Kayulompoa

Puca dan Angkaeng, dua pohon endemis Bantaeng, ditanam secara simbolis oleh Pj. Bupati Bantaeng, Andi Abubakar, saat Peringatan Hari Bumi Sedunia di Cekdam Balangsikuyu.

Pilihan lantip terhadap pohon endemis, diinisiasi oleh Kadis Lingkungan Hidup Bantaeng, Nasir Awing. Dan, akan digalakkan secara massif untuk ditanam, terutama di daerah aliran sungai, ketika hari lingkungan hidup nanti.

Jujur, kala sang Kadis, Nasir Awing, bercakap-cakap dengan saya sebelum hajatan peringatan dimulai, prihal kedua pohon endemis itu, muncul rasa penasaran. Mengapa? Ada keyakinan saya, sesuatu yang berbau emdemis, pasti banyak kekayaan pengetahuan sebagai latarnya. Naluri pegiat literasi saya bergelora, bagaimana kekayaan pengetahuan ini dimoncerkan.

Dilalah-nya, hasrat saya bertaut dengan ucapan Nasir Awing, bila perlu kita berkunjung ke lokasi tumbuh-kembang Puca dan Angkaeng di Hutan Kota Kayulompoa. Persisnya, di Kelurahan Bontorita, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng.  Sekitar 10-15 menit berkendara ke arah utara dari pusat Kota Bantaeng.

Tidak cukup sepekan sejak Peringatan Hari Bumi Sedunia, janji ke Hutan Kota Kayulompoa akan kami wujudkan pada Sabtu, 27 April 2024. Malamnya, Nasir Awing menjapri saya, “Adajaki besok pagi pak?” Agak larut baru saya jawab, nanti terbangun seputar pukul 01.40, “Iye. Insyaallah”.

Pagi mulai mekar, sekitar pukul 07.00, japrinya kembali masuk, “Jalan ke rumah ta ma ini daeng”. Tak pakai lama, masuk lagi, “Adama di bank sampah daeng.” Tippasa’ juga pak kadis ini. Maksud saya, cekatan dalam perkara waktu alias gercep, gerak cepat. Maklum saja, mungkin terbiasa di lapangan.

Dengan sedikit keteteran, saya imbangi tippasa’na. Perkaranya, tiba-tiba mau beabe, jadi tunaikan dulu. Setelahnya, dengan kendaraan dinas kami bergegas ke lokasi, berdua saja. Sebelum ke lokasi, kami kitari dulu beberapa sudut kota. Tujuannya, mengontrol beberapa titik petugas kebersihan.

Sekitar pukul  9.00, kami sudah tiba di Hutan Kota Kayulompoa. Segera saya terpaku pada papan informasi, dekat pintu masuk. Secara ringkas terdapat  beberapa keterangan, semisal jenis pepohonan, luas areal, skala peta, dan lainnya. Luas kawasan Hutan Kota Kayulompoa kurang lebih 1 hektar persegi. Mulai dikelola dan memelihara habitat di kawasan oleh Pemkab Bantaeng, sejak tahun 2008.

Ada 20 jenis pohon yang terdaftar. Nangka (Artrocarpus heterophylla), Kiccrutan (Spathodea campanulata), Bitti (Vitex copassus), Beringin (Ficus Benjamina), Pulai (Alstonia scholaris), Sukun (Arthrocarpus communis), Marawallasa, Kapuk (Ceba Pentandra L), Glodokan (Polyalthia longifolia), Gmelina (Gmelina arborea), Kelapa (Cocos arborea), Angkaeng, Puca, Jati (Tectona grundis), Sawo Manila (Manilkara Zapota), Pinang (Areca catechu), Rao (Draconomelon) Akasia (Acacia), dan Mahoni (Switenia mahagoni).

Pohon Puca dan Angkaeng menjadi primadona hutan kota ini. Ribuan anaknya tumbuh secara alami. Selain pepohonan tersebut, beberapa tanaman dalam kawasan hutan memiliki manfaat sebagai obat herbal. Puluhan pohon amat besar, ada yang diameternya sebesar 3 pelukan orang dewasa. Tingginya menjulang, hingga sekira 50 meter.

Besar dan tingginya pohon-pohon tersebut, saya menduga dari lapik inilah, orang tempatan Bantaeng menyebut Kayulompoa. Kayu berarti pohon, sementara lompoa, bermakna besar. Jadi, Kayulompoa setara pengertian dengan Pohon Besar.

Berkat pepohonan besar dalam kawasan, otomatis menjadi sumber air. Setidaknya, ada 29 mesin pompa milik masyarakat menyedot air dari sumur yang tak seberapa besar lingkarannya. Ajaibnya, di sumur stabil debit airnya, terlihat kecil saja mata airnya, baik di musim hujan maupun kemarau. Bahkan, limpahan air menyuplai areal persawahan di sekitarnya, terutama saat musim kemarau panjang dan Cekdam Balangsikuyu tidak menyuplai air karena debit airnya turun.

Selain aneka jenis pohon dan tumbuhan lainnya, terdapat pula jenis burung. Apatah lagi, bila pepohonan itu berbunga, banyak burung yang datang, selain mencari makan, pun bercinta dan berkasih-kasihan. Makhluk air juga tak ketinggalan, semisal doang (udang), sikuyu (kepiting), juku (ikan), lenrong (belut), kalengkere (sidat), dan beberapa jenis keong.

Binatang melata tampak pula, beberapa jenis ular, kadal, iguana, dan lainnya. Sudah barang tentu, aneka serangga. Paling tidak, selama saya berada di lokasi, suara nyennyeng (tonggeret) tiada henti bernyanyi.

Naluri keingintahuan saya memandu ke beberapa titik dalam kawasan. Saya menemukan buah kelapa yang sudah dipotong bagian pusarnya dan tiga batang rokok kretek tanpa filter. Pikiran saya menerawang, batin saya melapang, lalu renungan pun muncul dalam simpai pemahaman, ada yang melepas hajatan di kawasan ini.

Tanpa memangsa waktu lama, renungan saya tersambung ke masa silam. Mengonfirmasi imajinasi kanak-kanak penuh nuansa mistis, terhadap kawasan Kayulompoa. Dulu, sekitar tahun 1970-an, saya sering mendengar cerita-cerita tentang Kayulompoa. Alam pikiran mistis mendominasi cerita tersebut.

Ketika saya mengonfirmasi apa yang saya jumpai dan beberapa penggalan cerita, tampaknya bertaut dengan beberapa informasi yang diiliki oleh beberapa kawan petugas konservasi yang membersamai kami selama berada di kawasan hutan.

Saya bertanya, adakah Pinatinna, serupa juru bicara atas tradisi masyarakat, berkaitan kemistisan di sekitar kawasan? Tampaknya tiada lagi. Dan, biasanya petugas pun tak melihat orang-orang yang datang melepas hajat. Nanti sisa-sisa upacaranya yang menunjukkan akan adanya tradisi melepas nazar. Bahkan, ada satu pohon ditengarai sebagai tempat semedi bagi orang tertentu.

Satu cerita amat menarik. Kawasan hutan ini menyimpan peralatan untuk perlengkapan pesta, semisal peralatan rumah tangga, berupa piring, alat masak, dan lainnya. Bila ada masyarakat yang memerlukan peralatan pesta tersebut, cukup melakukan upacara meminta, difasilitasi oleh Pinati, maka akan tersingkaplah kegaiban peralatan tersebut. Sayangnya, pernah ada yang meminjam, lantas tak mengembalikan sebagaimana utuhnya, sehingga proses pinjam kembali tak bisa lagi dilakukan.

Dikisahkan pula, ada beberapa titik berlumpur. Sebentuk lumpur abadi, manakala diinjak maka bisa tersedot hingga sepinggang. Bila makin bergerak semakin tenggelam. Kalau saja tersedot dalam lumpur ini, maka akan tembus ke laut. Konon, di waktu lampau, ketika ada orang berbuat jahat, cukup penjahat tersebut diceburkan ke dalam titik lumpur abadi ini untuk menuju pada keabadian.

Bukan hanya dua tiga cerita mistis di kawasan ini. Sebagaimana tempat-tempat lainnya, pastilah cerita-cerita hadir sebagai bagian dari local genius, kearifan lokal masyarakat guna menjaga kelestarian hutannya. Boleh tidak setuju dengan kearifan para tetua terdahulu, dengan menganggap tak rasional. Namun, bagi saya kearifan itu, sebentuk kecerdasan masyarakat karena rasionalitasnya bekerja.

Nah, kehadiran pemerintah dengan menjadikan kawasan hutan ini, perlu meniru para tetua terdahulu dalam menelurkan kebijakan penuh kebajikan. Tiada salah bila menggali berbagai kearifan sebagai warisan tradisi, buat dipertimbangkan dalam mengelola kawasan Hutan Kota Kayulompoa.

Tampaknya, tanda-tanda ke arah itu ada benderangnya. Nasir Awing berkomitmen untuk mengelola kawasan ini dengan tidak meninggalkan kearifan lokal. Sebab, kecerdasan masyarakat telah membuktikan keberlangsungan lestarinya hutan sampai kini.

Sentuhan perawatan sudah kelihatan adanya. Tersedia tempat duduk, perlu disulap menjadi taman, fasilitas WC dibenahi, sehingga saat ada kunjungan berwisata ke kawasan, akan aman dan nyaman. Saya mengsulkan agar peringatan hari lingkungan hidup dipusatkan di Hutan Kota Kayulompoa. Motifnya sederhana, pelibatan publik untuk mengetahui kawasan ini, akan menguntungkan sebagai tempat berwisata sekaligus menimba pengetahuan tentang lingkungan keragaman hayati.

Jelang pukul 11.00, kami pulang. Saya diajak mampir di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Bantaeng. Rupanya, puluhan petugas kebersihan, khususnya armada pengangkut sampah telah menanti. Selaku Kadis, Nasir Awing melakukan percakapan dengan petugas kebersihan. Sekitar setengah jam. Soal komplain masyarakat dan bagaimana petugas kebersihan menyikapinya. Dari percakapan tersebut, saya mulai tahu rumitnya perkara sampah di Bantaeng.

Pucuk safari setengah hari bersama sang Kadis, kami puncaki di salah satu warung, jalan poros provinsi, dekat Rumah Adat Balla Lompoa. Bersantap kanre santang, serupa nasi uduk, tapi penganan ini pun khas Bantaeng, yang mungkin pula bersifat endemis.

Usai bersantap, saya diantar pulang, kembali ke titik saya dijemput, mukim orangtua sebagai mabes saya, manakala melata di Bantaeng, bersampingan Bank Sampah Bissampole Bersinar Bantaeng.


Comments

3 responses to “Kayulompoa”

  1. Dengan tulisan ini sayapun mendapat banyak cerita tentang Kayulompoa pada hutan kota, mulai cerita mistic hingga manfaat hutan kota terhadap keberlangsungan mahluk hidup. intinya berliterasi itu keren bersama Kak Sultan Yusuf.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Terimakasih atas apresiasinya. Barakallah selalu adanya.

  2. Dion Syaif Saen Avatar
    Dion Syaif Saen

    Seolah saya ada menikmati hutan kayu lompoa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *