Memoncerkan gerakan literasi di sekolah, mesti menyodorkan seribu satu kiat. Selain panduan Gerakan Literasi Sekolah, diperlukan pula tindakan praktis berbasis konteks kebutuhan, sebentuk pembumian literasi. Guru, pustakawan, dan siswa harus padu padan mengingtegrasikan diri dalam satu kesatuan kolektif kelegial, bernapaskan gerakan literasi.
Sekotahnya punya pemantik. Termasuk apa yang baru saja saya lakoni pada satu lembaga pendidikan, MTs. Ma’arif NU Lasepang Bantaeng. Tepatnya, 30 April 2024, pagi-siang, saya diundang untuk memantik percakapan di helatan, Pelatihan Duta Literasi Perpustakaan Al-Iqra Angkatan 1 Mts. Ma’arif NU Lasepang. Bertemakan, “Membangun Budaya Literasi 1001 Buku di Lingkungan Madrasah”.
Sebelum bercuap-cuap, terlebih dahulu ada semacam acara seremonial. Di antaranya, laporan kepala perpustakaan, Musrifah, S.Pd. Lalu sambutan kepala madrasah, Mahrus, S.Pd.I, kemudian disusul oleh Kasi Pendmad Kemenag Bantaeng, Suharti, S.Pd.,MM. Mahrus lebih mengarahkan ungkapannya pada bagaimana memberdayakan perpustakaan madrasah agar memoncerkan tradisi literasi di lingkungan sekolah. Sementara Suharti, lebih mengedepankan literasi sebagai upaya menyongsong berbagai even literasi di tingkat kabupaten hingga nasional.
Hadirnya helatan pelatihan duta literasi ini, menurut Mahrus, motivasinya bermula tatkala Mts. Ma’arif NU Lasepang Bantaeng ikut berkompetisi lomba perpustakaan tingkat SMP dan sederajat, diadakan oleh Perpusda Bantaeng beberapa bulan lalu. Ingatan saya langsung melambung pada ajang kompetisi tersebut. Pasalnya, saya didapuk oleh Perpusda Bantaeng sebagai salah seorang tim penilai. Hasilnya, madrasah ini meraih peringkat Juara Harapan 1.
Sekadar menghangatkan ingatan, selain saya memberikan penilaian sesuai petunjuk kompetisi dari Perpusda Bantaeng, saya pun lebih banyak menyampaikan usulan, sebagai rekomendasi buat penguatan perpustakaan sekolah. Sungguh, usulan dan rekomendasi tersebut, nyaris saya abaikan sebab tiada urita di bulan berikutnya. Namun, tidak bagi Mahrus, sang kepala madrsah, ia merasa amat penting mewujudkannya.
Pelatihan duta literasi, hanyalah salah satu dari sekian usulan dan rekomendasi saya. Bagi Mahrus, pelatihan ini merupakan pintu masuk, guna mengawali memoncerkan perpustakaan madrasah. Atas lapik itulah, saya mengkhusyukkan diri agar lebih adaptif terhadap kebutuhan madrasah.
Disebabkan pelatihan ini berbau pembekalan buat calon duta literasi, maka pendekatan saya lebih bersifat santiaji. Supaya calon duta literasi yang berjumlah 27 siswa-siswi, dari kelas 7-8, memahami posisinya sebagai duta literasi nantinya, saya ajukan pemahaman kediriannya secara sederhana.
Menegaskan kepada mereka arti seorang pelajar sebagai pembelajar. Mengenalkan organ tubuh paling berharga yang terkait kepribadian: otak. Menerangkan belahan otak kiri-kanan dan cara kerjanya. Dan, lebih dari itu, potensi kecerdasan yang ada pada mereka, melalui pemaparan kecerdasan majemuk (multiple intelegence). Tak lupa, saya dedahkan proses bagaimana alur membaca-menulis, guna mengaktualkan beragam kecerdasan.
Kalakian, saya mendedahkan hasil-hasil riset yang mendapuk Indonesia sebagai negara berliterasi rendah. Sekaligus, megedepankan rekomendasi Unesco akan pentingnya pengentasan 6 literasi dasar: baca-tulis, numerasi, sains, informasi digital, finansial, dan budaya-kewargaan. Namun, segera saya tabalkan, literasi baca-tulis merupakan dasar segala literasi lainnya. Baca-tulis adalah koentji.
Beruntung di arena pelatihan ini sang kepala madrasah dan guru pendamping ikut menyimak. Meskipun mendekati pucuk helatan, sang kepala madrsah mohon izin dikarenakan ada keperluan lain. Eloknya, kepala perpustakaan sekolah, Musrifah, mengawal pelatihan hingga akhir.
Penguatan kapasitas terhadap sekotah calon duta literasi, bila ingin terkonsolidasi lebih rapi, maka perlu diwadahi secara kelembagaan. Saya lalu mengusulkan supaya ada sebentuk organisasi ekstrakurikuler, berbentuk ekskul literasi. Bagaimana mewujudkannya? Saya usulkan agar dibikin hajatan kembali, guna membentuk wadah literasi tersebut.
Di pucuk persamuhan, saya bercerita kepada segenap penghadir, tentang salah satu sekolah di Bantaeng yang telah membentuk ekskul literasi. Meskipun sekolahnya lebih tinggi jenjangnya, SMA. Persisnya, SMA Negeri 4 Bantaeng.
Begini ceritanya. Sekali waktu, ada acara di Hotel Ahriani Bantaeng, terkait Kick Off RPJMD Kabupaten Bantaeng 2025-2045. Sebelum acara dimulai, saya bercakap-cakap dengan Kepala Sekolah SMA Neg 4 (Smapat) Bantaeng, Syafruddin, S.Pd,. MM. Percakapan seputar gerakan literasi sekolah, lalu mengerucut pada satu usulan saya, bagaimana kalau dibentuk ekskul literasi di Smapat sebagai pilot project.
Tanpa pikir panjang, beliau setuju. Saat itu juga, beliau menelepon salah seorang guru, agar mengidentifikasi seluruh siswa kelas 10-11, yang punya minat literasi. Walhasil, usai acara kick off, sudah tersedia nama sekitar 40-50 siswa. Hebatnya lagi, sepekan kemudian saya diundang ke sekolah untuk memberikan orientasi pentingnya ekskul literasi.
Pekan berikutnya, saya diundang kembali, guna memberikan penguatan kapasitas, serupa santiaji literasi. Lahirnya ekskul literasi ini, mereka namakan, “Refleksi” akronim dari Remaja Kreatif Melek Literasi. Ekskul Literasi Refleksi, amat dinamis kegiatannya. Paling tidak, saya bisa ikut memantau lewat grup WA bikinan mereka.
Lumayan banyak agenda yang pernah saya bincangkan dengan sang kepala sekolah, Syafruddin. Namun, Yang Mahakuasa punya rencana lain yang saya sendiri belum memahaminya. Pak Syafar, sebagaimana publik Bantaeng menyapanya, telah dipanggil kembali kepada-Nya, beberapa hari setelah lebaran Idulfitri. Jadi, saya mesti menata ulang berbagai agenda dengan segenap pengurus Ekskul Literasi Refleksi, beserta para pembinanya.
Sengaja saya ceritakan Ekskul Literasi Refleksi Smapat Bantaeng, kepada segenap penghadir di Pelatihan Duta Literasi MTs Ma’arif NU Lasepang Bantaeng, sebagai ekskul literasi pertama lahir di Bantaeng, atau mungkin di Sulawesi Selatan, bahkan seluruh Indonesia. Sebab, sependek pengetahuan saya, belum saya temukan apa yang telah dibikin oleh Smapat Bantaeng.
Artinya, bilamana MTs Ma’arif NU Lasepang mengikuti jejak Smapat Bantaeng, maka boleh saya tegaskan, akan menjadi sekolah menengah pertama atau yang sederajat mewujudkan Ekskul Literasi. Sebentuk tindakan menubuhkan duta literasi ke ekskul literasi. Dan, di atas semuanya, saya ingin bertandang kembali, buat menguatkan tekad memoncerkan literasi di lingkungan madrasah. Sebagaimana amanat Mahrus, sang kepala madrasah.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply