Category: Esai
-

Benteng Terakhir Bernama Sekolah
Rasanya tidak ada yang lebih mengecewakan perasaan seorang guru, kala menyaksikan satu per satu muridnya meninggalkan sekolah. Itulah yang saya rasakan ketika pada suatu pagi yang mendung, dekat meja guru di pojok kelas, saat nama-nama murid saya panggil satu per satu dan salah seorang menjawab, “Sudah tidak ke sekolah, Pak. Kemarin berangkat ke Malaysia.” Saya terpaku…
-

Perempuan dalam Bayang-Bayang Pujian Dangkal
“Seorang perempuan selalu mudah dipengaruhi dengan diberi pujian-pujian mengenai penampilannya daripada mengenai jalan pikirannya.” (Simone de Beauvoir) Saya sering bertanya-tanya, mengapa pujian untuk perempuan lebih sering berkutat pada kecantikannya dibandingkan dengan cara berpikirnya? Sebenarnya, ini bukan sekadar fenomena sosial yang terjadi di media atau ruang publik. Tetapi, ini adalah refleksi dari cara kita membentuk makna…
-

Pembelajaran Mendalam: Saatnya Sekolah Berhenti Jadi Museum Pendidikan
Bayangkan ini: seorang siswa belajar bahasa asing selama enam tahun. SMP tiga tahun dan SMA juga tiga tahun. Tetapi ketika diminta berbicara dengan turis asing, ia hanya bisa tersenyum kecut. Atau, seorang anak yang sudah bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia, tetapi tak mampu menyampaikan ide dengan jelas. Siapakah anak itu? Saya salah satunya, teman kelasku, teman…
-

Ruang Alonica II
Jumat siang, awan tebal di langit sepertinya akan menumpahkan sejuta butir air. Saya bergegas melaju, ke tempat yang sudah lama saya rencanakan, rindu menyeruput kopi gula aren yang lezat di sebuah cafe bernama Alonica. Serta beberapa menu lain yang juga tak kalah lezatnya, sila merasakan sensasi itu. Cukup recommended untuk dinikmati. Ditambah juga sisi ruangan…
-

Keunikan Pesantren, Santri, dan Orangtua
“Jangan maki sekolah di pesantren, karena pasti kamu hanya akan jadi imam masjid atau jadi imam kampung. Dicari saat ada yang meninggal atau ada yang mau syukuran selamatan untuk baca-baca songkolo.” Setidaknya, kutipan kalimat tersebut di atas, masih sering muncul di kalangan masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan pondok pesantren. Pesantren sebentuk lembaga pendidikan Islam. Santri…
-

Teka-Teki Libur Ramadan: Drama yang Tak Perlu
Sepertinya, dunia pendidikan kita telah menjelma panggung sandiwara yang tak pernah kehabisan drama. Dan kini, lakon terbaru yang dipentaskan adalah teka-teki seputar libur Ramadan. Kabar ini bermula dari pernyataan pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengisyaratkan akan ada kajian ulang soal kebijakan libur selama bulan Ramadan. Pernyataan itu sontak memicu berbagai spekulasi, seolah-olah publik…
-

Tangan Dingin Hansi Flick Meracik Blaugrana
Dunia sepak bola senantiasa penuh teka-teki. Banyak misteri pengiringnya. Terkhusus pemain dan pelatih. Ada pemain bintang, tapi tidak berhasil menjadi pelatih cemerlang. Namun, tidak sedikit pemain bukan bintang, tapi berhasil menjadi pelatih sukses. Hansi Flick adalah salah seorang pemain, lalu menjadi pelatih. Flick berkebangsaan Jerman, pernah memperkuat beberapa klub Eropa. Dia salah satu nama jajaran…
-

Menghapus Kenangan Pahit?
“Aku percaya semua orang terlibat dalam hidupku akan mengkhianati. Aku percaya akan hal itu, meski mereka akan menyangkalnya,” Ungkap Mike Tyson. Sebuah pembuka yang menghentak. Saya mencoba mengalir hingga ke hilir, sambil belajar mengukir kembali. Katanya sekelompok ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan pendekatan baru untuk membantu menghapus kenangan buruk. Bagaimana caranya?Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung…
-

Fatherless: Hubungan Anak Laki-laki dengan Sang Ayah
Pada jejak waktu ini, banyak istilah psikologis yang populer di kalangan masyarakat, seperti healing, toxic relationship, ansos, burn out, mindfulness, self diagnose, dan masih banyak lagi. Kepopuleran istilah psikologis tersebut tidak jauh dari dampak bermedia sosial. Individu yang tiap waktu senggang ataupun sibuk memakai smartphone-nya untuk menjelajah dunia maya, kerap kali bertemu dengan istilah-istilah psikologis…
-

Kultus Skincare, Penjara Baru bagi Perempuan
Pernah suatu kali, seorang teman berkata dengan bercanda, “Wajahmu glowing yah kalau di foto? Tapi kalau di dekat, ternyata banyak bintik-bintiknya.” Saya hanya tersenyum sambil meneguk secangkir kopi yang baru saja kuseduh. Sebenarnya, kata-katanya tidak menyakitkan, tetapi tetap meninggalkan tanda tanya di pikiran saya. Mengapa kecantikan kini seolah lebih dari sekadar pujian? Mengapa kita merasa…
