Apakah budaya itu? Bagaimana bisa mengatur kehidupan, menaruh doktrin yang harus kita yakini dan kita jalankan. Walau kadang bertentangan dengan nalar.
Apakah budaya sebagai pengetahuan yang abadi? Atau saat dia hadir sebagai pelengkap, ketarutan manusia agar lebih tidak menjadi lebih liar bagai rimba dengan penghuninya yang brutal tanpa akal? Sementara manusia memiliki akal untuk berkembang.
Budaya itu nilai, kebaikan, keindahan, kemuliaan.
Cirinya menghantar peradaban katanya. Tetapi ada gurindam dipendam menjadi dendam. Melestarikan katanya! Kesan masih bertaruh. Sementara di sana setiap penjuru negeri, peradaban dan budaya telah menuju singgasananya. Apakah kita masih terjebak pada persepsi, pertarungan hendak pengakuan?
Dalam kekinian, orang lebih cenderung terhubung dengan orang lain dengan layar ponsel, kehilangan daya identitas, interaksi sosial, ada yang surut dan larut terbang mengepak sayapnya yang berbulu tipis. Komunikasi dan ikatan sosial yang kemudian kehilangan komunal. Kalaulah ada itu hanya basa-basi. Itu juga adalah buah sadur dan anak lahiriah bernama budaya.
Pelaku atau pelestari budaya hanya asyik di bibir kanal saling mencibir, sambil menarik ketapel terpental jauh di sudut kota. Bercerita tentang peradaban/budaya, tetapi melibas adabnya sendiri. Umpama yang diibaratkan, tiada sesuai atas wejangan bertengkar dalam sangkar budayanya sendiri. Meraih dan saling merebut kemenangan di atas pentas. Memuncah dan mencacah.
Budaya terhasut dari perilaku, menjadi pemeran pada peristiwa sejarah, meski ditelanjangi oleh sejarah itu sendiri. Sama-sama masih hipotesa. Kekacauan selanjutnya menampuk diri sebagai pelestari dan pelaku sejarah. Padahal kemarin hanya menjarah.
Sesuatu capaian yang terbangun dengan dramatikal bertipikal ala kadal. Pandu mengingatkanku, “tutuki, teaki ranggaselai. Hati-hati, jangan terbawa suasana.” Pandu mengingatkan kembali pada Danu, Umbu menyimak dengan seksama.
“Na apajia, apamo gau, lanri niakna adaka namassing nakaerokangmi gau’ sangka rupanna”. Namun, apa hendak dikata, meski hadirnya adat budaya, yang membuat mereka bertingkah dengan segala pesonanya sendiri.
Umbu menaruh gelas kopi di meja kaca. Lantas menyeka resahku! Merangkai kutipan khas makassar kembali, “Lantangmi banngngia sierang laninring danniaria surang la’beseremi sassanga surang singaraka.” Malam telah larut seiring embun dini hari dan gelap dan terang akan mulai beradu.
Hingga petang tadi, saat semburat senja menafkahiku dengan segala peristiwa fajar hingga pada keriangan di zaman berbeda kali ini. Senja hanya tertagih dikunjungi para pecinta senja yang sok romantis. Pandu membiarkanku larut pada reaksi manusia yang mengaku berbudaya berbalut muslihat bin tipu daya.
Ada krasak dan krusuk, di tengah kalut dan kabut peradaban yang kian mendera. Contoh sederhananya sahaya mencoba menyusuri dan menyaksikan si buyung Argan makin tumbuh menjadi lelaki yang kemungkinan akan nyasar di peradabannya kelak. Sikap dan sifatnya begitu siginfikan jauh mengubahnya setiap detik tabiatnya.
Pada Usia kanaknya cukup santun cium tangan karena terpaksa. Seketika beranjak memasuki fase yang tak jauh berjarak. Semakin bertingkah, pikirannya mulai terhasut dengan tabiat baru dia usung. Patoa-toai dan mulai puji-pujiang. Itu juga budaya, sesuai selera, mana yang lebih asyik dan menarik perhatiannya. Tergantung zona nyaman.
Kekhawatiran itu selalu hadir menghantui, sahaya sadar bahwa tidak harus memaksakan zaman yang kini dihadapi Argan akan berbeda cara “manggada” (etika) dari setiap gejolak zamannya. Tidak harus menyalahkan lingkungan di mana dia bergumul. Proses edukasinya kembali teruji. Arhan mulai punya siasat, dari berbohong, hingga berkata jujur. Pemalu, tetapi liar. Mulai pandai mencari alasan.
Ada ritus pengetahuan dan pola pikir yang tersisa puing rapuh, tidak orang tua, dewasa, remaja bahkan belia sama-sama tergerus sebuah peradaban yang memaksa kita untuk sama-sama menjadi pemeran antagonis, mengajari untuk jahat bahkan bejat.
Seperi misalnya sahaya ini, kadang seolah dan merasa orang paling dewasa, selalu ingin leluasa berpendapat, merasa pintar tidak pintar merasa. Begitu pula yang merasa muda dan baru belajar melek di pagi hari, sambil mengaduk kopi, padahal bukan pecandu, hanya penikmat latah. Seakan pelestari, penjaga benteng peradaban. Padahal masih abal-abal. Ini juga reaksi hasil olah pikir budaya (perangai).
Masih butuh prosesi mengenali, rekreasi/piknik dengan literasi, atau sebagai pelestari pada aksi yang lebih nyata. Agar tahu dan bisa menempatkan sebuah “kedok” pada realitas meretas dengan totalitas yang berkualitas.
Fenomena ini sahaya yakini terjadi di antara kita. Secara idividual, begitu pula yang merasa dituakan hilang figur dan ditoa-toai, bahkan diolok-olok (diejek, tidak dihormati). Nah ini juga budaya. Sudahlah! Kata Umbu sembari menyuruhku menikmati kelezatan pisang goreng renyah kali ini, di ujung senja.
Buah peristiwa manusia, dan kehidupan, lalu budaya hadir melengkapinya sebagai pengetahuan dan penguatan. Lalu dilabeli beberapa nama, seperti peradaban, di mana hadir menjadi pelengkap penderitaan.
Lalu kita semudah menyolot, merasa paling berbudaya, melawan arus peradaban, yang mengasuh, menaruh tawaran paling ampuh memengaruhi yang katanya etika, dan budaya yang kian hari hanya semata kedok.
Peristiwa berulang, seiring dengan pengetahuan. Baik cerita dan rekayasa yang kemudian kita akan kembali ke perjamuan peradaban itu sendiri begitu “gercep” (gerak cepat) melaju melibas budaya yang tidak tuntas. Stagnan karena dogma yang kaku dan ambigu.
Abstraksi sebagai manusia, adalah makhluk individual dan dalam waktu yang lain dia akan berfungsi sebagai makhluk sosial.
Satu sisi sebagai makhluk individual, manusia dilengkapi dengan berbagai potensi, satu individu dengan individu lainnya mempunyai sifat, sikap, perilaku dan motivasi yang berbeda.
Setiap individu sejak kecil sudah mulai menjalin hubungan psikologis dengan lingkungan sosialnya. Adanya perbedaan individu disebabkan oleh adanya perbedaan situasi lingkungan yang dihadapi rnasing-masing.
Termasuklah budaya yang dianggap menjadi faktor utama dalam menumbuhkan sikap dan perilaku termasuk dalam pengamalan agamanya. Kata Kunci: budaya, sikap dan perilaku, keberagamaan. Sebuah pembuka pada pembuka di sudut kolom Moraref Kemenag co.id.
Terpental jauhlah sahaya ke sebuah situasi, seperti perangai perawan mengalami menstruasi awal, dan perjaka yang mulai bersifat keder, baper, dan suka pamer.
Atau sahaya terlalu munafik menampik, menggugat sebuah budaya itu sendiri. Setelah itu mencari dan menemukan jurus delapan penjuru mata angin. Dengan menggunakan jurus lihai itu, cara jitu menutupi sebuah kehambaran nilai manusia secara individualistik.
Sahaya kehilangan kesedepan nilai sudut pandang, bahkan hubungan pertalian, perjamuan, pertemanan, tersisa kudapan berkalung liontin indah terlihat tetapi sesungguhnya berkalang kesumat. Sahaya mulai paham dan menemukan, menerima mencoba “kedok” agar tidak terkecoh, tercacah, terjebak bahkan terdera manusia berbudaya, namun semuanya menutupi bopeng dengan topeng.
Budaya itu olah pikir dan rekayasa, entah itu punya nilai baik, atau menjadi titik tolak sebuah ide, kisah, peristiwa. Bukan menjadi pemahaman kaku semata ritual, tari, kebiasaan, hingga katanya bersifat spiritualis hingga laris manis. Semua dikategorikan mistik. Padahal hanya rangkaian-rangkaian ide, imajinasi.
Budaya hadir bisa saja jadi alasan, kedok, uraian untuk memikat satu manusia dengan manusia lainnya untuk tujuan bersama. Para ilmuan dan filsuf, secara totalitas mendermakan hidupnya demi penguatan bagai penyembah ilmu pengetahuan. Merelakan waktunya bertahun-tahun untuk berpikir menemukan kesepahaman, bukan semata kesepakatan seperti saat ini merasa berbudaya, padahal hanya kedok.
Kemudian berkicau seripit pipit, sementara pikirannya kian dipersempit. Piknik masih dibutuhkan lebih jauh, masih suka mangkir malas mikir, lalai seperti pengecut yang mudah kepincut . Suka bertaruh dan berseteru. Itu tidak seru, dan itu juga bagian dari budaya.
Perkara baik, buruk, benar, salah. Itu bisa menjadi diskusi yang berulang, tetapi tanpa tendensius mendesus menjadi definisinya sendiri.
Alur diatur, ritual dihafal menjadi mitos, sampai pada akhirnya mereka berkedok untuk satu pengakuan sebagai manusia luhur, tetapi masih suka ngawur. Budaya diduplikasi demi sensasi. Seperti sahaya menjadi penipu ulung, menentukan pilhan diksi, merasa paling berbudaya padahal penipu ulung berkalung pengetahuan cocoklogi.
Umbu mencegat, sahaya terantuk pada satu pengetahuan. Dia menentramkan suasana, mengingatkanku tentang berdamai “assiama”pada diri sendiri, secara sahaya yang individualis tidak oportunis, sok kritis tetapi nyaris pragmatis.
Kita masih punya tugas, dari sekian manusia berupaya berbudaya, di ruang diskusi perhelatan tentang budaya begitu memberi kita satu alasan dan pilihan. Lalu kita hadir, berbaur merangkum, namun semua sebagai simbolis yang seremoni. Setelahnya ilustrasi menjadi basi secara implementasi.
Percakapan kami kian larut, saling menyelami dan menyemai. Ada kekhawatiran kami berdua pada setiap pertemuan bincang lepas, tanpa merasa sama seakan cerdas. Bahwa sejauh mana budaya itu teruji sebagai ide, reaksi dalam aksi nyata meski sederhana, namun memantik untuk menanamkan nilai-nilai budaya “passiamakkang” menyatukan ide kreatif, peduli, demi kemajuan, kemaslahatan, kemajemukan tanpa harus berikrar tetapi di ujung persimpangan ternyata ingkar. Ini juga budaya celetup sahaya! Sambil meraih gelas kopi tersisa setengah di serambi pertemuan kami selanjutnya malam itu.
Sumber gambar: fisip.umsu.ac.id

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply