dan Bantaeng, pewaris Daengta Karaeng Bodowa, keturunan langsung dari I Manggada Cinna, mangkubumi Gowa yang masyhur.
Ketika Petta Tjalleng mulai tampil sebagai tokoh, Hindia Belanda telah lama bercokol sejak Perjanjian Bungaya (1667). Namun ia bukan pejabat yang patah oleh kolonialisme. Ia justru menjadi jembatan antara raja, Dewan Adat XII (Ada’ Sampulo Ruwa), dan pemerintah kolonial. Ketika ia diusulkan menjadi Jennang Lembang menggantikan ibunya, Daeng To Kingking, tak ada satu pun pihak menolak. Sebagai Jennang, ia menjadi Bali Cidonna, pendamping raja yang memikul tugas-tugas halus: mengatur pasar, pertanian, perdagangan, mengusulkan ahli-ahli tanam dari luar, dan menjaga keseimbangan masyarakat ibu kota kerajaan.
Keberhasilannya membuat pemerintah Belanda mengusulkannya pula untuk menjadi Sullewatang. Jabatan ini memperluas sayap tanggung jawabnya hingga ke luar ibu kota: mengawasi kepala kampung, menjaga keamanan, dan ikut mengolah keputusan politik kerajaan. Di sisi lain, ia juga memegang jabatan Pysikala—pengendali urusan pemerintahan yang menyentuh hubungan antara Bantaeng dan kekuasaan luar.
Tiga jabatan besar—Sullewatang, Pysikala, dan Jennang—bertumpu pada satu orang. Dan Dewan Adat XII pun memberi penghormatan yang jarang diberikan kepada siapa pun: gelar Karaeng Tallu Dongkokanga, pemimpin yang bertumpu pada tiga tonggak kewenangan. Gelar itu bukan sekadar penghargaan, melainkan pengakuan bahwa Petta Tjalleng telah memikul tiga pusat keseimbangan kerajaan sekaligus, seperti tiga kaki yang memastikan Bantaeng tetap tegak di tengah gejolak zaman.
Namun, puncak ujiannya datang ketika Karaeng Bantaeng, I Bagala Daeng Malluluang, terbunuh dalam sengketa dengan Kajang. Bantaeng seperti kehilangan arah. Rakyat, bangsawan, dan adat menoleh pada satu nama yang paling mereka percaya untuk memulihkan martabat negeri: Petta Tjalleng. Ia memimpin pasukan kerajaan, dibantu pejabat Belanda Wo Voor Levron De Vekola, dan memenangkan pertempuran sekitar tahun 1825.
Seusai perang, muncul pertanyaan yang lebih rumit daripada memegang tombak: siapa yang harus menggantikan I Bagala di atas takhta? Semua syarat pada diri Petta Tjalleng terpenuhi—keturunan, wibawa, jabatan, pengalaman, bahkan restu sebagian adat. Namun, di titik inilah kebesaran batinnya tampak paling jelas. Ia menolak kehormatan itu. Ia justru mengusulkan agar janda I Bagala, yakni I Nace, yang naik menjadi Karaeng Bantaeng. Pilihan itu sederhana hanya di permukaan; jauh di dalamnya tersimpan pemahaman mendalam tentang kesinambungan kekuasaan dan kehormatan garis keluarga.
Di saat banyak orang mendambakan kekuasaan, Petta Tjalleng justru menjauhinya demi stabilitas negeri. Ia memilih tetap menjadi penopang, bukan pewaris mahkota. Dan mungkin di sanalah ia berdiri sebagai salah satu negarawan paling matang dalam sejarah Bantaeng.
Pada akhirnya, kisah Petta Tjalleng bukan hanya tentang silsilah atau jabatan—melainkan tentang bagaimana ia menempatkan dirinya dalam pusaran sejarah: tidak rakus pada kuasa, tidak gentar pada perang, dan tidak lupa pada tanah yang melahirkannya. Empat darah kerajaan mengalir dalam tubuhnya, tetapi ia memilih mengabdi kepada satu: Bantaeng.
Dan dari sanalah sejarah mengingatnya—bukan sebagai raja, tetapi sebagai Karaeng Tallu Dongkokanga, pemimpin bertiga tonggak yang membuat Bantaeng tetap tegak meski zaman bergejolak.
Waima, ada juga naskah, dari warisan La Sakka, berjudul “Sejarah Bantaeng Butta Toa”, yang mendapuk Petta Tjalleng memimpin sebagai Raja Bantaeng pada tahun 1825-1826, termaktub La Tjalleng To Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga ri Bantaeng yang bergelar Karaeng Loeya ri Lembang. Masa kepepimpinannya diapit oleh sepasang suami istri, I Bagala Daeng Mangnguluang (1787-1825) dan Daeng To Nace (1826-1830). Wallahu ‘alam.
Catatan: Gambar hanya rekaan ilustrasi dari Chatgpt.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply