“Apapun yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya menemukanmu.” (Ali bin Abi Thalib)
Setiap makhluk akan menemukan takdirnya masing-masing, begitulah kesimpulan singkat saya petik dari film The Architecture of Love.
Ceritanya, pada libur akhir pekan, beberapa hari lalu, saya diajak kerabat menonton film, di salah satu bioskop, di Kota Makassar. Singkat cerita, film yang berdurasi kurang lebih dua jam lamanya, menceritakan perjalanan cinta seorang laki-laki dan perempuan, keduanya, pernah memiliki kehidupan cinta berbeda.
Hingga akhirnya, mereka ditakdirkan bertemu dan mengikat janji suci. Walaupun, sebelum keduanya bertemu, mereka harus berjuang (move-on) melupakan lika-liku cinta, bersama pasangannya masing-masing.
Tidak main-main, film ini dibintangi oleh Nicholas Saputra, aktor bertalenta yang pernah tenar dengan film , Ada Apa Dengan Cinta, sedangkan, aktrisnya diperankan oleh, Putri Marino.
Film ini, terisnpiransi dari novel anggitan, Ika Natassa, dan mampu mencuri perhatian penikmat film nasional. Kemampuan akting, Nicholas Saputra sangat apik, manakala memerankan sebagai River, seorang profesional muda di bidang arsitektur, lama bekerja di New York, Amerika serikat.
Suatu waktu, River bertemu dengan Raia yang diperankan, Putri Marino. Raia adalah seorang penulis novel terkenal. Mereka bersua dalam sebuah acara, di salah satu coffe shop di tengah Kota New York. Sebelum keduanya bertemu. River dan Raia memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis nan bahagia. Duka cita itu datang, saat Raia berada pada puncak kesuksesan dengan segudang karya tulisnya.
Sesaat setelah pulang me-lauching karya tulisnya, Raia mendapati suaminya main serong dengan seorang wanita di kamar apartemennnya. Seketika dunia Raia berubah drastis. Setelah kejadian pilu itu, Raia tak bisa lagi menulis, pendeknya Raia mengalami blokade kreatif, semacam kesulitan menulis.
Sedangkah River yang diperankan sangat apik oleh Nicholas Saputra, kisah cintanya lebih drakmatis lagi. River mengalami trauma mendalam, nyaris gila. Peristiwa malam itu, saat pulang merayakan ulan tahunnya, ditengah perjalanan River dan istrinya mengalami kecelakan tragis.
Tetiba, sebuah truck berlawanan arah melaju kencang, hingga menabrak mobil yang ditumpanginnya. Istri River meninggal di tempat kejadian. River mengetahui istrinya meninggal setelah dirinya siuman di sebuah rumah sakit.
Sesaat sebelum kecelakaan terjadi, dalam perjalan pulang, sang istri memberi kado istimewa, dan akan ada kado lebih istimewa lagi, yang akan diberi saat mereka tiba di mukimnya. Namun, takdir berkata lain, tak dinyana, kecelakaan naas itu terjadi.
Beberapa hari berlalu, rasa traumatik River makin memucah, kala River mengetahui kado yang disiapkan istri itu, berupa tesk peck, alat bukti kehamilan. Benar adanya, istri River ingin memberikan surprise, seakanmendakukan, sesuatu yang telah lama diidamkan akan segera terwujud, yakni, mendapatkan momongan.
Mengetahui hal itu, River nyaris gila. Dirinya merasa telah membunuh dua orang terkasih dalam sekali waktu. Selidik punya selidik, salah satu faktor, River selamat dari kecelakaan naas itu, beruntung, dirinya masih keadaan menggunakan seat belt. Sedangkan sang istri, menanggalkan tali seat belt, saat ingin meraih kado yang di letakkan di kabin belakang mobil.
Raia dan River sama-sama mengalami traumatik akut, gegara ditinggal sang kinasih. Bedanya, Raia kecewa dan patah hati, sedangkah River mengalami guncangan berat.
Seberat apapun derita seseorang, semesta mempuyai cara menyelesaikan sendiri. River dan Raia bertemu, saat keduanya sama-sama mengasingkan diri, di sebuah kota termegah di dunia, Yew York . Meskipun keduanya harus melewati lika-liku cinta. Pada akhirnya, semesta menyatukan hati keduanya.
***
Seyogianya, dalam kehidupan tak perlu ada dicemaskan, apalagi disesali, sekalipun itu, berupa ujian ataupun pujian. Fahruddin Faiz, seorang penulis produktif, dalam bukunya, Menghilang, Menemukan Diri Sendiri, menabalkan, salah satu hikmah pemikiran Gandhi, yakni, “Be the change you want to see the world.” Jika kita ingin dunia ini damai, kita harus berdamai dulu dengan diri kita sendiri. Kalau kita ingin dunia kita aman, kita harus mengamankan diri sendiri dulu.
Setiap realitas mempunyai logikanya sendiri, biarkan saja semesta bekerja. Sebagaimana, salah satu ciri utama ajaran Zen (pembebesan) yang banyak dianut bangsa Jepang, yakni, melakoni falsafah Musthoku.
Bahwa setiap realitas punya logikanya sendiri. Maksudnya, lakukan saja apa yang harus dilakukan; jangan lakukan yang harusnya tidak dilakukan; tak usah menghitung hasilnya, tak usah pula memancang pamrih apapun. Jalani saja, manfaatnya juga akan datang sendiri.
Laku Musthoku, semacam keadaan batin yang tidak mencari apa pun. Mereka hidup tidak melekat pada keinginan, ataupun benda-benda luar, tidak pula sibuk mencari keuntungan untuk diri sendirinya. Apabila sampai pada titik itu, kebebasan serta kebahagian muncul secara alami.
Sekaitan dengan semesta pula, sang maestro sufi, Jalaluddin Rumi, mengatakan, “Apa pun yang datang kepada dirimu, ketahuilah itu pesan dari Tuhan.” Bentuk pesan itu bisa berupa penderitaan atau kebahagian. Menurut sang maestro, syarat pertama bagi pecinta adalah pasrah, jika tidak, tak ada gunanya pengajaran cinta.
Hidup kadang tak harus dipikir panjang, sebab, tidak semua kehidupan diukur dengan hal-hal rasionalitas. Cukup dijalani dengan niat baik, mengatur ritme kesimbangan, nikmati prosesnya. Apa pun hasilnya, kita tidak akan tahu, kalau tak pernah dijalani. Serahkan pada semesta mengaturnya.

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply