Tabe’ Bija: Serupa Literasi Qoute

Sederet kata bisa menghidupkan dan mampu pula mematikan jiwa. Sebab kata mampu menghidupkan jiwa, maka seringkali menentukan jalan hidup. Begitu pun, amat banyak jiwa yang mati di hadapan seonggok kata. Satu kata bagai sebutir peluru. Mekar tidaknya jiwa, bergantung pada kata-kata.

Sudah menjadi pengetahuan umum, fungsi dari kata adalah sebagai alat untuk melakukan komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Kata juga dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, atau ideologi kepada orang lain. Selain itu, kata juga dapat digunakan sebagai pendorong perubahan sosial, pendidikan, dan budaya.

Bertepatan peringatan Hari Buku Nasional, 17 Mei 2024, menyata peristiwa terkait kata-kata. Tepatnya, ada percakapan di ranah maya, sebentuk podcast bertajuk Sipakana, akronim dari Siaran Inovatif Program Bangga Kencana. Wadah ini berada di bawah naungan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Bantaeng.

Berlaksa kata disimpai dalam satu buku berjudul, Tabe’ Bija, dibedah dalam ruang Sipakana. Percakapan menghadirkan dua orang pemantik, Muhammad Haris, sang penulis sekaligus selaku Kepala Dinas PPKB Bantaeng dan Ade Sulmi Indrajat, sang editor buku. Lalu lintas perbincangan dipandu seorang host, Syafriadi Ranca, seorang ASN lingkup Dinas PPKB Bantaeng.

Sebagai seorang pegiat literasi, saya tak melewatkan perhelatan kata-kata ini. Dari ranah maya lain, saya ikut acara siaran langsung via YouTube. Apatah lagi, sekira sepekan sebelumnya, buku tersebut sudah saya terima dari Ade Sulmi. Bahkan, sudah terlibat percakapan di salah satu kafe, UpCircle Bantaeng. Jadi, paling tidak saya sudah mengejanya sebelum hajatan berlangsung.

Muhammad Haris dalam sajiannya, lebih banyak mendedahkan latar belakang dari setiap bagian buku. Sementara Ade Sulmi, memaparkan proses pengumpulan bahan, penyuntingan, hingga bagaimana buku terbit. Tabe’ Bija, terbagi dalam komposisi paparan 3 bab. Perjalanan Pengabdian, Sajak-Sajak Pengabdian, dan Kata Mereka tentang Haris.

Bab Perjalanan Pengabdian, lebih banyak menggambarkan autobiografi singkat dari seorang Haris. Mulai sejak kanak-kanak, hingga tiba di jabatan selaku kadis. Bab Sajak-Sajak Pengabdian, menabalkan buah pikir Haris terkait suara batinnya dalam bentuk quotes. Sedangkan Bab Kata Mereka tentang Haris, berisi testimoni dari keluarga, sejawat, dan kawan seprofesi.

Nah, tanpa mengabaikan Bab 1 dan 3, saya lebih menukik menyoal Bab 2. Pasalnya, pada bab ini ada latar jejaknya yang unik. Apa yang dipatenkan sebagai, Sajak-Sajak Pengabdian, sesungguhnya bermula dari quotes Haris di akun Facebooknya. Ada 83 qoute, sekotahnya berkonten perkara kemekaran pikiran dan kelapangan hati.

Kalakian, apa sebenarnya quote itu? Baiklah saya nukilkan saja salah satu pengertiannya. Menurut Oxford Learner’s Dictionaries, quote is a group of words or a short piece of writing taken from a book, play, speech, etc. and repeated because it is interesting or useful.

Maksudnya, Quote merupakan sekelompok kata atau tulisan pendek yang diambil dari sebuah buku, drama, pidato, dan lain-lain dan diulang karena menarik atau berguna.

Kata “Quote” merupakan sebuah kata tunggal dalam bahasa Inggris yang memiliki arti sebuah kutipan atau petikan. Sedangkan dalam bentuk jamak quotes yang berarti kutipan-kutipan. Singkatnya, quote adalah kata kutipan, merupakan serangkaian kalimat atau ucapan yang dianggap menarik yang berisikan ide, pendapat atau gagasan seseorang.

Sungguh quotes dari Haris tersebut, senapas kata-kata bijak, sebentuk epigram, maksim, petuah, dan nasehat. Tradisi quote yang berbentuk epigram misalnya, merupakan tradisi tulis yang akarnya jauh ke berabad-abad silam. Semisal epigram yang dipahatkan dalam berbagai prasasti di zaman Yunani Kuno.

Jadi, Haris memproduksi quotes, tiada lain dari satu tindakan melanjutkan tradisi lama dalam peradaban umat manusia yang butuh kata-kata, agar hidup dan kehidupan bermakna.

Ah, alangkah bagusnya kalau saya kutipkan satu quote, bernomor 12, “Sungguh, kebodohan suatu bangsa selalu bermula dari para pesohornya yang enggan merendahkan hati dan mencerdaskan sikap.” Coba bayangkan kisanak-nyisanak, kalau masih ada 82 qoutes lainnya, betapa menghidupkan jiwa bukan?

Mungkin akan ada yang berkata, sekotah quotes tersebut ada kesamaan dengan quotes dari para bijak bestari sebelumnya. Betul, tapi Haris telah terlibat dalam proses reproduksi dan adaptasi kekayaan batin. Dan, itu berarti telah menjadi miliknya. Bukankah setiap minda yang kita serap, lalu diolah oleh perangkat intelektual kita, lalu kita keluarkan, pasti akan ada unsur penguatan.

Dan, memang sejatinya sebuah quote, bernasib akan menjadi kutipan dari sesiapa saja yang membutuhkan. Haris telah terlibat dalam lingkaran petik memetik kutipan, baik sebagai konsumen sekaligus produsen quote. Demikianlah putaran warisan ruhani para bijak bestari dalam pusaran kebajikan.

Apa yang dilakukan oleh Haris, saya lebih suka menyebutnya Literasi Qoute. Sebab, sebelum digabungkan dalam satu ikatan Bab Sajak-Sajak Pengabdian, sekotah quotes tersebut di akun Facebooknya, selalu didahului oleh kata, “Tabe’ BijaA”.

Tabe’ Bija, setelah diadaptasi lalu dijadikan judul buku, saya memaknai sebagai uangkapan kerendahatian dari seorang Haris. Betapa tidak, ia mengungkapkan kata Tabe’ (bahasa Makassar), yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata, “Tabik”, bermakna, ungkapan memberi salam dan sebagai perbuatan menghormati.

Adapun kata Bija (bahasa Makassar), selaras dengan kata, “Sanak”, dalam bahasa Indonesia, bermakna saudara, atau yang berhubungan dengan keluarga dan kerabat. Namun, dalam tradisi ungkapan bahasa Makassar, makna bija, saudara, itu jauh lebih luas, melebihi batasan-batasan biologis.

Tentu ada selip pertanyaan, tentang selain kelebihan buku, Tabe’ Bija, pasti ada kekurangannya. Namun, saya tidak sedang menembakkan peluru mematikan, serupa kata-kata, melainkan saya lebih jatuh hati pada kata-kata yang menghidupkan: literasi quote.

Kehadiran Tabe’ Bija di peringatan Hari Buku Nasional, mempunyai nilai penting bagi anak negeri Bantaeng. Diakui atau tidak, kehadirannya ikut menguatkan moncernya gerakan literasi di Bantaeng. Perkaranya, masih secuil seorang birokrat menulis buku.

Meskipun buku ini masih dicetak secara terbatas dalam balutan penerbitan indie, setidaknya telah mengayakan jagat perbukuan di Bantaeng. Dan, sebagai rekomendasi mewakili beberapa penonton interaktif di dunia maya, maupun anak-anak negeri yang butuh asupan jiwa, sebaiknya buku ini diterbitkan secara elegan. Sehingga, pewarisan literasi quote, makin tokcer.

Percayalah, Tabe Bija, akan menjadi salah satu sumber kutipan, rujukan quote dari para penggilanya. Buat apa? Mungkin untuk keperluan saat berpidato, memotivasi orang lain, atau sekadar pajangan pendukung gambar dan video di media sosial sebagai caption.


Comments

3 responses to “Tabe’ Bija: Serupa Literasi Qoute”

  1. Ranca Avatar

    Semoga gairah literasi di lingkup DPPKB dibawah arahan dan teladan dari Pak Kadis akan mulai membara hingga terwujud karya karya selanjutnya,

    Mohon dampinganta k’

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Insyaallah. Barakallah untuk kita semua.

  2. Belum dibaca saja isinya, sudah ada getaran hati yang teduh dari penulis. Semoga jaya dan selalu menjadi kenangan abadi dimasa datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *