Cinta Dan Pengorbanan

Sejatinya, tak ada sesuatu tanpa pengorbanan. Setiap pengalaman apa pun itu,
akan melalui suatu pengorbanan, baik itu kecil maupun besar.

Pengorbanan untuk mencapai sesuatu, merupakan peristiwa alamiah, tak ada dan tak akan pernah ada suatu pencapaian tanpa mengorbankan sesuatu.

Pengorbanan bukan berarti kehilangan sesuatu, bukan pula tanda kelemahan. Di balik pengorbanan ada kebesaran jiwa dan tujuan besar untuk digapai.

Adapun nilai pengorbanan senantiasa dilandasi dengan pandangan dunia
terhadap sebuah makna. Makna paling bertuah pada sebuah nilai adalah cinta. Seseorang akan mengorbankan apa pun dimilikinya demi sebuah cinta.

Menurut sang guru kehidupan, Jalaluddin Rumi, cinta begitu misteri merasuk ke dalam jiwa, bahkan Rumi pun tak sanggup mendefinisikannya. “Ketika cinta datang menghampiri, aku jadi malu pada keteranganku,” ujar Rumi.

Sungguh banyak kisah-kisah heroik menceritakan tentang pengorbanan.
Seluruh nabi utusan Tuhan, mengorbankan hidupnya demi cinta Ilahi. Salah satu kisah sering diuritakan tatkala musim haji datang, ialah kisah pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap anaknya, Ismail.

Kisah itu menandakan bukti kerelaan jiwa dan raga seorang bapak dan anak terhadap kecintaan terhadap sang Khalik. Dengan peristiwa heroik Nabi Ibrahim dan Ismail, setidaknya, memberi pelajaran kepada umat manusia, agar segalanya harus direlakan (dikorbankan) demi pemilik cinta. Apa pun itu konseskuensinya.

Nyatanya, makna di balik kisah ini, adalah ujian kepada makhluknya akan cintanya kepala Ilahi, sehingga Allah mengantikan pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap Ismail berupa hewan sembelihan.

Bukankah Tuhan sangat mengetahui kadar kemampuan makhluknya, sehingga Allah berfirman, pada QS. Al Baqarah: 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

Tentu saja ujian seseorang sebanding dengan kemampuan dirinya. Begitu
pula tingkat pengorbanan, berbanding lurus dengan kadar kecintaan seseorang.

Dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, sejarah manusia terus menorehkan kisah-kisah epik lainnya tentang arti pengorbanan. Kisah paling agung dan tragis dari seluruh kisah pengorbanan manusia, yakni dialami cucu Nabi Muhammad saw,
Imam Husain.

Cucu nabi yang mulia itu, mengorbankan jiwa dan raganya demi keberlangsungan dan kemurnian ajaran Islam. Cucu nabi yang sangat dicintainya itu, rela mengorbankan nyawanya dibantai di Padang Karbala oleh sekolompok orang durjana mengatasnamakan Islam.

Tidak banyak orang mengetahui kisah pengorbanan Imam Husain. Pasalnya, kisah tersebut sedikit banyaknya dipersepsikan bernuasa politik.

Jika saja kita mau mengenal lebih dalam sosok Imam Husain, kita akan menemukan sosok pribadi luhur nan agung yang mengajarkan ajaran Islam sesungguhnya, sebagaimana ajaran peninggalan kakeknya, Nabi Muhammad saw.

Seyogiannya, nilai pengorbanan menjadi pedoman laku manusia menjalankan kehidupan, tanpa pengorbanan, peradaban manusia menjadi kandas. Bukankah kemerdekaan bangsa Indonesia mengusir penjajah merupakan pengorbanan panjang.

Berabad-abad lamanya para pejuang mengorbankan nyawa, darah, dan air mata demi kemerdekan ibu pertiwi. Mamaknai pengorbanan, tidak mesti menorehkan peristiwa epik seperti halnya para pejuang, cukup melakukan hal-hal kecil pun bisa bernilai pengorbanan, tergantung orientasinya macam apa.

Emha Ainun Najib, lebih akrab disapa Cak Nun, dalam buku kumpulan esainya, Berserah, Biarkan Allah Mengurus Hidupmu, menuliskan pikirannya, “Nasib anda di dunia bukan ditentukan oleh kaya atau miskin. Nasib anda adalah ketetapan anda menempatkan diri.”

Cak Nun menegaskan, “Carilah dimensi akhirat, atau tujuan akhirat, di dalam apa pun yang Allah berikan kepada anda. Bila diberi uang, cari dimensi akhiratnya; diberi pasangan, cari dimensi akhiratnya; diberi pekerjaan, cari dimensi akhiratnya. Maka dari itu, terus gunakan pertimbangan akhirat, sehingga dunia bisa anda kuasai.”

Sesimpel itukah kehidupan? Lakukan saja sesuai kapasitas diri. Sulhan Yusuf dalam buku, Maksim Daeng Litere, menabalkan “Mengapa ngotot untuk sempurna? Padahal takdir manusia tak sempurna.”

Jamak adanya, setiap manusia memiliki pengalaman berbeda-beda. Tak pantas kiranya menyamakan diri dengan orang lain, pun sebaliknya, menyamakan orang lain ke dalam diri kita.

Setiap orang mempunyai khasnya masing-masing. Tugas kita, melakukan terbaik sesuai kemampuan diri. Melakukan kebaikan tak perlu pikir panjang, toh pada akhirnya, kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Apa pun yang kita lakukan akan kembali ke diri sendiri. Begitulah semesta mengatur.

Tak ada perjalanan tanpa pengorbanan, sekecil apa pun pengorbanan, tergantung kapasitas seseorang. Semakin besar rasa cinta, makin besar pula nilai pengorbanannya.

Pengorbanan tidak hanya dilihat dari sudut materi, jauh dari itu, pengorbanan mempunyai spektrum amat luas, tak bisa diukur dari sudut pandang tertentu. Yang pasti, pengorbanan membawa keindahan, kebahagian, kebaikan, dll.

Cak Nun, kembali menuliskan, “Alangkah indahnya, kalau engkau berjasa kepada orang dan orang tidak tahu kalau itu jasa anda.”

Seyogianya, pengorbanan apa pun itu, tak perlu diumbar, apalagi jika menyangkut dimensi spiritualitas. Nilai pengorbanan akan lebih bermakna jika tujuannya semata-samata berharap keberkahan Ilahi.

Tugas manusia, hanya terus berjalan. Adapun sesuatu yang dicapai saat ini,
tidak lepas dari rahmat Ilahi. Jangan lengah atas prestasi, bonus dan apa pun itu dalam perjalanan.

Singkatnya, segala kenikmatan datang menguji rasa syukur dan penderitaan datang untuk menguji rasa sabar.

Hakikat seorang pejalan, selalu menyembunyikan kebaikan diri, hal itu, demi menjaga hati agar
tetap membulatkan hati kepada Ilahi. Sehingga apa pun kondisinya, seorang pejalan selalu bertawajuh kepada sang pemilik semesta.

Kredit gambar: https://depositphotos.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *