Category: Esai
-

Pejalan Pelintas Waktu
“Aku fana dalam Tuhanku, dan Tuhan adalah milikku. Jangan mencarinya ke mana-mana. Dia ada di dalam jiwaku. Aku adalah sang raja, namun aku mengakui pada kalian, bahwa seseorang yang menjadi rajaku, yakni Tuhan.” (Maulana Rumi, Rubai 421) Dunia identik ruang dan waktu, keduanya tak terpisah. Perjalanan waktu tak mengenal akhir perjalanan. Setiap yang ditunggu akan…
-

Antagonis dan Protagonis Sebuah Lakon
Setiap peristiwa, sebagaimana peran yang dijalankan, sebagai pelengkap cerita. Ada sifat, karakter bagi setiap manusia, ada keluar dari cirinya, ada keduanya ia mainkan. Melengkapi kurikulum dunia, manusia dan kehidupan setiap saat, setiap masa bahkan detik. Semua merasa benar dan baik menurut lakon “protagonis dan antagonis”. Secara murni dan jujur memerankan. Maka harus totalitas, profesional. Meski…
-

Kalah Dihormati, Menang Dimuliakan
Kontestasi politik melalui proses pemilihan kepemimpinan di seantero negeri nusantara usai. Figur-figur mumpuni sudah ambil bagian untuk berpartisipasi dalam prosesnya. Masing-masing kandidat, dengan segala daya dan upaya telah dikerahkan untuk memenangkan “pertarungan” itu. Alhasil, setiap pertarungan pasti ada konsekuensinya. Berakhir dengan kemenangan atau berujung kekalahan. Mesti ada perolehan suara yang lebih banyak dari yang lainnya.…
-

Ruang Adaptasi, Persepsi, dan Refleksi
Atau saya kadang kurang jeli melihat secara presisi. Cenderung kesusu. Terbuai, tercederai, terlena, terselip, terpental dengan mental ciut. Pada setiap usaha beradaptasi. Terlalu jujur dalam kebohongan mungkin, atau sebaliknya?Harus mencoba mengubah pola adaptasi, dengan tidak berlebihan lagi, pura gagap dan tidak harus larut menerima guyup. Adaptasi mulai saya batasi. Karena penyakit saya cepat jenuh tatkala…
-

Runut
Bukan tafakur, tetapi bisa saja tetiba saya mendengkur, di tengah temperatur dunia dan manusia yang masih suka sekonyong-konyong. Tidak jua merenungi nasib, sambil merasa bertaubat. Padahal masih sering saya lakukan peran muslihat di antara kerumunan manusia. Secara berkelompok atau secara individu, saya bangun identitas itu. Untuk mengajak manusia lain menerjemahkan lalu menjadi pengakuan. Bukan juga…
-

Surat Kepada yang Telah Pulang: Pak Guru Muhammad Haris
Pak Guru,Aku menulis surat ini dari tempat yang kau tinggalkan, dari ruang yang sering kau penuhi dengan harapan, semangat dan senyummu yang hangat. Biasanya, saya tidak perlu menulis untuk berbicara dengan Anda. Pak guru ada di hadapanku, menyandarkan badan, menyeruput kopi hitam pelan-pelan, lalu memulai percakapan panjang yang hanya berhenti jika ibu aji, istrimu menelepon…
-

Akar Metafisis dari Bencana Alam: Perspektif Epistemologi Irfani
Proses kehidupan yang sering kali diterpa bencana, Indonesia menjadi saksi dari deretan peristiwa yang menunjukkan betapa rapuhnya struktur sosial manusia saat berhadapan dengan gejolak alam. Dalam setahun terakhir (2024), data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.942 peristiwa bencana alam yang melanda nusantara. Mulai dari banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga gempa…
-

Sejarah dan Budaya Hanya Tipu Daya
Sejarah disuplai oleh pemenang, yang kemudian bersenang-senang, meninggalkan kisah sesungguhnya tergeletak sepi, tanpa pusara dan baru nisan (hanya karena literasi yang tidak tersuluhi) lenyap, terkoyak-koyak, dan dijual murah kepada pelaku dan pencatut sejarah. Mengapa harus meredam dentuman meriam Belanda? Agar kita bisa tahu dalang yang mendulang keuntungan sejarah kita. Dengan mahar yang mahal untuk mencari…
-

Jus Durian, eh… Gus Durian
Entah pendengarannya seorang kisanak kurang jelas, atau kata-kata saya tak tangkas, sehingga ajakan saya ke satu hajatan disalah-pahami. Betapa tidak, Gusdurian menghelat haul Gus Dur, dia tangkap sebagai acara makan durian, terlebih lagi bakal minum jus durian. Mungkin kata Gusdurian menjadi biangnya. Apalagi sudah masuk musim durian. Sesarinya, hajatan haul Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid,…
-

In Memorium Sang Penutur Tabe’ Bija
Pak Safar dan Pak Haris. Mereka berdua adalah nama yang tentunya tidak asing bagi semua insan pendidikan di Bantaeng atau mungkin masyarakat biasa yang ada di Bantaeng. Sayangnya, kedua nama ini sudah berjalan lebih dahulu dan pulang ke kampung abadi di sana. Di tahun lalu Pak Safar berjalan lebih dulu. Tahun ini, Pak Haris lah…
