Sawala LPM se-Kabupaten Bantaeng

Sekotah pengurus lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) se-Kabupaten Bantaeng menyata di kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek). Sawala ini merupakan program kerja Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kabupaten Bantaeng.

Acara yang di langsungkan sehari, Rabu, 29 Mei 2024, di Ruang Pola Kantor Bupati Bantaeng. Menghadirkan satu orang perwakilan LPM setiap desa dan kelurahan se- Kabupaten Bantaeng.

Pada pembukaan acara, kepala Dinas PMD yang diwakili oleh, Drs. Andi Makkasolang , M.Si. Selaku sekretaris dinas, Pak Andi sapaan akrabnya, memberi wejangan, serupa membangun kesadaran akan pentingnya peran serta LPM dalam pembangunan di desa dan kelurahan.

Keterlibatan LPM pada pembagunan, merupakan amanah Undang-undang, tegasnya. Lebih lanjut, beliau mengatakan, pemerintah desa dan kelurahan tidak boleh tidak melibatkan LPM pada setiap tahapan pembangunan. Mulai dari proses perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pelaporan, sebab, hal tersebut perintah undang-undang. Terangnya.

Pak Andi, menambahkan, LPM sebagai organisasi sudah saatnya melakukan penguatan kelembangaan. Paling mendasar, LPM benar-benar mengetahui , tugas, fungsinya, selaku wadah partisipasi warga, agar terlibat aktif  pada pembangunan dan pemberdayaan di desa dan kelurahan masing-masing.

Tak kalah penting pula, LPM sebagai organisiasi mampu bekerjasama sesama antar pengurus, maupun pihak lain, utamanya pemerintah setempat. Terakhir, beliau mengharapkan, kegaiatan kali ini menjadi ajang konsolidasi kelembangan antar LPM, sehingga terbangun kerjasama, utamanya menuntaskan program jangka pendek nasional, seperti pencegahan dan  penanganan stunting.

Sehari sebelum pertemuan LPM, sekotah Kader Pembagunan Manusia (KPM) telah melaksanakan kegiatan yang sama. Seluruh KPM se-Kabupaten Bantaeng diundang oleh dinas PMD Bantaeng, guna mengonsolidasikan program pencengahan dan penanganan stunting di desa masing-masing.

Para KPM yang kebanyakan kader-kader kesehatan itu, diberi penguatan kapasitas serta keterampilan merancang, melaksanakan, dan melaporkan kegiatan yang bersentuhan dengan program stunting.

Dua sawala, mengikutkan dua organisasi mitra pemerintah, menandakan semangat kolaborasi dan sinergitas antar lembaga, harus terus dipupuk, demi meraih tujuan yang sama.

LPM dan KPM merupakan wadah yang dibentuk atas prakarsa masyarakat. Dua Lembaga yang berkedudukan di desa dan kelurahan ini, memiliki tugas, fungsi dan peran masing-masing.

LPM yang lebih dulu eksis di desa, memiliki sejarah panjang keikutsertaannya pada pembangunan. Menurut sumber info media daring, eksistensi LPM tidak lepas dari proses bangsa Indonesia yang menganut nilai-nilai kegotongroyongan. Nilai purba yang sejak dulu melekat dalam budaya bangsa, dan LPM menjadi salah satu wujud nyata dari semangat gotong royong.

Dalam bentangan sejarah, diketahui, tahun 1979 menjadi tongak sejarah cikal bakal berdirinya LPM. Saat itu, pemerintah merasa perlu memberikan legitimasi hukum terhadap Lembaga sosial desa, atau yang di kenal LDS (sebelum berganti nama LPM) dengan menerbitkan Undang-undang nomor 5 tahun 1979.

Seiring berjalan waktu, LDS mengalami trasformasi. Di pertengahan tahun 1980, LDS berganti nama menjadi Lembaga Ketahanan Masyarakt Desa, disingkat LKMD. Memasuki era milenium, tahun 2000, perwakilan LKMD melakukan pertemuan nasional di Bandung. Salah satu hasil pertemuan itu, yaitu berubah nama LKMD menjadi LPM, hingga sekarang.

Sawala LPM kali ini juga, merupakan momentum menjalin Kembali nostalgia antar LPM. Sekian lamanya, mereka dipertemukan lagi di forum resmi. Sekelumit cerita diumbar, bak air bah tumpa ruah tak terbendung. Sederet pengalaman dibeberkan, utama sejauhmana peran kelembangaan LPM dan keterlibatannya dalam setiap tahapan pembangunan.

Satu persatu perwakilan LPM angkat suara. Terkuaklah fakta-fakta sekaitan dengan peran mereka dan keterlibatannya. Bila diungkit, setiap desa dan kelurahan memiliki beragam dan fenomena yang diwarnai setiap LPM, mulai dari keterasingan, haru biru, hingga kebahagian yang dirasangkan masing-masing LPM.

Dari semua hal yang ungkit, Sebagian besar LPM mendapatkan ruang aktif terlibat pada pembangunan dan pemberdayaan, walaupun masih terdapat sebagian LPM dan pemerintah desa engan melakukan kerjasama, apalagi kolaborasi.

Selain isu kelembagaan, secara alami, beberapa LPM mengungkap hal-hal inovatif telah mereka lakukan. Semisal LPM menjadi inisiator terwujudnya pusat kegiatan anak-anak remaja yang berada desa dan kelurahan. Tempat semacam itu menjadi sarana bagi anak-anak muda menyalurkan hobinya, seperti olahraga, gaming, dll. Upaya ini dilakukan, untuk mencegah tindak kriminalitas yang marak dilakukan oleh anak-anak remaja.

Salah satu peserta sawala, Karaeng Dode, biasa orang menyapanya, beliau adalah tetuah di LPM, sekaligus tokoh masyarakat, mengungkapkan, fenomena yang dialaminya selama melibatkan diri di LPM dari waktu ke waktu.

Menurutnya, perbedaan paling fundamental selama ber-LPM terletak pada nilai. Sambil mengenag masa lalu, beliau menceritakan, aktifitas LPM di masa silam. Dahulu, katanya LPM betul-betul mengendepankan jiwa sukarela, sebab masa itu, pemerintah belum bisa berbuat banyak untuk membiayai segala aktvitas LPM.

Namun di sisi lain, pemerintah menaruh harapan besar kepada LPM untuk senantiasa berada di garis terdepan menyelesaikan persoalan di masyarakat, baik soal pembangunan, hingga, soal konflik sosial masyarakat. Berkat semangat sukarela itu, mereka mendapat kepercayaan dari masyarakar dan pemerintah saat itu.

Masih menurut Karaeng Dode, kepercayaan masyarakat makin ke sini, makin merosot. Salah satu penyebab utamanya, yakni pudarnya semangat sukarelawan sebagian besar LMP. Sungguh ironi, dahulu, pemerintah minim anggaran memberi biaya LPM, tapi semangat LPM menyala-nyala.

Sebaliknya, kiwari, pemerintah sengaja menggelontorkan anggaran untuk masyarakat, namun, sayangnya tidak berbanding lurus dengan upaya dan bantuan yang berikan pemerintah. Itulah sekelumit cerita yang diumbar Karaeng Dode.

Merespon berbagai hambatan yang diungkap sekotah LPM. Salah seorang peserta menawarkan wacana membentuk forum lintas LPM se-Kabupaten Bantaeng. Forum ini sebagai upaya penguatan peran LPM secara kelembagaan, maupun bentuk nilai tawar untuk orientasi pembangunan dan nilai-nilai kemasyarakat.

Setali tiga uang, wacana tersebut menjadi output dari sawala LPM kali ini. Melalui peran fasilitator kegiatan, seluruh pengurus LPM se-Kabupaten Bantaeng sepakat membentuk dan menyusun pengurus forum lintas LPM.

Tidak memerlukan waktu lama, pengurus forum telah terbentuk secara aklamasi. Ini menandakan girah LPM masih menyala dan akan terus menyala.  


Comments

One response to “Sawala LPM se-Kabupaten Bantaeng”

  1. Noor Rahman,S.Sos Avatar
    Noor Rahman,S.Sos

    Terima kasih atas pemuatan berita tentang kegiatan Bidang Kelembagaan dan Sosial Budaya Masyarakat DPMDPPPA Kab.Bantaeng, dan Terima kasih atas kerjasama dari Tim Korkab Pendamping semoga berkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *