Kepak Sayap Skuad Garuda

Sepanjang perjalanan belantika sepak bola nasional, sepertinya, baru kali ini Tim Nasional Indonesia (Timnas Indonesia) mendapat dukungan moral sangat besar dari mansyarakat luas, dari ujung timur ke barat, utara ke selatan Indonesia.

Apa pasal? Pertama kalinya Timnas Indonesia lolos pada semi final piala asia U-23 AFC 2024. Kejuaraan ini diadakan 2 tahun sekali. Skuad yang dinobatkan pemenang dalam kompetisi ini, akan mengikuti cabang olahraga sepak bola pada Olimpiade Musim Panas 2024.

Tidak hanya itu, tiga tim teratas pada akhir turnamen tersebut, pun ikut lolos ke Olimpeade di Paris Prancis. Sedangkan urutan keempat akan memainkan pertandingan perebutan tempat (play-off) AFC –CAF, untuk memperebutkan tiket yang tersisa.

Sebagaimana hasil pertandingan, sudah dapat dipastikan, tiga skuad,masing-masing mewakili negaranya, akan mengikuti kejuaran akbar olimpiade tahun 2024, yakni Jepang, keluar sebagai sang juara, di susul Uzbeskitan dan Irak sebagai juara dua dan tiga.

Sementara, nasib Tim Nasional Indonesia akan ditentukan pada akhir laga,  berhadapan dengan negara Benua Afrika, Guinea, Pada hari Kamis, 09 Mei 2024, pukul 19.00 Wita.

Lalu, bagaimana hasil akhirnya? Tim nasional yang diarseteki  Shin Tae Yong harus menelan pil pahit, kalah tipis dengan skor akhir 1-0. Atas kekalahan beruntun itu, Shin Tae Yong tidak memberikan alasan apa pun penyebeb kekalahan timnya, bahkan ironis, sang pelatih lkenamaan itu, dihadiahi hukuman kartu merah, sehingga tidak dapat mendampingi skuadnya, hingga pertandingan berakhir.         

Negara Indonesia yang terdiri pulau, membentang sangat luas, ditambah jumlah penduduk, kurang lebih 280 juta jiwa, mestinya menjadi potensi besar atas kemajuan olahraga sepak bola, tapi yang terjadi, hanya menjadi konsumen dari gemerlap dunia sepak bola.

Apakah 280 juta jiwa penduduk Indonesia tidak memiliki kemampuan mengocek bola? Seperti bintang bola Eropa yang merajai dunia bola saat ini. Pertanyaan kritis yang belum terjawab hingga kini.

Jika ditelisik lebih jauh, sejarah persepak bolaan nasional mengalami beberapa persoalaan akut, mulai dari kepengurusaan organisiasi, kompetisi, wasit, pemain, supporter, pembinaan, sarana prasarana, dst. Sekumtum persoalan itulah, menjadikan tim nasional miskin prestasi dari masa ke masa.

Mungkin, sudah menjadi rahasia umum, dunia sepak bola tidak sekadar cabang olah raga semata. Dinamika sepak bola sarat pula dengan urusan bisnis, korporasi, politik, dll.

Untuk mengorganisir urusan-urusan tersebut, para pemangku elite sepak bola menghimpun dalam sebuah organisasi atau federasi  sepak bola, baik skala nasional maupun internasional. Sebut saja PSSI, FIFA yang banyak dikenal khalayak.

Tumbuh kembang sepak bola tidak lepas dari peran organisasi maupun federasi tersebut. Tak jarang, berbagai kemelut sering kita saksikan pada organisiasi itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi.

Sedikit banyaknya, kita mesti bangga atas perjuangan timnas U 23 yang baru saja berlaga di ajang AFC 2024. Mesti kandas, perjuangan Timnas Indonesia telah monorehkan sejarah baru. Lebih dari itu, sepak bola pun membangkitkan gairah nasionalisme  anak-anak negeri. Apa pun itu, sebuah pencapaian tidak terlepas dari tangan dingin para pemangku atau penentu kebijakan.

Eksisitensi PSSI memiliki peran strategis pada kemajuan sepak bola nasional. Maju mundurnya sepak bola nasioanal sangat ditentukan orang-orang dalam federasi tersebut.

Bila dibandingkan dengan masa sebelumnya, PSSI sekarang jauh lebih baik, apalagi kepengurusan PSSI dinahkodai oleh orang yang lama melanglang di buana persepak-bolaan. Sudah waktunya sepak bola nasional diurus secara profesional, jika ingin melihat anak-anak negeri mencuri perhatikan dunia sepak bola.

Saya menyakini, PSSI sebagai induk organisasi sepak nasional, bakal membawa tim nasional ke kancah internasional, apabila dipenuhi oleh orang-orang professional. Federasi itu, tidak lagi disibukan dengan kekisruan internal, saling sikut, tackling, diving sesama anggota pengurus, serupa kebiasaan buruk di lapangan bola, yang direplikasi ke dalam organisasi.

Mafhum adanya, peristiwa kekisruan tidak hanya terjadi di PSSI maupun di beberapa federasi di negara lain, ironisnya, terjadi pula di FIFA, selaku organisasi induk federasi sepak bola dunia. Hal ini, makin kuat mengindikasikan, sepak bola bukan sekadar olahraga semata, tapi di baliknya ada semacam, jika tak ingin mengatakan, sindikat bisnis besar.        

Upaya membawa timnas berlaga dikancah dunia terbuka lebar. Memasuki tahapan kualifikasi piala dunia, Timnas Indonesia dan PSSI menyiapkan strategi baru, agar lolos dalam kompetisi sepak bola terakbar dunia, yang akan dihelat tahun 2026 di tiga negara sekaligus, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Untuk ikut di ajang bergensi itu, tentulah tidak mudah, seperti semudah membalik telapan tangan. Melalui urita media-media nasional, PSSI bersama pelatih Shin Tae Yong, akan segera melakukan naturalisasi pemain Skuad Garuda. Opsi ini dipilih, supaya terjadi akselerasi gaya permainan bola, antara pemain lokal dan asing.

Pemain asing naturalisasi akan dipanggil memperkuat Skuad Garuda, tentu dengan syarat tertetu. Pola seperti itu terbuktinya berhasil, saat Timnas Indonesia berlaga di ajang piala AFC, walaupun hasilnya belum maksimal, tetapi memberi tontonan yang menarik.

Seiring  kemajuan Timnas Indonesia makin baik, sejalan pula dengan animo masyarakat makin besar. Bagaimana tidak, tiket penonton laga kualifikasi piala dunia yang dijadwalkan bulan depan, terjual habis. Pada laga ini, Skuad Garuda akan menghadapi Irak, Kamis, 6 juni, di Stadion Gelora Bung karno.

Erik Thohir, saat ditemui pewarta berita, mengaku, optimis Timnas Indonesia akan memberi permainan terbaik, apalagi, sejumput pemain naturalisasi, menyatakan akan bergabung.

Di tengah gegap gempita Skuad Garuda, di luar sana, sejumlah pengamat sepak bola nasional bersuara lantang, mengkritik pola naturalisasi yang dianggap mengesampingkan pola pembinaan sepak bola bagi generasi pelanjut.

Para pengamat itu, menyarankan agar PSSI lebih fokus terhadap sekolah-sekolah sepak bola, guna mencetak pemain-pemain profesional di masa mendatang.  

Lepas dari semua itu, bagi masyarakat Indonesia, berharap, PSSI  mampu membuat Skuad Garuda terbang mengangkasa, mengitari dunia, agar dunia melihat, Indonesia layak diperhitungkan. 

Kredit gambar: https://www.panditfootball.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *