Category: Esai
-

Filosofi Sang Umbu
Air akan sampai ke tujuan dengan sasaran yang tepat. Aliran ke sawah, ke pemukiman, hingga ke tempat ibadah. Mengalir membasuh kerongkongan, kening serta bertahan hidup di tengah alam yang menyeruak makna-makna dan isyarat. Dia mengalir dengan khidmat serta nikmat, sesuai sasaran. Muaranya bagi kehidupan anak manusia. Dia mengajak menyatukan tanpa memilih, suku, agama dan…
-

Tiga “Malaikat” dan Urita dari Emirates
Tiada maksud memanggil malaikat turun ke lapangan hijau, apalagi mengaitkan kemenangan dengan campur tangan langit. Sepak bola tetap urusan kaki dan napas panjang, serta kecermatan taktik via nalar berlaga. Dua pucuk waktu menghidu saya. Pertama, dini hari berselimut Subuh, hingga pertengkaran gelap dan terang. Kedua, hari terakhir, Rabu, 31 Desember 2025. Apa yang elok di…
-

Siapa Pewaris Petta Tjalleng Daeng Magguliling?
Kadang, sejarah kerap menorehkan kisah, tentang mereka yang bertengger di pucuk kuasa. Ia jarang menyapa sosok yang memilih menepi, kala jalan menuju puncak terbuka. Padahal, keputusan menahan langkah, acap kali menentukan keberlangsungan sebuah tatanan. Pada wilayah sunyi semacam itulah, nama Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga menggapai maknanya. Esai saya di Paraminda.com, tentang “Petta…
-

Bangsa dan Bangsawan
Saya terpantik menulis esai ini setelah membaca tulisan Syafinuddin Al-Mandari di Paraminda.com berjudul “Negara dan Bangsa; Berbeda dalam Dekapan Pemiliknya” (28 Desember 2025). Yang sebetulnya juga respon atas esai Sulhan Yusuf, tentang “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga” (11 Desember 2025). Tulisan tersebut berusaha mendedahkan perbedaan, antara negara sebagai bangunan administratif kekuasaan dan bangsa…
-

Negara dan Bangsa; Berbeda dalam Dekapan Pemiliknya
Di tengah belantara kesibukan yang laksana benang kusut nan rumit diurai, saya semula hanya menikmati bacaan di laman Paraminda.com. Namun, satu esai dari Sulhan Yusuf berjudul, “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, menurut saya pantas ditimpali dan inilah pendapat yang ingin saya bagikan. Salah satu di antara yang cukup menarik adalah kisah dan teladan…
-

Konsep Diri Pelajar Modal Utama Moderasi Beragama dan Indonesia Emas 2045
Dua pekan telah berlalu pasca kegiatan Kemah Moderasi Gelora yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 13-14 Desember 2025 ini sebagai rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama tingkat Kabupaten Bantaeng. Ada banyak rangkaian kegiatan yang berlangsung pada saat itu, di lokasi Kemah Moderasi tersebut. Namun, khusus Kemah…
-

Apakah Saya Murtad?
Mengawali narasi ini, izinkan saya jika tidak sekiranya meninggalkan agama saya, hanya sekadar mengucapkan, “Selamat Natal dan penuh keberkahan, tuntunan hidup dalam kasih-Nya, kepada saudara-saudara saya umat kristiani. “ Peran manusia diutus dan dijadikan penghuni dunia, alam semesta ini adalah mahluk dalam sejuta kasih, sebagai makhluk dan dinamakan hamba sahaya, bersosialisasi, berinteraksi, berempati, bukan antipati.…
-

Pelajar dan Literasi Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas 2045
Koridor dan ruang kelas di tengah hiruk-pikuk sekolah. Sekotah pelajar berjalan tergesa-gesa. Ransel bertengger di punggung berisi buku pelajaran. Sebagian sibuk bercanda, ada pula yang menunduk memeriksa layar ponsel. Dari mereka, tampak isyarat kecil, masa depan bangsa sebenarnya sedang menghidu mereka. Penuh energi, tanya, dan kemungkinan. Namun, muncul hal lain, sering luput dari sorotan: bagaimana…
-

Bencana Ekologis atau Dosa Ekologis
“Man Yasra Yahshud; Siapa Saja Yang Menanam Pasti Akan Memetik.” Siapa sangka peristiwa naas itu datang tiba-tiba. Beberapa dekade belakangan ini, negeri kita sering dilanda bencana alam. Meski pemerintah merencanakan upaya mitigasi, tetap saja, bencana itu datang memporak-porandakan pranata hayati. Di pengunjung November 2025, khalayak dikagetkan berita bencana banjir bandang, terjadi di wilayah Sumatera, khusunya…
-

Ketika Rasa Bersalah Menjadi Alat Politik
Ada satu emosi yang tampak pribadi, tetapi sesungguhnya mengalir dari struktur sosial yang lebih luas: “rasa bersalah“. Ia seperti bayangan yang mengikuti perempuan ke mana pun ia pergi: ke ruang kerja, ke ruang keluarga, ke ruang batin. Ia kita rasakan seolah muncul dari dalam diri, padahal sering kali ia dibangun dari luar. Nawal El Saadawi…
