Adalah Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan, “Berkaca pada pemilu yang telah dilakukan sebanyak lima kali sejak awal era reformasi, mayoritas masyarakat Indonesia, mampu dan dapat menjaga stabilitas keamanan nasional.”
Lebih dalam Burhanuddin melanjutkan, “Selain itu, para elit di dalam negeri sangat percaya bahwa politik Indonesia itu sangat cair, sehingga demokrasi dianggap sebagai satu-satunya jalan yang paling diyakini di Indonesia.”
“Ini harus diapresiasi, para elit masih mengikuti aturan main demokrasi meski kalah dalam pemilu. Inilah yang membuat membuat elit politik dari negara tetangga cemburu terhadap kondisi politik dalam negeri yang stabil,” ungkap Burhanuddin Muhtadi.
Katanya arus bawah terpecah belah. Akan tetapi realitas masyarakat adem saja, celetuk seseorang di antara debat sesungut di sebuah layar televisi. Justru elit sendiri yang belum move on. Seperti penyair yang nyengir di atas panggung, mencabik-cabik, peduli, lalu menelanjangi kata, berpura meringkih, berontak, berjingkrak-jingkrak, paling pandai berakting pada ranah demokrasi yang makin bau terasi. Lalu diam-diam kentut baunya ke mana-mana kita pura tutup hidung, pada akhirnya kita juga nimbrung.
Kompetisi adu gagasan, bukan adu hujatan dan perasaan. Politik itu statis, dinamis, dan lebih pada analisis bukan anarkis. Sambil memenuhi cita rasa kebutuhan akar rumput. Di sanalah pesona politik hadir.
Pemilu telah usai, pemenang senang, yang kalah gamang, kemudian para tim sukses bubar grakk! Kembali ke rumah, meski ada yang tak ramah, ada yang sumringah, ada yang marah. Itu lumrah! Sembari menghitung laba rugi. Sampai tagihan spanduk, konsultan, serta mahar politik bikin tekor.
Datar saja sahaya merespon perjamuan yang sebatas gimik! Ini politikal tipikal akal. Semua punya strategi, dari kontestan yang mulai legowo, kritis, hingga sampai kontestan suka menghajar. Setelah pertarungan saling pukul, setelahnya hendak merangkul. Kulihat para elit makin genit.
Seperti drama berseri, setiap pergantian dan pemeran, dialog yang membuat sahaya makin dongok, mulai judul, tema dan slogan, pameran kata-kata, hingga sampah reklame, iklan/sponsor. Seakan menghantar kemapanan, tetapi bagi sahaya belum mempan, untuk menaruh harapan. Toh juga sekian lama ini, hukum, tatanan kebijakan menjadi kebejatan, terpola sistemik.
Politik itu adalah “akting” dari kejujuran murni pada situasi yang palsu. Bukan hanya sekadar prediksi, dan romantika imajiner. Leaner dengan pendukung lain yang menopangnya serta jam terbang atau pengalaman mengalahkan sejumud teori. Penuh basa-basi.
Sahaya tidak tinggal diam, kususuri di laman-laman dan kolom perbincangan politik, mengikuti debat di layar televisi, di pinggir jalan, trotoar, warkop, bahkan di beranda masjid. Dengan ala-ala pengamat. Berdebat mengumpat, tanpa data dan referensi yang mumpuni.
Politik itu asyik, sungguh asyik, dan memang asyik. Semakin kau menyelam, semakin kau tenggelam, hanyut tanpa muara. Begitu ampuh. Sebagai alat untuk meraih tujuan.
Politik bagai candu seperti sakau. Ia bisa menyulap pesona. Memengaruhi dan memenuhi selera setiap syahwat, perilaku, dan di sana abadinya sebuah kepentingan. Jika tak lihai maka kau terkibuli.
Musim berganti, hujan hujatan dan undangan hajatan marak. Tetiba penyakit demam pilek, bersin, batuk berjamaah. Bertepatan pileg yang kemudian memusatkan segala penjuru mata uang. Dari road show menebar pesona, hingga pada siluman amplop trending top markotop.
Politik dengan pesonanya kian merambat sampai memikat kepada sasaran dari yang merasa cerdas, paling ahli, akademisi, musisi, budayawan, cendekia, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, semua ikut nimbrung terjerat pukat rayuan mautnya.
Pada hakikatnya politik merupakan fenomena terkait manusia yang selalu hidup bermasyarakat. Secara kodrat, ia adalah makhluk sosial yang selalu dinamis dan berkembang. Karena itu, politik adalah gejala yang terwujud dalam proses perkembangan manusia itu sendiri. Kata ahli serta pengamat pada sebuah cuap-cuapnya di sebuah media televisi. Sesekali menghapus keringat di jidatnya.
Gayung bersambut setelah kabut tebal pemilu dan pileg sudah ketok palu. Sang pemenang menyambut riang tetapi merasa tidak tenang. Yang kalah merenung berkalang dendam dan meradang.
Lalu disuguhi kita kembali dengan menu hidangan yang gurihnya agak jauh lebih sengit di lidah bernama Pilkada, para petarung dan bandar siap perang mulai mengumpulkan para jawara kampung dan seluruh elemen kekuatan, dengan menghunus pedang pemenangan. Percakapan makin asyik dan masif dengan segala narasi yang lumayan kreatif.
Politik bukan seraya menjadi kesalahan dan momok serta kambing hitam. Sambil kulirik dalam larik terori dan definisi seorang Plato di sebuah laman, Plato berujar dengan teori serta filosofinya tentang politik.
Teori Politik berasal dari dua suku kata, teori dan politik. Teori dapat diartikan sebagai cara, model kerangka pikiran ataupun pedapat yang dikemukakan oleh seseorang sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa. Sedangkan politik berarti negara (berasal dari kata polis).
Plato melanjutkan di mana politik juga memiliki arti sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakekat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Filsafat politik yang diuraikan oleh Plato sebagai cerminan teori politik. Dalam teori ini yakni filsafat politik tentang keberadaan manusia di dunia terdiri dari tiga bagian yaitu, pikiran atau akal, semangat/keberanian dan nafsu/keinginan berkuasa.
Namun, para pelakon dan pemeran yang sesungguhnya mengembang dan cara mengejewantahkannya hingga menuai beberapa peristiwa di antaranya putusnya kekerabatan, hubungan harmoninya tetangga hambar sudah, baku bombe-bombe (bermusuh-musuhan), yang dulunya saling sapa, ketika Pilkada hadir semuanya bahkan satu kampung ramai petak umpet, baliho satu dan baliho lain saling menatap bagai busur panah siap menancap. Bahkan keluarga retak karena beda pilihan.
Fenomena ini sudah lazim di setiap perhelatan, entah mengapa, di tengah masyarakat. Edukasi politik, kesadaran, dan pola pikir sangat jauh dari ekspektasi, implementasi demokrasi itu terpenuhi
Sahaya mencoba menaruh harapan, namun kucegat segera karena saya melihat perisitiwa politik itu ruang ekspresi, selain ajang akrobatik sebagai penguatan lembaga negara tetapi rakyat melarat kian sekarat. Ia fleksibel, mudah cair, mengalir perannya cukup efektif bin ampuh membuat yang cadas dan cerdas menjadi lumpuh.
Ya, betapa anggun memesona pada rona-rona yang tidak perlu kau larut dan kalut. Elitlah (pelakon/pelaku) menjadi aktor utamanya. Cobalah kau selami lebih jauh, tetapi jangan terbawa rayuan gombalnya. Nah jika kau merasa idealis, seolah kritis dan masih paling merasa etis padahal apatis bin pragmatis. Maka kita sama, sama-sama penebar dan panabur pesona seperti mereka.
Kredit gambar: depositphotos.com

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply