Pesona Si Katan

Seketika sahaya kembali pada masa kanak-kanak dahulu. Bermain ketapel, lalu menyusuri beberapa pohon di antaranya pohon kersen tetangga, pohon  jambu air, di pucuk ilalang. Sambil mengendap hendak menangkap, atau beberapa di antara kami membidiknya.  Itu salah satu jenis burung sikatan (cui-cui).

Sahaya kemudian terjenak membenak, dengan secara seksama, tetapi bukan pada tempo sesingkat mungkin,  saat dia menyingkap hendak mengepakkan sayapnya. Seakan terbang di atas bumi Bantaeng.   Lamat-lamat kucegat imajinasiku, dan berusaha tidak terjebak seperti jebakan Batman. Lalu kembali  fokus  pada lembar-lembar penilaian.

Sebuah sayembara maskot Pilkada Bantaeng yang dihelatkan oleh KPU Kab. Bantaeng.  Sebagai   sarana sosialisasi dengan  tema fauna dan flora. Begitu  memesona buah karya ide, imajinasi, kreatifitas, dilengkapi narasi dengan deskripsi  rupa-rupa terpajang serta beberapa syarat dan ketentuan lomba. 

Tetiba muncul satu kontestan.  Dengan cekatan, melompat dari ranting kecil sambil berayun-ayun pada  tangkai lainnya. Tubuhnya yang mungil, suaranya yang periang. Ikonik! Yang mana umumya masyarakat menamakannya “cui-cui” atau masuk kategori nama sanak burung “sikatan” dengan tubuhnya sampai berukuran 10-11 cm.  

Namanya Sikatan Lompobattang (Ficedula Bonthaina) adalah spesies burung dalam famili Muscicapidae. Burung ini endemis di Pulau Sulawesi. Penyebaran utamanya di gugusan Pengunungan Lompobattang. Sikatan Lompobattang secara lokal disebut cui-cui (Bahasa Makassar). Pada laman terkait tentang fauna dan berbagai macam jenis yang khas di setiap daerah. 

Bunyinya nyaring bagai denting. Seiring desau angin membawa kabar kehadirannya yang meski sikatan ini terancam punah.   Matanya tajam mencari suaka, kaki mungilnya menggenggam tombak bulu perindu dan pengharapan. Bahwa  esok masih ada kawanan dan sanak keluarga ditemuinya. 

Seperti memantik percakapan kami, seakan menyampaikan resah, dengan kepak sayapnya terbang sesuai kebutuhan, tidak harus memaksakan kehendak melebihi sesuai kapasitasnya. Tetiba riuh, memecah suasana saat  kehadirannya di ruangan itu. Semua tercekat, diam bagai “kalabangngang” (kaget, terdiam berpikir). Sambil kembali mengingat, melampaui ruang waktu, dan tibalah kami pada sebuah titian masa.

***

Di ambang sore, Si Katan  muncul kembali dari arah utara,  seakan menyapa dalam kenyataan yang hampir kami tidak percaya.  Celotehku yang receh membuat semua terkekeh. Kemudian  selembar jawaban dipaparkan dengan segala kemampuan dan jurus, rumus agar semua imajinasi, hipotesa, cocoklogi tidak menjadi liar bin bias. Pertaruhan setiap dari kami diuji secara integritas, dan objektifitas. 

Begitu memesona. Sebuah simbol ikat kepala dan warnanya yang serupa tak sama dengan jenis “si katan” yang lain. Atau cui-cui yang pernah saya intip, dengan membidik pakai  ketapel pada jenis cui-cui masih sanak familinya.  Lalu  Sekejap  terbang meloncat lincah, menari, memenuhi isyarat dan filosofi dirinya.

Sangat menarik membantaiku dengan selembar sketsa  buah rampai capaian ide da. Imajinatif.  Saya dan beberapa juri  yang lain,  berusaha menemukan sesuatu yang membedakan dengan fauana lainnya.  Meski saat proses goresan dan arsirmya cukup membuatnya pening, namun dalam hening Si Katan itu lahir menjadi anak rohani menjawab kemisteriannya.  Endemis istilah kerennya!  Langka nama umum disebutkan karena terancam punah.  Lalu kelak akan menjadi ikonik menggemaskan.

Si Katan ikut kontes dan mendapat nomor antrian tampil nomor urut 05. Berkenaan dengan beberapa kontestan dengan menggunakan nama dan atributnya. Ada si Baddoka, si Jonga (rusa) dengan berbagai bentuk aksesori dan peroperti menghiasinya,  si Jonga dan si Jungo, si Olla ikut pula dengan penuh keyakinan, si Noa tak mau ketinggalan dengan ciri khas identitas di kepalanya,  Tar-Sis ikut eksis tak mau ketinggalan. Ada juga dua pasangan sepertinya sejoli bernama Soko dan Sika. Mereka siap berkompetisi.

Sesekali sahaya merasakan nyelutup  yang masih merasakan canggung berada di tempat bersama tim juri, panitia serta dua orang  (jurnalis).  Rasa  bercampur aduk, secara kehadiran sahaya di antara mereka bagai tersesat di jalan yang benar.

“Semua telah diatur semesta, yang bukan kebetulan telah tertuang pada takdir!” Kata seorang karib bernama Anggi via WhatsApp, seperti cara seseorang menuang kopi siang hingga sore hari itu penuh kepercayaan kepada sahaya. 

Menit berlalu, sahaya mulai berbaur, dan seolah  melengkapi kelima orang yang menyaksikan dan menyeimbangkan dari empat orang di samping kiri, kanan dan depan sahaya dari latar belakang pendidikan serta pengalaman sarat dan mumpini. Nyaris sahaya merasakan ciut membandingkan  kompetensi mereka dibanding sahaya.

Kembali ke Si Katan. Pada momen melepas penat. Suasana semakin hening saat  kemudian tampil kembali.  Hendak mengepak-ngepakkan sayapnya terbang mengabari sekawanan burung, sanak saudaranya. Tentang apa yang selama menjadi gundanya, kesepian di kaki gunung Lompo Battang, mengitari tak lelah sayapnya mencari keluarganya.

Menepi menyeka air matanya, tetiba dia berada disebuah ruang asing, membincangkannya dan menyematkannya sebagai ikon pada sebuah perhelatan pesta demokrasi di bumi dan alamnya tempat dia bermukim, menghabiskan waktu dalam penantian panjangnya, terasing di negerinya sendiri.  Si Katan hadir menceritakan kisahnya yang miris nyaris terlupakan. Punah, seketika musnah lalu kita hanya pasrah. Sekadar berdecak kagum saja, menyerah seketika tanpa syarat.

Arah jam kembali mengingatkan, sepucuk harapan  sama-sama termaktub pada sebuah tatanan (nilai), interpretasi, deskripsi, estetika, originalitas, serta kualitas yang berhubungan kasualitas dengan kearifan lokal, serta ornamen lainnya.  Sesuai tema dan syarat ketentuan lomba.

Hari kedua itu menjadi tonggak awal, Si Katan menggapai mimpinya, digenggamnya dan tak hendak dilepas.  Sebagaimana sayap-sayapnya telah melengkapinya terbang mencari suaka politiknya.

Diilustrasikan sedang mengepakkan sayap kiri dan kanan siap terbang menuju sebuah harapan demokrasi.  Bentuk dan jumlahnya delapan helai dia hubungkan  bahwa delapan kecamatan di Bantaeng. Burung sikatan sebentar lagi  terancam punah sesuai data International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Lembah imajinasiku mencoba menarikku kepada  seseorang bernama Fitriani Aulia Rizka , entah kenapa ide dan imajinasinya seakan bertualang. Lalu mensketsa, lengkap dengan narasi dalam sebuah deskripsi. Diilustrasikan sedang mengepakkan sayap kiri dan kanan siap terbang menuju sebuah harapan demokrasi.  Bentuk dan jumlahnya delapan helai dia hubungkan  bahwa delapan kecamatan di Bantaeng.

Pesonanya sesuai warna corak dan suaranya,  serta rimba habitatnya,  kehidupannya terusik bahkan terancam . Sebagaimana menurut penelitian, burung sejenis sikatan sesuai data International Union for Conservation of Nature (IUCN) akan punah seketika. 

***

Akhirnya, bagai pungguk merindui bulan, pucuk dicinta ulam tiba. Burung sikatan (Ficedula Bonthaina) bermetamorfosis menjadi Si Katan, akronim dari, Serentak Memilih Kepala Daerah di Bantaeng. Dan, gundanya terijabah semesta, tersemat sebagai pemenang sayembara maskot  pada perhelatan lima tahunan bernama Pilkada Bantaeng 2024 diselenggarakan oleh  KPU Bantaeng.

Si Katan sang pemenang sayembara , akan mengepakkan sayapnya, ke seluruh penjuru semesta angkasa raya Bantaeng, mengajak semuanya, untuk tidak lupa pada Rabu, tanggal 27 november 2024, Pilkada Bantaeng. Namun, ada catatan menyertainya, Si Katan akan disempurnakan bentuknya, agar lebih mudah diadaptasi untuk semua jenis media sosialisasi. Termasuk akronimnya.

Tanpa sadar setelah memperhatikan dirinya, setelah jambul dan bulu termasuk ekornya,  yang kemudian dihubungkan  jumlah desa dan kelurahan sebanyak 67 helai. Sayapnya dia hitung berhelai-helai ada delapan yang menopang kepaknya sebagaimana delapan kecamatan.  Hari bangga meloncat dan sesekali mengeluarkan suaranya yang khas. 

Seakan  tidak percaya, tersemat simbol di bagian kepalanya,  tampak lilitan pita warna orange, melingkar yang menjadi warna khas KPU, ada aksesori  logo kotak suara, di bagian saku.

Gumamku penuh harap, semoga bukan semata simbol, namun menjadi “passiamakkang” (penyatuan), perekat,  merawat nilai-nilai kearifan, pada setiap dinamika  dan geliat politik dengan cara yang  ikonik, unik dan menarik.

Si Katan bukan sekadar memajang diri menebar pesonanya. Dia menjadi bagian dari simbol dan reaksi positif. Sebagaimana makna, arti pada kata “maskot” baik berupa orang, binatang, atau benda yang diperlakukan oleh suatu kelompok sebagai lambang pembawa keberuntungan atau keselamatan. 

Selebihnya sahaya bergumam, ikon (maskot) adalah  lakon yang akan menjadi peristiwa dan sejarah, secara kualitas dan identitas. Seraya berharap,   pesta lima tahunan pada tanggal 27 november menjadi perhelatan dalam hajatan demokrasi, dengan penuh kesejukan,  kedamaian.  Bukan hujan-hujanan hujatan.


Comments

4 responses to “Pesona Si Katan”

  1. Ranca Avatar

    Selamat untuk SI KATAN

    Copas
    ## Seraya berharap, pesta lima tahunan pada tanggal 27 november menjadi perhelatan dalam hajatan demokrasi, dengan penuh kesejukan, kedamaian.
    *Bukan hujan-hujanan hujatan*

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Sip Kakak. Makasih apresiasita selalu

  2. Ind' Avatar

    Informasi yg dikemas secara apik dlm bentuk tulisan menarik. Jadi tau ttg sejarah sikatan si ikon menawan.

    Keren Kk Dion,

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih Kakak Iin. Selalu ada mengapresiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *