Category: Esai

  • Ayah dan Rapor

    Ayah dan Rapor

    ‎Saya tergugat dan tergugah seketika, saat  menerima pesan WhatsApp, bahwa hari penerimaan rapor harus dihadiri oleh ayah. Saya menatap Argan yang sudah siuman bergegas menuju kamar mandi.   ‎Sesaat kemudian Argan lengkap dengan seragamnya, saya sambil mengusapnya dan membujuknya. Maafkan saya, tidak harus hadir mewakili ayahmu.  Dia mengangguk melepaskan senyuman seperti biasa,  dan saya sangat paham…

  • Pemuda dan Sejarah: Refleksi Pemikiran Barlop

    Pemuda dan Sejarah: Refleksi Pemikiran Barlop

    Suatu ketika, Prof. Dr. Baharuddin Lopa (sering disingkat Barlop) ditanya tentang kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda. Alih-alih menyoroti isu hukum atau korupsi yang menjadi bidang keahliannya, Barlop; sapaan akrab beliau, justru mengungkapkan kegelisahan yang tak terduga: generasi muda kehilangan arah karena tidak memahami sejarah bangsanya sendiri. Pernyataan ini mengejutkan, namun menyimpan makna yang dalam.…

  • Catatan Jujur dari Ruang Belajar Jurnalisme

    Catatan Jujur dari Ruang Belajar Jurnalisme

    Saya baru saja memulai langkah di dunia jurnalistik sebuah ruang yang sejak lama saya kagumi, sekaligus saya waspadai. Dunia di mana kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan tanggung jawab. Di sinilah niat diuji, integritas dipertaruhkan, dan kejujuran terus-menerus dipertanyakan. Seiring perjalanan itu, saya mulai menyadari satu hal sederhana namun menentukan: sikap orang terhadap saya berbeda-beda.…

  • Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga

    Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga

    Sekira 10 tahun belakangan ini, setiap bulan Desember, baik saat menjelang peringatan Hari Jadi Bantaeng, maupun sesudahnya, saya amat suka mengintimi perkara-perkara berdimensi Butta Toa sebagai julukan Kabupaten Bantaeng. Selain bersilaturrahmi dengan budayawan, tetua negeri, juga amat intens mengeja karya-karya literasi terkait masa silam Bantaeng. Bentangan masanya cukup panjang untuk dintimi, sejak zaman Orang Toala,…

  • Perempuan tanpa Kepala: Warisan Patriarki yang tidak Terlihat

    Perempuan tanpa Kepala: Warisan Patriarki yang tidak Terlihat

    Aku selalu merasa ada yang hilang dari diriku, jauh sebelum aku mampu menamainya. Rasanya seperti ada bagian tubuhku yang tidak pernah tumbuh, bukan tangan, bukan kaki melainkan kepala: ruang tempat pikiranku seharusnya bebas bernapas, mengalir, dan menentukan arah. Aku tumbuh sebagai perempuan yang lengkap secara fisik, tetapi ‘tidak utuh secara sosial’. Dan aku tidak sendirian.…

  • Sampulo Anrua Jarang: Sebuah Prosesi Budaya

    Sampulo Anrua Jarang: Sebuah Prosesi Budaya

    ‎‎Sampulo anrua jarang, iratemi loklorangna jannanga, nabae  angtamaka ri ada 12.  Nani erang akkusiang, surang akrapang-akrapang ri allo kalompoangna Bantaeng. ‎‎ Anre todo naku barani erok nikua, kapitu-pitu, mingka se’re pakkusiang ro kalompoangna angjari tanra se’rea pangadakkang ri butta majannanga. ‎‎Na’rappungmo sekre loklorang jannang, risesena sekre pangadakkang.  Langjari tanra bunganna ia naerang pasang angkongngia: “Nia’…

  • Menjadi Manusia Kaloli

    Menjadi Manusia Kaloli

    Kamu adalah apa yang kamu makan. Isi piringmu mencerminkan kepribadianmu. Apa yang kamu makan mencerminkan siapa dirimu. Makananmu mengungkapkan karaktermu. Kepribadianmu tercermin dalam apa yang kamu pilih untuk dimakan. Tunjukkan makananmu, dan aku akan tahu siapa dirimu. Makanan tidak hanya mengenyangkanmu, tetapi ia mengungkapkan dirimu. Sederet kalimat-kalimat bijak tersebut, paling sering muncul di media sosial.…

  • Dari Pakaian ke Pikiran: Refleksi Hari Jadi ke-771 Kabupaten Bantaeng

    Dari Pakaian ke Pikiran: Refleksi Hari Jadi ke-771 Kabupaten Bantaeng

    Bukan kawan, bukan pula keluarga, melainkan Facebook, yang menyeret ingatan saya pada memori lima tahun silam, sebuah takarir pada foto saya berpakaian adat, terunggah tepat di Hari Jadi ke-766 Kabupaten Bantaeng. Isinya tak muluk-muluk, hanya sejumput catatan reflektif yang saya ketik-hapus sambil lalu. “Memakai pakaian adat adalah salah satu. Satu yang lain adalah melestarikan pikiran…

  • Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng: Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa

    Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng: Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Serikat Petani Alami Butta Toa

    Kabupaten Bantaeng dikenal sebagai salah satu daerah agraris yang sarat tradisi dan kearifan lokal. Di balik lembah subur yang dikelilingi gugusan pegunungan, warga Bantaeng telah lama menanamkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai tersebut kembali menggema melalui tema Hari Jadi ke-771 Bantaeng, “Bangkit Semarak Deru Tradisi Bantaeng”, sebuah upaya menghidupkan kembali warisan…

  • Tongkat Naga dan Rumah Berpunggung Makhluk Mitis: Jejak Sunyi Tiongkok dalam Tradisi Kebangsawanan Bantaeng

    Tongkat Naga dan Rumah Berpunggung Makhluk Mitis: Jejak Sunyi Tiongkok dalam Tradisi Kebangsawanan Bantaeng

    Bantaeng sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, merupakan wilayah Nusantara yang tumbuh dengan sejarah pelayaran, perjumpaan, dan pertukaran budaya. Paling tidak, lewat kisah pelayaran Sawerigading yang berlabuh di Gantarangkeke dan penyebutan wilayah Bantayan dalam kitab Negarakertagama, karangan Empu Prapanca di era Kerajaan Majapahit, sudah memadai penandanya. Ombak yang menghampar dari Makassar hingga pesisir selatan…