Category: Esai

  • Hudzaipah: “Mentari” Energi yang tak Terbatas

    Hudzaipah: “Mentari” Energi yang tak Terbatas

    “Kehidupan ini dinamis. Cinta adalah energi dan keniscayaan bukan sekadar emosi, melainkan energi fundamental yang mampu mengubah diri dan menuntun manusia menuju kesadaran tertinggi” “Inilah kisahnya”, narasi visual seorang kawan. Pemuda lajang bernama Hudzaipah (Daeng Naba) atawa sapaan akrabnya Saipal. Lahir di Gowa, 03 Januari 1999. Saipal dikelilingi oleh kreativitas sejak usia muda. Semangat bawaan…

  • Menyibak Lebur tapi Tak Larut

    Menyibak Lebur tapi Tak Larut

    Ada yang larut dengan pesona, ada yang lebur dengan persona. Tipuan-tipuan bagai pesulap, lamat-lamat menyusup, mengendap, melesap masuk tanpa permisi (adab). Pura empati tetapi menaruh belati. Ada yang meringsut kemudian menjalin jala-jala sengketa. Benalu dinamakannya. Sebab ia berusaha lebur secara terpaksa kemudian hendak pula larut. Berpotensi akan menjadi karut marut. Ibatat pada satu komponen dan…

  • Omong-Omong Menuju Mei Bulan Menggambar

    Omong-Omong Menuju Mei Bulan Menggambar

    Malam itu, ketika semua orang rumah masih terlelap. Waktu menunjukkan dini hari pukul 02.21 WITA. Keheningan menyelimuti rumah, hanya sesekali terdengar deringan bunyi alarm dari gawai, pemecah keheningan, penanda waktu sahur segera tiba. Dalam keadaan setengah sadar, alarm aku matikan sembari mengecek notice WhatsApp. Beberapa notice muncul, salah satunya salam sapa seorang kawan yang dulunya…

  • Idulfitri: Kembali pada Kesucian atau Sekadar Kembali Bersantap

    Idulfitri: Kembali pada Kesucian atau Sekadar Kembali Bersantap

    Akhirnya sampailah kita pada Idulfitri, sebuah momen perayaan kemenangan bagi umat Islam yang diekspresikan dengan ungkapan “minal aidin wal faizin”. Menurut Prof. Quraish Shihab, kalimat tersebut bermakna “semoga kita termasuk orang yang kembali dan orang yang beruntung (menang)”. Kalimat itu merupakan harapan akan buah dari amal Ramadan yang kita kerjakan. Allahu Yarham Nurcholish Madjid, menyebut…

  • Ramadan 40 Tahun Lelaki Selatan

    Ramadan 40 Tahun Lelaki Selatan

    Life begins at Forty,  konon, kehidupan sesungguhnya di mulai pada usia 40 tahun. Mengapa?  Jelas, di usia 40 tahun, bagi seorang insan, adalah usia yang cukup matang. Untuk sampai usia 40 tahun, tentu, telah merasakan manis pahit kehidupan, asam garam pengalaman, dan pahit getir perjuangan. Sudah menjadi pengalaman umum, setiap insan memiliki bentangan sejarahnya masing-masing.…

  • Sosaku Kobayashi, Ki Hadjar Dewantara, dan Pentingnya Sekolah yang Menyenangkan

    Sosaku Kobayashi, Ki Hadjar Dewantara, dan Pentingnya Sekolah yang Menyenangkan

    Saya sudah lupa, kapan terakhir kali anak-anak di sekolah mendengus kecewa karena tiba waktu istirahat atau jam pulang. Selalu, sejauh yang saya saksikan, mereka justru bersorak gembira dan berteriak-teriak ketika bel penanda itu berdering. Seolah suara itu sudah lama mereka nanti, membebaskannya dari muramnya perasaan mereka di kelas. Atau, jika sudah teramat bosan, mereka akan…

  • Berkah Lailatulqadar untuk Mengenal Diri

    Berkah Lailatulqadar untuk Mengenal Diri

    Seyogianya, bulan Ramadan penuh berkah, membawa ketenangan jiwa seluruh alam. Bagi jiwa-jiwa yang tenang, makin ke sini Ramadan makin garib adanya. Pemandangan itu kontras, apabila kita melihat beberapa peristiwa lalu lalang di layar media sosial, makin ke sini Ramadan makin bising adanya. Tengok saja beberapa kejadian kekerasan, pencurian, pertikaian, makin intens di bulan berkah ini.…

  • Hikmah Apparikongang

    Hikmah Apparikongang

    Manusia menghabiskan banyak waktu, uang, dan energi untuk memberi manfaat bagi orang lain, termasuk keluarga, teman, dan orang asing. Mengapa kita melakukannya? Pernahkah kita memedulikan orang lain demi kepentingan mereka dan bukan hanya demi diri kita sendiri? Apakah tujuan akhir kita selalu dan semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau apakah kita mampu memperhatikan kesejahteraan…

  • Aku Rindu Pemimpin Pembaca Buku

    Aku Rindu Pemimpin Pembaca Buku

    Tidak ada yang kebetulan. Termasuk momentum esaiku ini. Persisnya, 8 tahun silam, Facebook mengingatkanku pada salah satu kenangan. Tentang, satu tulisan, muasalnya di lembaran mingguan Kala, Ahad, 03 April 2016, lalu kuunggah di akun facebookku, berjudul “Baca Buku, Baca Buku dan Baca Buku”. Esai tersebut berisi tentang dua sosok pemimpin dunia kala itu, sering bersuara…

  • Kembalinya Jiwa yang Tenang

    Kembalinya Jiwa yang Tenang

    “Proses merupakan kekayaan pribadi. Hasilnya adalah kepemilikan bersama.” (Maksim Daeng Litere) Sebagian besar manusia menginginkan keselamatan, setidaknya untuk dirinya dan orang-orang terdekat. Tentu, tidak hanya itu, segala kemuliaan, keberkahan dan kebaikan senantiasa menghampiri kehidupan kita. Hidup di atas keberkahan bukanlah tanpa alasan, setidaknya, seseorang telah memiliki kesadaran terhadap kebesaran Ilahi, sekecil apapun itu. Dalam caption…