Sekolah bagai cangkang kepompong, sepadan terungku. Bila menamatinya, maka para murid akan terbang, serupa kupu-kupu dengan segenap keindahannya. Baik untuk dirinya, maupun buat orang-orang terdekatnya.
Begitulah adanya, sekaum remaja yang selama ini berseragam putih abu-abu, tiba-tiba mengenakan pakain rapi berselempang syal unik, dikenakan sebentuk medali, lalu dikuatkan selembar tanda kelulusan. Wajah-wajah ceria menghidu satu ruangan, mengharu biru dalam balutan bahagia.
SMA Negeri 4 (Smapat) Bantaeng, pada 9 Mei 2024, melakukan perhelatan penamatan siswanya. Bertajuk Graduation Stavisco 24 Angkatan Tahun 2024 SMA Negeri 4 Bantaeng, mengusung tema, “The end of the story is beautiful, we will shine brightly. Sebanyak 246 siswa-siswi, dari tiga jurusan: Bahasa-Budaya, IPA, dan IPS. Selain siswa dan orangtuanya, hadir pula Kepala Cabang Dinas, para guru, dan komite sekolah, serta alumni.
Sebagai salah seorang orangtua yang anaknya ikut penamatan, aku sukacita tiada bertepi. Namun, aku terharu sedalam-dalamnya, sebab terpantik oleh momen-momen dukacita mendalam, tatkala acara doa di awal helatan, ada ucapan bela sungkawa terhadap berpulangnya sang kepala sekolah Smapat Bantaeng, Syafaruddin bin Saso, lebih akrab disapa Pak Syafar.
Paling tidak, ada tiga momen pembacaan Al-Fatihah tanda duka, dikirimkan kepada almarhum, sebagai alamat cinta segenap penghadir. Tatkala sambutan Baharuddin (Plt. Kepsek), Sattar (Cabang Dinas), Rivai Nur (Ketua komite dan alumni). Dan, pucuk keharuanku, saat pemutaran video biografi Pak Syafar, jelang acara selesai.
Usai helatan hingga berganti hari, suasana batinku masih bergemuruh, sebab tertawan oleh pribadi menawan, bayang-bayang kebaikan almarhum.
Butuh waktu mengolah rasa duka, agar rasio bisa menerima kenyataan terhadap satu peristiwa biasa, tapi luar biasa dimensinya. Untunglah, helatan penamatan menjadi pemantik, untuk segera bisa menorehkan secarik rasa, terdedah dalam balutan rasio.
Ingatanku pun melayang ke puluhan hari lalu. Berlaksa detik telah lewat atas berpulangnya pada keabadian, Syafruddin bin Saso, seorang guru sekaligus Kepala Sekolah SMA Neg. 4 Bantaeng. Ia pun sementara menjabat Ketua PGRI Kabupaten Bantaeng. Bagi banyak orang, almarhum dinilai sebagai pribadi yang ramah.
Pelayat menyemut dan ucapan duka, baik secara daring maupun luring, sudah cukup membuktikan, ia punya magnet, baik sebagai sahabat, kerabat, maupun ikatan-ikatan personal lainnya. Personanya memesona kalangan yang mengenalnya.
Namun, bagiku seperti seorang kekasih. Ada cinta philia yang tumbuh menuju agape di antara kami. Sejenis cinta yang dilandasi persahabatan, bersafar meraih kualitas diri, dari aku dan kau mewujud kita.
Bagaimana perjalanan cintaku dengan Pak Syafar? Baiklah akan kutorehkan kisah kasih cinta kami. Dari philia menuju agape.
Aku mulai mengenal Pak Syafar, seiring dengan aktivitasku selaku pegiat literasi. Meskipun sama-sama alumni IKIP Ujung Pandang, sebagai adik angkatanku dan beda fakultas, tapi tidak pernah sua di kampus.
Intensitas percintaanku dengannya, mekar berbunga-bunga, sekitar 5 tahun terakhir. Pasalnya, tidak sedikit acara berbau pendidikan, khususnya literasi, aku bertemu dengannya. Petuah lama pun bekerja, cinta itu bermula dari mata turun ke hati.
Seingatku, momen paling romantis tatkala terjadi hajatan di Bira-Bulukumba. Waktu itu, sekitar 4 tahun silam, diselenggarakan acara berbau inovasi untuk kepala sekolah se-Cabang Dinas Dikbud Provinsi Sulawesi Selatan Wilayah 4. Aku hadir sebagai salah seorang pemantik percakapan, terkait literasi inovasi.
Di sela-sela hajatan, terjadi percakapan ringan dengan beberapa kepala sekolah, baik SMA maupun SMK se-Kabupaten Bantaeng. Aku mengajukan pertanyaan kepada mereka, anakku sudah tamat di SMP Lazuardi Athaillah Global Compassionate School Makassar dan ingin lanjut di Bantaeng. Serentak saja para kepala sekolah menawarkan sekolahnya, meskipun kuajukan pertanyaan bagaimana dengan perkara zonasi?
Sontak saja Andi Arung, Kepsek Smansa Bantaeng waktu itu menyatakan, “Kalau memang anakta mau lanjut di sekolahku, kupakaikan jalur langit.”
Namun, aku mengajukan satu syarat, sebagaimana persyaratan yang diminta oleh putraku, Javid Morteza, bahwa sekolah tersebut punya band sekolah.
Persyaratan yang kuajukan langsung disambar Pak Syafar, “Kalau begitu, di sekolahku sebab ada bandnya, sekaligus sanggar seni juga punya.”
Sebagai bukti penguat, selepas acara Pak Syafar mengirimkan saya link youtube, terkait prestasi yang pernah dicapai Smapat Bantaeng, saat juara 1 festival diselenggarakan oleh Teh Pucuk Harum, via program, Pucuk Cool Jam 2020 di Yogyakarta. Link tersebut kuteruskan ke putraku. Ia langsung setuju untuk masuk di Smapat Bantaeng.
Begitu pendaftaran siswa baru dimulai, Pak Syafar mengontak saya, “Dimanami kamanakanku? Segera saja ke Bantaeng. Sebab, pendaftaran sudah dimulai.”
Alhamdulillah, anakku diterima dengan penuh kemudahan. Setelah dilakukan asesmen akademik, hasilnya, ia masuk di Jurusan Bahasa-Budaya. Pak Syafar pun mengonfirmasi, apa setuju dengan jurusan tersebut?
Javid setuju dengan jurusan itu. Beberapa guru kenalanku di Smapat Bantaeng ikut menanyakan apa sudah cocok dengan jurusan tersebut, atau mau pindah? Jawabanku sederhana, “Yang mau sekolah bukan saya.”
Sejak itu, aku dan Pak Syafar mulai intens bercakap-cakap. Baik di acara formal maupun informal. Dan, satu janji yang ia tunaikan hingga akhir hayatnya, bahwa ia berharap padaku, agar ikut mengangkat muruah Jurusa Bahasa-Budaya. Sebab, selama ini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan siswa-orangtua. Sayangnya, angkatannya Javid merupakan angkatan terakhir yang menganut kurikulum sistem penjurusan.
Teramat banyak even terkait seni, khususnya seni musik yang diikuti oleh Javid selama bersekolah. Pun, ia didapuk untuk menjadi Ketua Sanggar Eksen Smapat Bantaeng, selama dua periode. Saking perhatiannya Pak Syafar pada Eksen Smapat, sekali waktu ia berkata padaku, “Kalau ada acara seni-musik yang diikuti Javid, silakan dijalani.” Dan, menurutku inilah salah satu faktor pertumbuhan kapasitas bermusiknya mendapatkan lahan subur, buat berkembang. Plus, seorang guru-pembina di dalam dan luar sekolah, Ahmad Aidil.
Kalakian, waktu ada acara kick-off RPJPD Bantaeng 2025-2045, sebelum acara dimulai, aku bercakap-cakap dengan Pak Syafar, kuusulkan ekskul baru, pertama di Bantaeng. Bahkan mungkin di Sul-Sel. Yakni, Ekskul Literasi. Tak pakai waktu lama, hanya sekira dua pekan, Eksul Literasi bernama “Refleksi” pun dikonkritkan.
Ekskul Literasi Refleksi sebagai pilot project. Selain untuk mendukung gerakan literasi di sekolah, ada harapan kami, akan menjalar virusnya ke seluruh sekolah di Bantaeng. Apatah lagi, Pak Syafar juga sebagai Ketua PGRI Bantaeng, maka akan lebih mudah pendekatan strukturalnya, mulai dari SD hingga SMA.
Seiring berjalannya waktu, kami telah merencanakan banyak hal. Termasuk kala pertemuan terakhirku, di acara zikir dan doa, bertepatan bulan Ramadan, buat penyelenggaran ujian akhir sekolah. Selepas acara, kusampaikan bahwa aku akan lebaran di Makassar bersama Javid. Dan, nanti penamatan baru ke Bantaeng lagi.
Sehari setelah lebaran, aku dan Javid, serta seluruh anggota keluargaku melakukan tour lebaran, bersama keluarga besar pasanganku. Libur lebaran dengan rute, Makassar, Soppeng, Sorowako (Luwu Timur) selama sepekan.
Hari Jumat, 12 April 2024, aku rombongan torku sementara perjalanan Soppeng-Sorowako, Javid memeritahuku di atas mobil, “Kecelakaanki Pak Syafar Bi.”
Segera saja aku berburu informasi, sekaligus memantau di media sosial. Dari media sosial, kuketahui bahwa ia akan dioperasi di RSUD Andi Sultan Daeng Radja Bulukumba.
Ahad, 14 April 2024, urita duka menyapaku di Sorowako. Pak Syafar, kekasihku telah wafat. Mengular orang mengantar ke pemakaman. Menyemut insan ikut takziyah selama tiga malam. Aku tak bisa hadir di momen duka. Waima, duka mendalam selama tour perjalanan menghiduku.
Libur lebaran yang semestinya riang gembira bersama keluarga besar, secara pribadi agak ganjil. Aku sejenak terjebak dalam pusaran kegalauan. Namun, segera hadir suasana batin, mengubah safar jasmani menjadi ruhani. Buahnya, aku lebih memahami safar libur lebaran sebagai safar spiritual. Mungkin ini sebentuk paket ruhani lebaran.
Kekasihku, Pak Syafar, kamanakanta, anak muridta telah tamat. Aku yakin, ruhmu hadir di acara penamatan. Buktinya, pertautan panjatan doa dan kiriman Al-fatihah sebagai tali kasih kami, segenap penghadir.
Kala penamatan berlangsung, setiap siswa yang berprestasi diundang bersama orangtuanya naik ke panggung.
Pak Syafar, Javid Morteza, didapuk sebagai siswa Peringkat 1 Jurusan Bahasa-Budaya. Itu berkat didikanta beserta segenap jajaran guru.
Di atas panggung, aku merasakan kehadiranmu, jabatan tanganmu terasa menggenggam erat tanganku. Engkau seolah bertutur, “Kuru‘ sumanga‘ atas pencapaian ini.”
Ketika kutulis esai ini, Javid Morteza lagi duduk di depanku. Ia sempat bertanya, “Lagi nulis apa Bi?”
“Tentang aku dan Pak Syafar, juga Javid. Izin ya? Melibatkanmu dalam tulisan.”
“Beruntungku punya kepala sekolah seperti Pak Syafar. Kodong…” Tutur Javid.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply