Category: Esai
-

Dua Kecamuk Amarah Menghidu Hari Jadi ke-771 Bantaeng
Kadangkala satu negeri mengulang hari jadinya, bukan dengan kesemarakan pesta semata, melainkan peristiwa penanda tak terduga. Penanda datang serupa interupsi, agar sekotah anak negeri mawas diri. Sebab, kehadirannya muncul dari arah tak disangka-sanga. Bantaeng, per 7 Desember 2025, sudah memangsa waktu tujuh abad lebih, persisnya 771 tahun. Peringatan hari jadinya tidak main-main. Pasti menghabiskan biaya…
-

Satu Guru Satu Buku: Kado Literasi Hari Guru SMP Negeri 3 Gantarangkeke
Dalam sebuah perayaan yang menggugah semangat literasi, SMP Negeri 3 Gantarangkeke sukses menggelar gerakan “One Teacher, One Fiction Book” atau “Satu Guru, Satu Buku Fiksi.” Kegiatan mulia ini dilaksanakan tepat pada momentum Hari Guru Nasional 2025, menjadi simbol nyata komitmen para pendidik untuk mencetak generasi pembaca yang kritis dan imajinatif. Inisiatif ini dipersembahkan sebagai “Kado…
-

Jalan Kesunyian
“Diamlah. Diam adalah bahasa Tuhan. Segala yang lain hanyalah terjemahan yang keliru.” (Rumi) Di tengah kebisingan dunia, banjir informasi, dan luapan kata-kata, memilih lebih banyak diam, dan meresapi makna dari seluruh linimasa peristiwa, adalah pilihan sadar. Keinginan menunjukkan eksistensi diri, kadang, kita lupa jati diri. sejenak, kita perlu mengosongkan diri dari perkara mengeluti jiwa. Interaksi…
-

Nalar Literat sebagai Fondasi Peradaban
Gedung kadang menjadi saksi atas hadirnya lintasan percakapan unik dan berdimensi ke masa depan. Mengimajinasikan masa datang, berlapik pikiran kekinian, usai mengeja minda masa silam. Eloknya lagi, bila percakapan itu dihelat oleh sekelompok kaum muda-mahasiswa, buat satu negeri, demi tanggungjawab selaku agen perubahan. Bangunan berupa kantor, di dalamnya ada satu sudut ruang, bernama Studio Mal…
-

Krisan Putih Khatulistiwa
Pekan ini, ada dua perhelatan yang ingin saya hadiri dan kebetulan berlokasi di Jakarta. Reken-reken sebentuk healing, setelah hampir enam bulan lamanya beradaptasi dengan lingkungan baru. Pertama, mewakili Komunitas Rumah Koran, Kanrepia, Kabupaten Gowa pada ajang Indonesia Baik Award 2025. Kedua, berkunjung pada kegiatan Balai Bahasa yang dihadiri TBM Rumah Nalar, Kabupaten Bulukumba. Tenang rasanya…
-

Filsafat sebagai Etos Hidup di Zaman AI
Saya menulis esai ini dengan perasaan yang sulit saya gambarkan. Ada semacam getaran halus di dalam diri saya, seperti campuran antara kekaguman dan kegelisahan yang tidak mudah dijernihkan. Tahun ini, tepatnya Kamis 20 November kemarin, ketika dunia merayakan Hari Filsafat Sedunia 2025, saya ingin turut merayakan dengan cara yang paling dekat dengan diri saya yaitu…
-

Hari Guru?
Argan berusaha menutupi suasana hari- harinya, yang kadang menggerutu dan malas-malasan saat bangun pagi, mandi, sikat gigi, lalu berangkat ke sekolah. Pagi ini bangunnya telat, saat saya lupa bahwa hari ini sekolah diliburkan karena perhelatan seremoni bernama hari guru. Maka libur sehari dalam rangka memperingati hari guru katanya. Di sisi lain tegaknya pengetahuan, sejarah…
-

Salahkah Saya Menjadi Katolik?
Judul tulisan di atas terinspirasi dari pertanyaan salah seorang peserta yang beragama Katolik dalam kegiatan Short Course Moderasi Beragama yang digelar Fatayat NU Sidrap bersama Balai Litbang Agama Makassar pada 14–15 November 2025 lalu. Pertanyaan itu bukan sekadar mencari jawaban teologis, melainkan jeritan nurani dari luka yang telah lama terpendam. Pasalnya, sejak kecil, sang penanya…
-

Secarik Renungan tentang Perempuan, Fitrah, dan Dilema Zaman
Beberapa hari lalu, seorang sahabatku di Chicago bertanya, satu pertanyaan yang selalu mengusik perjalanan batinku: “Bagaimana sebenarnya peran perempuan ketika bekerja?” Pertanyaan itu tidak hanya teoretis bagiku, ia menyentuh pengalaman, luka, dan pemahaman yang kujumpai sepanjang perjalanan hidup. Pertanyaan itu mengembalikan ingatanku pada tokoh dalam “Menuju Jalan Pulang”, yang rumah tangganya perlahan retak karena kesibukan…
-

Telusur Leluhur dalam Kabut Sejarah
Seketika tabir terbuka, sebuah kabut seakan sengaja menutupi. Di sanalah saya hampir berhenti pada penyusuran yang sudah di tengah jalan? Agar tidak kabur, bagi saya masih butuh rekayasa lain untuk menjadi bahan telusur lebih mendekati, biar cukup dasar telusur sebagai penguat, serta pengikat. Bukan diajak merenung semata, dan diceritakan memaksa saya menerima begitu saja. Tidak juga…
