“Meski seribu kali kau thawaf mengelilingi Ka’bah, Tuhan tidak menerima thawafmu jika kau masih menyakiti hati.” (Maulana Jalaluddin Rumi)
Banyak pengalaman haji sering kita lihat, dengar, maupun rasakan. Baik pengalaman individu maupun dari orang lain. Ibadah fisik dan spiritual ini, adalah wajib hukumnya, apabila telah memenuhi syarat-syaratnya. Olehnya itu, orang-orang berusaha sekuat-kuatnya memenuhi syarat-syaratnya, demi melangkahkan kaki di tanah yang Allah sucikan itu.
Sebagaimana makna dari setiap ibadah, setiap orang memiliki niat dan tujuan menunaikan ibadah. Maka, terkandunglah makna esoteris dan eksotoris dalam melakukan setiap ibadah. Begitu pula menunaikan ibadah haji, seseorang dianggap mabrur hajinya apabila ibadah haji ditunaikan secara esoteris, yakni melaksanakan seluruh rangkaian haji, semata-mata mengingat Tuhan dan melupakan yang lain.
Sebaliknya, melaksanakan seluruh rangkaian haji dengan embel-embel pengakuan diri, selain atas nama Tuhan, berarti orang tersebut masih berkutat pada ibadah eksotoris.
Pendeknya, hanya ibadah esoteris yang terima oleh Tuhan, selain itu tertolak. Kata Rumi, “Jiwa adalah esensi, selebihnya hanya embel-embel. Jangan puas dengan cangkang, tetapi petik mutiaranya.”
Kebanyakan laku ibadah, khusus kaum muslim dilakukan dengan gerak. Ini menandakan, dalam gerak ada makna rohani tersembunyi, sebagaimana setiap orang memiliki maqam rohani berbeda-beda.
Ibadah haji terdiri dari beberapa rangkaian gerak, mulai dari menempuh perjalanan panjang, dari tanah air menuju tanah suci, setelah itu menunaikan rukun-rukun haji, lalu berkurban, hingga pulang kembali ke tanah air.
Dari rangkaian gerak ibadah haji tersebut, serupa pula dengan dengan makna esoteris yang tekandung pada perjalanan ibadah haji. Bagi seorang pesuluk mengartikulasikan ibadah haji serupa dengan empat tahapan perjalanan manusia dalam mengarungi jalan rohani, yakni dari makhluk menuju Tuhan, kemudian dari Tuhan menuju Tuhan bersama Tuhan, lalu, dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan, dan terakhir, dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan.
Empat perjalanan manusia itu tercermin dari gerak perjalanan ibadah haji. seluruh rangkaian ibadah haji merupakan perjalanan Rohani, sehingga bagi pejalan, mesti memiliki kesiapan jiwa dalam melaksanakan seluruh prosesi ibadah haji.
Setidaknya, bagi pejalan senantiasa menjaga batinnya, agar selalu dalam keadaan merasakan kehadiran Tuhan dalam kondisi apapun (Muraqobah), dan senantiasa melakukan kebaikan, sembari mengintropeksi diri atas segala sesuatu yang akan, sedang dan telah dikerjakan (Muhasabah). Pasalnya, menjaga batin dan berbuat kebaikan, akan mendatangkan rasa kebertuhanan pada diri seseorang.
Para pesuluk meyakini, kesadaran Ilahia akan diturunkan kepada manusia sesuai dengan eksistensi manusia. Seluas apa eksistensi manusia, seluas itulah perjalanan manusia mengarungi jalannya.
Sebagai amsal, ibarat air hujan yang turun, tergantung pada kesiapan jiwa manusia dalam mempersiapkan wadah tersebut. Sebesar apa wadah tersebut, maka sebesar itu pula yang akan diperoleh.
Bukankah setiap saat Tuhan mencipta, artinya, setiap saat Tuhan memberikan rahmatnya seperti turunnya air hujan. Rahmat Tuhan turun kepada siapa saja, tetapi, ada yang menyiapkan wadah dan ada yang tidak.
Pada diri manusia terdapat wadah, semacam singgasana Tuhan, di situlah bersembayam sekotah karunia Ilahi. Wadah itu tak lain adalah hati. Tuhan hadir di hati melalui asma-asmanya.
Sudah menjadi umum diketahui, jalan menuju Tuhan tak tebatas. Bagi seorang pesuluk menyakini, memiliki hati yang bersih merupakan jalan tercepat menuju Tuhan.
Dalam pandangan sufistik, ketika hati mampu mengalahkan akal, akal kita tunduk di hadapan singgasana hati. Sadar maupun tak sadar, sesungguhnya kita berada dalam perjalanan menuju titik keabadiaan. Orang yang paham tentang itu, selalu menjaga hatinya, agar senantiasa mengingat Tuhan.
Ibadah haji serupa dengan perjalanan rohani, biasa disebut gerak jiwa manusia. Semakin melepaskan diri dari ketergantungan materi, maka dimungkinkan meraih maqam-maqam rohani.
Memang tampak dirasakan ibadah haji membutuhkan tenaga dan fisik prima, karena itulah seolah tubuh terbebani, dan berlawanan dengan kenikmatan tubuh.
Di balik derita tubuh itu, Tuhan menerangkan dalam surah Annisa ayat 19, “Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Tuhan menjadikan padanya kebaikan yang berlimpah ruah.”
Gambaran dari empat tahapan perjalanan manusia itu, dapat ringkas manakala makhluk menuju Tuhan, sama halnya dengan seseorang yang hendak melakukan perjalanan dari mukim menuju tanah suci, sebaiknya melepaskan segala tirai kegelapan dirinya.
Kemudian, dari Tuhan menuju Tuhan bersama Tuhan, yakni, ketika berada di tanah haram, saatnya melepaskan segala urusan duniawi, yang ada hanya kehadiran Ilahi semata.
Selanjutnya, dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan. Setelah menunaikan seluruh rukun-rukun haji, setiap insan membuktikan kesetiannya dengan rela berkorban demi kecintaanya kepada Ilahi.
Terakhir, dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan, artinya, manakala gelar haji telah disematkan dan kembali di tengah masyarakat, maka, segala ucapan dan lakunya beraroma Ilahi.
Pada akhirnya, pembuktian perjalanan haji hanya dapat lihat sejauh mana seseorang meraih maqam-maqam spiritual, jauh dari segala embel-embel gelar yang sering dilabelkan orang pada umumnya.
Bukankah hakikatnya manusia adalah makhluk spiritual, hal itu dipernah dibeberkan oleh Tielhard de Chardin, seorang filsuf asal Perancis, “Kita bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani pengalaman manusia.”
Sadar atau tidak, sebagai makhluk spiritual, kita sedang berjalan menuju Tuhan. Siapa saja yang melakukan tahapan penyucian jiwa, baginya dimungkinkan meraih singgasana Tuhan.
Intinya, apakah manusia ingin mensucikan jiwanya atau tidak? Sebab, hanya jiwa yang tenang akan kembali kepada Tuhan dengan hati yang rida lagi diridahi.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply