Bunda Lansia Ceria

Saya mau tamasya//Berkeliling-keliling kota//Hendak melihat-lihat keramaian yang ada//Saya panggilkan becak//Kereta tak berkuda//Becak, becak, coba bawa saya… (“Naik Becak”, Ibu Sud).

Usia hanyalah angka, tapi spirit tiadalah menua. Aktivitas tetap jalan, kreativitas masih runtun. Tidak pikun dan stress, senang menampak bahagia menyata. Itulah asa di hari tua. Menjadi lansia sehat, terawat dan bermartabat.

Itulah penggalan-penggalan kalimat dari penyelenggara helatan, menyambut Hari Lansia ke-28 Tingkat Kabupaten Bantaeng, jatuh pada 29 Mei 2024. Selama 2 hari, 25-26 Mei 2024, berpusat di Tribun Pantai Seruni Bantaeng. Tema kegiatan bertajuk, “Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat”. Ratusan lansia dan penghadir menyemut selama hajatan berlangsung.

Hari pertama, kegiatan jalan sehat. Namun, paling menarik, naik becak hias keliling kota. Mulai dari Pantai Seruni-Jalan Kartini, Jalan Elang, Jalan Merpati, Jalan Teratai, lalu finis kembali di Tribun Pantai Seruni. Puluhan becak mengular, memuat 2 orang lansia setiap becak. Selain bunda-bunda, juga ada beberapa becak berisi bapak-bapak.

Para lansia beriang gembira naik becak, nyaris seperti masa kanak-kanak naik becak keliling kota sewaktu lebaran. Maklum, moda transfortasi di masa silam, becak tergolong mewah. Sekarang pun, naik becak tetap mewah, sebab becak makin jarang di Bantaeng. Tergusur oleh ojek dan moda tranfortasi bermesin lainnya.

Saya meraba maksud penyelenggara, mengembalikan kenangan pada masa kanak-kanak, merupakan cara terbaik untuk bersenang-senang, berpucuk pada bahagia. Sebagai orang yang berusia lebih separuh abad, saya ikut keliling dengan bersepeda, sembari bersenandung lagu anak-anak, “Naik Becak”, anggitan Ibu Sud.

Saat naik becak keliling Kota Bantaeng ada puluhan becak hias berpacu, sehingga daeng becaknya ikut ngos-ngosan. Beberapa insiden kecil, saat becak berpacu, dua-tiga di antaranya ada yang lepas rantainya. Bahkan ada yang bengkok pelegnya. Menariknya, lebih separuh dari daeng becak berusia paruh baya. Ini mengindikasikan, profesi daeng becak makin langka.

Usai naik becak keliling kota, setiba di tribun, sekotah lansia dijamu dengan suguhan bubur ketan-kacang hijau, plus teh hangat. Terpancar wajah ceria dari para lansia. Oh ya, hampir lupa, selama berkeliling kota, selain dikawal oleh Patwal Polres Bantaeng, juga ada iringan musik legendaris Bantaeng: Tanjidor.

Musik Tanjidor sendiri, sudah nyaris punah. Dipinggirkan oleh elekton dan sejenis hiburan moderen lainnya. Padahal, di waktu lalu, bila ada hajatan, apa pun bentuknya, nyaris Musik Tanjidor ikut manggung, selain orkes dan band. Jadi, tiupan terompet dan tabuhan seperangkat drum, melambungkan kenangan pula, pada masa kanak-kanak dan remaja segenap lansia.

Memasuki hari kedua, makin meriah saja suguhan agenda acaranya. Dua item terdepan, nyanyi solo dan fashion show. Coba kisanak-nyisanak imajinasikan, bagaimana dinamisnya, ketika para lansia berpameran tata busana, berjalan di atas karpet, seolah menjadi remaja belasan tahun. Pastilah ada gairah hidup. Apatah lagi, beberapa di antaranya unjuk tarik suara, amboi indah nian ceritanya.

Fashion show diikuti 9 orang lansia, sementara nyanyi solo 12 orang lansia. Tentulah penghadir, baik unsur terkait penyelenggara maupun penonton mencapai ratusan orang. Gemuruh sorak sorai, kala para lansia beraksi. Pastinya, Ketua Lansia Bantaeng, Andi Sinasari, turut hadir mendampingi Pj. Ketua Tim Penggerak Kabupaten Bantaeng, Andi Raodhayanti.

Lalu, apa yang sesungguhnya melatari hajatan para lansia tersebut? Merujuk pada rilis Kemensos RI, dinyatakan, Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN)yang diperingati setiap tanggal 29 Mei, merupakan hari di mana negara Republik Indonesia, ingin mengapresiasi berupa penghargaan atas semangat jiwa raga, serta peran penting dan strategi para lanjut usia Indonesia, dalam kiprahnya mempertahankan kemerdekaan, mengisi pembangunan dan memajukan bangsa.

Lebih dalam dipaparkan, hal ini diinisiasi atas peran Dr. KRT. Radjiman Widyodiningrat yang memimpin sidang BPUPKI pada tangal 29 Mei 1945, sebagai anggota paling sepuh (tertua), yang dengan kearifannya mencetuskan gagasan perlunya dasar filosofis negara Indonesia. HLUN dicanangkan pertama kali secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 29 Mei 1996 di Semarang.

Secara nasional, kehadiran Negara ditandai dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2021, tentang Strategi Nasional Kelanjutusiaan, di mana pemerintah memberikan perhatian khusus kepada Lanjut Usia. Mandat Peraturan Presiden tersebut, ditujukan kepada Kementerian/Lembaga untuk mewujudkan Lanjut Usia Sejahtera, Mandiri, dan Bermatabat. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam tema peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Tahun 2024, “Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat”.

Selama saya beredar di Tribun Pantai Seruni, saya sempat bercakap-cakap dengan beberapa personil penyelenggara. Ramlah Hamzah menabalkan, yang berkegiatan dua hari ini, Himpunan Lansia Sayang Bunda Kabupaten Bantaeng. Kelompok ini di bawah naungan Dinas PMD-PPPA Bantaeng. Anggotanya, sekira 80 orang lansia. Di kelompok lain juga ada, semisal yang dikoordinir oleh kelurahan dan desa.

Lain lagi dengan Ahriani, personil lainnya, ketika saya tanyakan tentang tanggapan beberapa lansia, terhadap acara ini. “Mereka bahagia, karena ada ruang untuk mereka berbagi cerita dan saling menguatkan sesama lansia,” tuturnya. Eh, nyaris lupa, ketua panitia helatan ini, seorang bunda lansia, bunda Nurmala Jalil.

Menyata di arena menyongsong peringatan Hari Lansia ke-28, tingkat Kabupaten Bantaeng, mengingatkan saya pada beberapa layanan publik yang diperuntukkan lansia. Sebentuk inovasi yang digerakkan oleh Puskesmas lingkup Dinkes Bantaeng.

Sebagai pendamping literasi Tenaga Ahli Inovasi Bappeda Bantaeng, saya ikut mendalami inovasi-inovasi terkait lansia. Cukup saya sajikan yang dapat prestasi lomba inovasi saja. Pertama, Pelipur Lara, akronim dari Pelayanan Paripurna Lansia Sejahtera. Tujuan inovasinya, memberikan layanan kesehatan, penyuluhan, dan edukasi pola hidup sehat. Dan, melakukan kunjungan ke mukim lansia. Inovasi ini berasal dari Puskesmas Dampang dan meraih penghargaan Top 30 KIPP Sulsel 2022.

Kedua, Raisa, akronim dari Gembira Bersama Lansia. Tujuan dari inivasi ini, memperluas cakupan pelayanan kesehatan fisik, kemudian ditambahkan fasilitas yang bisa memelihara kesehatan mental dan spiritual. Inovasi ini diinisiasi oleh Puskesmas Bissappu dan masuk dalam katagori KIPP Sulsel 2022.

Sebagai anak negeri kelahiran Bantaeng yang sementara mukim di Makassar, tapi lebih banyak  beraktivitas di Bantaeng, rasa-rasanya, dorongan kuat untuk pulang kampung menjalani hari tua, menjadi lansia, tak terbendung lagi.

Saya ingin menikmati layanan kesehatan inovatif selaku lansia. Mau pula naik becak keliling kota, sembari bersenandung lagu dari Ibu Sud. Atau numpang makan bubur plus teh hangat gratis, sembari menembangkan tembang kenangan. Hari tua yang indah nan ceria.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *