Kodratinya semata hanya mencuci popok bayi, melahirkan, melayani,merawat anak sejak pagi menjelang, menanak nasi, merangkai bunga, mencuci piring, menghidangkan sarapan pagi, siang dan malam. Dan sampai pagi kembali ritus yang dia harus parutus (urus).
Bagai sukma mengajak bertamasya menuju mahkota perempuan, melengkapi dan membalut sepinya adam di Surga dengan rusuknya yang menetralkan, serta melengkapi kehidupan peradaban manusia hingga kini.
Desau angin kebaruan, di tengah gemuruh zaman, saat dunia sedang mengalami gonjang-ganjing. Setimpuk dan didapuk untuk mengabdikan ikut andil dalam keputusan yang negara telah amanahkan. Bukan lagi di zaman pingit, dan cukup sengit perempuan untuk berjuang melewati proses.
Mampu dan ikut berperan serta menentukan arah dan tujuan sebuah mimpi, cita-cita sebuah negara tempatnya mengabdikan dengan segala kemampuan, potensi yang dimilikinya. Meski budaya dan agama menampik kehadirannya.
Perempuan bersahaja dalam pengertian dan artinya: apa adanya di mana sikap ini mencerminkan integritas, ketulusan, dan kejujuran. Pentingnya bersahaja membantu Anda menjalani hidup lebih autentik, membangun hubungan yang lebih kuat, berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, dan mencapai kedamaian.
Hampir separuh dari penduduk Indonesia (49,4 persen) adalah perempuan, artinya separuh potensi pembangunan ada pada perempuan. Kekuatan perempuan dengan mampu mencapai tingkat identitasnya tidak lagi menjadi momok doktrin budaya yang seiring peran-perannya dibatasi.
Lalu dua kata tersemat itu antara “perempuan dan wanita?” Di sana saya disuguhi “empu” lalu ada penjelasan dari awalan dan akhiran menjadi “per-empu-an”. Nah. Kusimak dalam-dalam kata “empu” itu, lalu ia begitu sakral bagi saya sebagai ditampuk menjadi empu dan dalam arti sangsekerta: (1) gelar kehormatan yang berarti ‘tuan’ (2) orang yang sangat ahli, sakti dan penuh kharismatik. Cukup memantik naluri pencarianku. Sesekali hendak mengajaknya menceritakan sebuah hal yang menurut saya patut untuk kusematkan kepadanya.
Sedangkan wa·ni·ta, perempuan dewasa: kaum, kaum putri (dewasa); karier wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dan sebagainya) ke·wa·ni·ta·an, yang berhubungan dengan wanita; sifat-sifat wanita atau keputrian. Namun keduanya memiliki daya tarik yang sama memikat. Pandai.
Lalu bagaimana perempuan diperhadapkan dengan budaya bahkan agama? Pertanyaan ini menjadi pertarungan antara defenisi perempuan dan subjketivitas, sepertinya belum tuntas. Sementara tercatat dalam sejarah pemimpin perempuan di Jepara. Memberi penguatan dan landasan yang kuat dengan bersahaja memimpin ribuan pasukannya menjaga keamanan. Ratu Kalinyamat namanya. Sosok perempuan dengan segala potensi dan kepemimpinan mengayomi dan melindungi rakyatnya.
Pada abad ke-16 sekitar 1550, Ratu Kalinyamat membantu Sultan Johor melawan tentara Portugis. Ia mengirim 40 kapal perang dan 4.000 pasukan ke Selat Malaka. Sebab, tujuan dari pertempuran tersebut adalah membebaskan perairan Malaka dari dominasi Portugis. Selain itu, ia juga membantu masyarakat Hitu di Ambon untuk melawan Portugis pada 1565. Ia pun mengirim 300 kapal dengan 15.000 pasukan untuk membantu Sultan Aceh berperang melawan penjajah Portugis di Malaka.
Nah. Apakah itu tidak cukup membuktikan peradaban kisah pemimpin berstatus perempuan? Atau hanya karena terlampau mitos itu telah menjadi kepercayaan yang tidak mutlak untuk depenuhi oleh zaman ini, peradaban dan cara yang disematkan pada perempuan hanya sebatas dapur-sumur-kasur? Betapa budaya menjadi sindrom kaku, dogma yang mengurung, mengungkung dengan jerat hukum adat dan istiadat katanya.
***
Kembali mengeja sesekali kulihat mata dan alisnya. Ada hamparan jiwa lapang untuk satu harapan dalam tugas diembannya. Tanpa mengeluh meski beberapa hal dinamika dan badai dia hadapi dengan tenang, dia menarik dan merajut benang kebijaksanaan, menjahitnya sendiri, beremansipasi, bersimulasi pada kodratnya pun dia berusaha menjaga marwah “empu” pada diri, budaya dan kodrati sejatinya sebagai perempuan. Perempuan itu bernama “Mutiara” sebagai inisial saja. Sebagaimana nama Ratu Kalinyamat tersemat nama selain nama aslinya adalah Ratna Kencana.
Perempuan dan zaman. Tidak lantas tergesa-gesa menjawabnya menjadi debat kusir. Bukan semata lembut, namun dia mampu menopang dunia walau dituduh dengan air matanya adalah kelemahannya! Itu bukan kelemahan toh juga lelaki setangguh apapun pernah menangis! Miris jika sekadar merilis hal mistis tentang kodratinya berlabel perempuan direkayasa oleh budaya itu sendiri.
Saya tidak harus terjebak pada dialog, apalagi perkara gender! Saya hanya berusaha mengeja dari satu titian ke titian peran-peran yang sekarang telah mampu mewarnai dari kategori pingit menjadi implisit mampu memberi jalan keluar pada suasana dan situasi yang sulit.
Di sana ada jejak artefak bernama perempuan. Dia bersahaja artinya apa adanya di mana sikap ini mencerminkan integritas, ketulusan, dan kejujuran. Pentingnya bersahaja membantu Anda menjalani hidup lebih autentik, membangun hubungan yang lebih kuat, berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, dan mencapai kedamaian.
Tiara namamu dan sebatas hanya cukup mengenalnya lewat beranda, atau sesekali berpapasan menegur basa-basi dengan khas senyumannya. Toh meski secara kedekatan tidak harus seperti kebiasaan yang lain. Namun, secara tidak langsung menjadi inspirasi. Tentang sisi perangai, teori kepemimpinan, bagaimana merespon dan mengenjawantah sebuah keputusan dengan bijaksana. Ada petualangan nilai serta pengetahuan, masih kudapati sebuah ketegasan sebagai prinsip, integritas . Seraya berkenaan dengan kapasitas/kualitas.
Ada peran dalam setiap keputusan dalam negara. Ada peristiwa di mana perempuan juga hadir pada perjelanan panjang sejarah. Ada menyajikan hidangan pengetahuan, kecerdasan, keilmuan setara di atas rata-rata dari aki-laki yang masih saja sok merasa cerdas. Tapi lempeng dan gepeng secara implementasi. Menang hanya sebatas argumentasi. Lelaki lupa kecerdasan dimilikiinya dari DNA seorang perempuan yang kita panggil Ibu. Yang setia menanak nasi meski di atas lilin.
Hajat perempuan tersandung hujat! Lalu menjadi dasar hukuman terhadap gerak senjangnya potensi perempuan dipasung? Menjadi tersulut dari suluh pengetahuan yang tiada sepadan dengan penafsir yang lebih bijak?
Tiara meleraiku, senada wasiat yang dia percaya. Bahwa ada batas-batasan yang tidak harus dipaksa di tebas hanya kerena alasan kodrati bernama perempuan! Debat ini sejak dulu, hingga kami kaum dianggap lemah dan petaka dunia, betapa naif, hanya naratif dan kodrati. Kami disemati di antara belukar dalil, di tengah abad dan babad yang justru kebenaran dan ceritanya semata hipotesa.
Ah. Andalan memang perempuan bernama Tiara ini! Gumamku mengutip kebiasaannya menyebut istilah itu setiap diskusi dari sekian depah waktu saja, itu pun jika sempat kebetulan pula berjumpa dengannya.
Saya berandai-andai, tapi secukupnya kutepikan pada saat mengejamu Mutiara, dengan melingkupi beberapa curiculum vitae-mu, sebagai perempuan bersahaja yang mampu menjawab tantangan zaman.
Kredit gambar: https://www.bbc.com/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply