Mengeja Flora, Fauna, dan Budaya via Maskot Pilkada

Banyak jalan menuju Roma. Aneka cara melestarikan flora, fauna, dan budaya. Dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan) merupakan lapik utama pendidikan, dituangkan dalam jalur formal, informal, dan nonformal.

Pelestarian flora, fauna, dan budaya, melalui jalur pendidikan menemukan lahan garapan yang amat luas. Bergantung pada apa yang ingin dicapai. Satu permisalan, pendidikan politik, khususnya terkait pemilu, di dalamnya terdapat pendidikan pemilih. Mendidik pemilih untuk meningkatkan partisipasi pun sangat banyak kiatnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU), mulai dari pusat sampai daerah telah menetapkan berbagai kiat, agar para pemilih, khususnya pemilih pemula, muncul rasa antusias untuk ikut memilih. Artinya, dibutuhkan pola sosialisasi yang efektif, agar menarik pemilih.

KPU pun berbagi peran pola sosialisasi. KPU Provinsi bersosialisasi melalui jingel.  Sementara untuk KPU Kabupaten/Kota lewat maskot. Sekadar penegasan, kedua model bersosialisasi itu hanya salah satu bagian ajakan memilih.

Pengertian maskot merujuk Wikipedia, maskot atau aditokoh adalah bentuk atau benda yang dapat berbentuk seseorang, binatang, atau objek lainnya yang dianggap dapat membawa keberuntungan dan untuk menyemarakkan suasana dari acara yang diadakan.

Setiap maskot yang dibuat akan diberikan nama panggilan yang sesuai dengan karakter dari maskot itu sendiri. Pemilihan atas maskot akan disesuaikan dengan karakter dari acara yang akan dibuat ataupun dari organisasi, klub, maupun lembaga yang akan menggunakan maskot sebagai alat untuk berpromosi.

Nah, KPU Kabupaten Bantaeng, sebagai penyelenggara Pemilukada untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng 2024-2029, ikut menghadirkan Maskot Pemilukada dengan cara melakukan sayembara terbuka, disertai beberapa persyaratan berupa ketentuan umum. Pertama, warga Kabupaten Bantaeng yang dibuktikan dengan KTP.

Kedua, lomba bersifat gratis. Ketiga, bisa perseorangan maupun kelompok. Keempat, setiap peserta boleh mengirimkan dua desainnya. Kelima, karya desain maskot sendiri atau berkelompok disertai surat pernyataan orisinalitas. Keenam, deskripsi tidak mengandung unsur SARA.

Ketujuh, setiap karya desain disertai narasi penjelas terkait konsep dan filosopinya. Kedelapan, karya pemenang menjadi milik KPU Kabupaten
Bantaeng, untuk dapat diubah dan disempurnakan sesuai kebutuhan. Kesembilan, keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

Adapun persyaratan ketentuan khususnya. Pertama, objek desain maskot merupakan situs/benda bersejarah/warisan budaya, flora, dan fauna yang merupakan ciri khas Bantaeng. Kedua, maskot mmemuat logo KPU dan dapat dipulikasikan ke berbagai media sosialisasi.

Ketiga, desain maskot dibuat dalam bentuk 2D ata 3D yang menunjukkan bagian depan, belakang, dan samping. Keempat, berkas dikirim dalam bentuk hardcopy dan softcopy. Keenam, batas akhir penerimaan karya 3 Mei 2024.

Penjurian dilaksanakan 7 Mei  2024. Sebagai salah seorang juri, saya ikut
mengeja desain maskot yang ikut lomba. Ada 14 peserta dengan jumlah 15 desain. Selain menjalankan fungsi sebagai juri, saya pun punya hidden agenda, terkait literasi berkaitan dengan sekotah desain tersebut.

Saya ingin memetakan minat peserta pada objek desain, lalu meraba-raba mengapa hal tersebut terpetakan sedemikian rupa. Dari 15 desain, terpetakan pilihan desain berobjek flora: 1, fauna: 13, dan budaya: 1.

Flora dipilih tanaman jagung (baddo). Fauna dipilih binatang berupa rusa (jonga) sebanyak 4, anoa (soko) 5, tarban (dampasa) 2, dan sikatan (cui-cui)  2. Budaya dipilih Balla Lompoa. Meskipun dalam desain maskot ada objek utama, tapi dalam variasinya beriringan pula dengan unsur-unsur khas lain bantaeng, semisal kopi, sarung, tombak, gunung, dan huruf lontara sebagai penguat narasi.

Sekotah desain maskot yang masuk, diberi nama, senapas dengan objek folora, fauna, dan budaya, yang dipilih. Nama-nama berbentuk singkatan maupun akronim. Hadirlah sederet nama: Si Noa, Si Rama, Si Baddoka, Buba, Si Katan, Soko & Sika, Sr. Jonga dan Sp. Jingo, Jolla’, Si Anoba, Jobu, Tarban, dan Si Tarsis.

Ada pertanyaan yang cukup mengusik pikiran saya. Mengapa hanya binatang tertentu menjadi pilihan utama? Padahal mungkin masih banyak lagi jenis binatang lainnya. Demikian pula tanaman dan budaya, bukankah begitu banyak jenis tanaman khas di Bantaeng? Apatah lagi warisan budaya, berupa situs bersejarah atau lainnya.

Sebagai pegiat literasi, saya menduga keterbatasan pilihan disebabkan karena sumber-sumber peliterasian objek-objek khas Bantaeng, baik flora, fauna, maupun budaya masih terbatas, untuk tidak mengatakan miskin literasi.

Saya menduga pula, sumber utama para desainer lebih mengandalkan media daring. Lewat paman Goggle, segera tersaji berbagai tulisan, tapi lebih
memastikan sumber pada Wikipedia. Padahal, ini kesempatan buat para desainer
untuk memunculkan sesuatu yang bersifat penemuan sendiri atas objek yang
diminta.

Akan lebih dahsyat bila mengambil objek yang belum terliterasikan, lalu diliterasikan baik dalam bentuk narasi maupun desain maskot. Sehingga akan lebih menjamin orisinalitas, baik desain maskotnya, terlebih lagi muncul keunikan pada narasi, sebab si peserta adalah orang pertama menarasikannya.

Berlapik pemetaan dan analisa terbatas saya terhadap pertanyaan sendiri, sepertinya muncul pikiran baru, untuk menjadikan momen sayembara KPU Kabupaten Bantaeng, sebagai pintu masuk buat makin memoncerkan literasi terhadap keragaman flora, fauna, dan budaya.

Apa yang dibikin oleh KPU Kabupaten Bantaeng, patut diacungi jempol. Dua jempol untuknya. Mengapa? Dikarenakan hajatan ini, pengejaan terhadap kekayaan flora, fauna, dan budaya di Bantaeng, bakal menjadi ramai.

Hasil sayembara KPU Kabupaten Bantaeng, dewan juri memutuskan pemenangnya pada: Si Katan, Pemenang I. Si Anoba Pemenang II. Si Rama, Pemenang III. Pemenang diundang oleh KPU Kabupaten Bantaeng, menerima hadiah, pada Jumat, 31  Mei 2024, pukul 19.30-selesai, bertempat di Balai Kartini Bantaeng, saat  acara Peluncuran Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng. Dan, Si Katan pun akan diresmikan penggunaannya.

Paling tidak, desain maskot pemenang menjadi medium, untuk menyosialisasikan sepenggal alam pikiran manusia Bantaeng. Sebab, lewat maskot, berbagai pesan pengetahuan, sikap, dan keterampilan akan tersampaikan dengan cara riang gembira. Sehingga, Pemilukada Kabupaten Bantaeng 2024, lebih berparas hari raya, karena merayakan ke-raya-an Bantaeng. 


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *