Category: Esai

  • Mungkin karena “Mabuk”

    Mungkin karena “Mabuk”

    Ketika manusia mulai menyata di dunia, secara lahiriah, yang pertama dipikirkannya adalah pemenuhannya terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Tempat tinggalnya tersedia, pakaian untuk menutup badannya tertutupi, makan-minumnya tercukupi. Baginya, kebutuhan pertama yang mendesak olehnya adalah pemenuhan akan papan, sandang, dan pangan. Setelah seseorang mapan secara ekonomi, nalurinya sudah mulai mencari tantangan baru, sekaligus bergejolaknya hasrat yang…

  • Air Berkisah

    Air Berkisah

    Aku penghuni 71% dari permukaan bumi. Aku bisa mengubah bentuk diriku menjadi berbagai macam. Jika kau menginginkan rasa dingin, cukup masukkan aku dalam kulkas. Akan kubentuk diriku menjadi es. Begitupun jika kau memutuskan untuk memanaskan makanan yang hendak kausantap, aku pun bersedia mengeluarkan uap untukmu. Begitulah bentuk perkenalanku. Namun, aku tidak akan memperpanjang lagi soal…

  • Hari ini adalah Hari Baik Kita

    Hari ini adalah Hari Baik Kita

    Berlaksa tanda kebaikan bisa sebagai penanda. Salah satu penandanya, berbentuk pemberian. Wujud pemberian itu sendiri, bisa pula berlaksa bentuknya. Tanda kebaikan berupa pemberian, serupa siklus memutar dalam keabadian. Kebaikan berpucuk pada pemberian, sementara pemberian berpuncak pada kebaikan. Begitulah adanya satu peristiwa kecil, tapi amat bermakna pada saya. Tatkala seorang sahabat baru pulang dari Bali, karena…

  • Selamat atau Celaka

    Selamat atau Celaka

    Kata pertama untuk setiap orang yang dilantik dalam jabatan apa pun, adalah kata “Selamat”. Apa makna dari kata ucapan “selamat”? Tersirat bahwa salah satu maksud dari orang yang mengucapkannya kepada yang bersangkutan, orang yang dilantik itu, dapat selamat dari mara bahaya yang akan menimpanya, akibat dari adanya jabatan itu. Karena itulah, ucapan refleks ataupun disengaja…

  • Di Ruang Alonica

    Di Ruang Alonica

    Sore dengan kopi gula aren, serta beberapa pilihan menu lainnya. Sila dicoba . Sebuah nama cafe  yang membuat saya  penasasan. Andien sang pemilik kafe dengan usia masih muda, mampu menerobos kafe di tengah menjamurnya kafe, serta begitu  ketatnya persaingan. Sambil kuseruput kopinya. Dan menemukan siapa sesungguhnya Alonica? Ternyata terinspirasi dari sebuah  judul lagu, dari sebuah…

  • Sumpah: Sampahku dan Sampahmu adalah Sampah Kita

    Sumpah: Sampahku dan Sampahmu adalah Sampah Kita

    Segala sesuatu yang bukan pada tempatnya merupakan sampah. Setiap orang pasti menghasilkan sampah. Bahkan, bila seseorang salah tempat, ia bisa jadi sampah. Maka perkara sampah bukan perkara orang per orang, tapi masalah bersama. Pendekatannya pun mesti holistik. Menyata di hajatan anak-anak milenial, sungguh satu kemewahan bagi saya. Mereka mendapuk diri sebagai “Generasi Hijau”. Helatannya bertajuk,…

  • Kursi itu Milik Kami

    Kursi itu Milik Kami

    Sebagai sebuah negeri yang menganut sistem demokrasi, di baliknya mengandung makna, bahwa dalam berbangsa dan bernegara, rakyatlah yang punya kuasa untuk mengatur hajat hidupnya sendiri. Dia adalah subjek dalam demokrasi, politik, dan proses pembangunan. Dalam artian bahwa ia rakyat sekaligus pemimpin. Manakala dibahasakan lebih praktis, jika ia rakyat, sekaligus ia adalah presiden. Jika ia rakyat…

  • Menakar Kembali Esensi KKN

    Menakar Kembali Esensi KKN

    Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diwajibkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Indonesia adalah sebuah langkah strategis yang patut diapresiasi, karena ia membuka ruang bagi mahasiswa untuk bersentuhan langsung dengan realitas sosial di masyarakat. Namun, di balik gagasan mulia tersebut, tersembunyi tantangan yang tak kalah pentingnya: Bagaimana memastikan bahwa program ini tidak terjebak dalam sekadar formalitas?…

  • Lawan yang Jujur

    Lawan yang Jujur

    Hidup tanpa cinta bagai taman tanpa bunga. Hidup hanya berkawan tanpa lawan, bagai tanpa penyedap, hambarlah rasa. Dinamika tak elok, suasana hanya kita merasa baik dan bahkan paling benar. Butuh lawan untuk pengakuan yang jauh lebih jujur. Kadang kala melepas yang berkenaan cara kita yang sering  keliru. Atau terlalu fanatik. Padahal itu adalah pemantik yang…

  • Tujuh Belasan Kebablasan

    Tujuh Belasan Kebablasan

    Setiap perayaan kemerdekaan Indonesia sampai saat ini dengan usia yang cukup matang. Masih berkalang tanya, sejauh mana sisi kemerdekaan itu berlaku, jika masih saja terdampar di tengah zaman? Masih saja disandera kemerdekaannya. Seperti terjajah kembali di negerinya sendiri.  Tidak harus kita tutup mata. Dan apatah lagi merasa nasionalis. Padahal kita sering mengolok-olok negeri sendiri. Tanpa…