Akhirnya sampailah kita pada Idulfitri, sebuah momen perayaan kemenangan bagi umat Islam yang diekspresikan dengan ungkapan “minal aidin wal faizin”. Menurut Prof. Quraish Shihab, kalimat tersebut bermakna “semoga kita termasuk orang yang kembali dan orang yang beruntung (menang)”. Kalimat itu merupakan harapan akan buah dari amal Ramadan yang kita kerjakan.
Allahu Yarham Nurcholish Madjid, menyebut perayaan Idulfitri hakikatnya adalah kemenangan secara batiniah atau rohani. Kebahagiaan dan kemenangan batin itu kemudian diekspresikan dan ditampilkan dalam hal-hal yang bersifat lahiriah sebagai luapan kebahagiaan batin. Hal itu diekspresikan seperti dalam bentuk pakaian baru, peralatan rumah baru, makanan, minuman dan sebagainya.
Hal semacam itu, tentu sah-sah saja, namun sebagai orang beriman, tetap harus mampu mengendalikan diri agar tetap dalam batas-batas kewajaran. Mencegah tergelincir pada sikap-sikap yang justru dilarang oleh ajaran Islam seperti berfoya-foya atau kikir karena hanya mementingkan diri. Islam melarang keras untuk kita menjadi boros dan mencela perilaku tersebut sebagai perilaku setan (QS. 17:26-27).
Idulfitri adalah suasana atau momen kesucian, setelah kita menyucikan jasmani dan rohani dengan puasa, yang digenapkan dengan zakat guna menyucikan diri dan harta. Dengan demikian, Idulfitri sejatinya adalah momen kita kembali pada suasana yang benar-benar fitri atau suci lahir dan batin. Karena itu pula dalam perayaan ini, kita saling bermaaf-maafan dengan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”.
Idulfitri sebagai perayaan yang berkenaan langsung dengan ibadah puasa memiliki dua makna, yaitu kembali (ya’udu) pada kesucian (fitrah) atau bermakna mengulangi kebiasaan (al-adah) bersantap (ifthar). Kedua makna Idulfitri tersebut tergantung pada kualitas puasa yang kita lakukan.
Bila puasa kita adalah puasa yang “menuhan”, maka makna Idulfitri bagi kita adalah kembali pada kesucian lahir dan batin. Namun, bila puasa yang kita kerjakan sebatas menahan lapar dan haus serta tidak diiringi dengan menahan emosi, perkataan dan perilaku, maka makna Idulfitri bagi kita sebatas perayaan untuk kembali bersantap di siang hari.
Idulfitri adalah penanda batas antara kehidupan sebelum dan sesudah Ramadan, itu sebabnya secara simbolik kita disunnahkan untuk makan walau hanya sedikit sebelum kita berangkat. Hal tersebut sebagai tanda bahwa Ramadan telah berlalu dan kita sudah dibolehkan untuk bersantap di pagi hari.
Salat Id merupakan salat yang memisahkan kita antara Ramadan dan sebelas bulan sesudahnya. Batas pemisah antara hari-hari yang kita isi dengan latihan kesucian dan dengan hari-hari selanjutnya yang penuh tantangan, untuk mempertahankan kesucian yang telah kita raih demi mengarungi hidup dalam sebelas bulan pasca Ramadan.
Dalam Salat Id, imam dianjurkan membaca QS. 87 dan 88 sebagai bacaan surat setelah membaca al-Fatihah di rakaat pertama dan kedua. Kedua surat ini juga dianjurkan dibaca oleh imam saat memimpin Salat Jumat. Kedua surat tersebut adalah surat yang identik dengan salat hari raya, baik hari raya mingguan (Jumat) maupun hari raya tahunan (Idulfitri dan Iduladha).
Kenapa dengan surat ke-87 (al-A’la)? Mari kita simak kalimat pertama dari surat tersebut, “Sucikan nama Tuhanmu yang Mahatinggi, yang menciptakan dan yang menyempurnakan”. Kalimat tersebut mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga kesucian diri, karena dengan hal tersebut berarti kita telah menyucikan Nama Tuhan yang Mahaagung.
Rakaat kedua membaca surat ke-88 (al-Ghassiyah), di sini kita diingatkan tentang pembalasan. Surat ini mengingatkan kita untuk tak lalai dalam eforia di hari raya, karena itulah kita diingatkan tentang berita mengenai hari pembalasan. Dianjurkannya kedua surat ini dalam salat hari raya menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah pembawa kabar gembira dan peringatan sebagaimana termaktub dalam QS. 25:56.
Ramadan berlalu, kini kita larut dalam “pesta kemenangan”, namun resapilah makna dua surat yang dibacakan oleh imam saat memimpin Salat Id. Kita akan tetap mengontrol kegembiraan, karena diingatkan mengenai berita hari pembalasan. Bergembiralah, karena hari ini kita telah kembali dapat bersantap di siang hari, setelah sebulan kita memantangkannya. Bergembiralah, dan ingat setelah ini tantangan begitu sangat berat.
Idulfitri adalah penanda akan mulainya kita pada habitus keseharian kita, yang lebih banyak disibukkan dengan urusan duniawi. Idulfitri menjadi titik star, apakah kita selanjutnya akan memanusia dengan menahun bersama Tuhan ataukah kita kembali mengumbar hasrat insting kebinatangan kita.
Setelah sebulan lamanya kita membiasakan diri dengan latihan yang keras untuk mendekatkan diri kepada Allah. Di siang hari kita menahan lapar dan haus, di malam hari kita bertarung dengan kantuk dan letih, demi memanfaat momen Ramadan sebagai bulan istimewa yang menjanjikan limpahan Berkah, Kasih-Sayang dan Ampunan.
Selanjutnya, kita diuji hingga Ramadan yang akan datang, apakah kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tetap istikamah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, membiasakan diri dengan ibadah dan mengendalikan hawa nafsu, hingga sedikit demi sedikit kita mendekati Allah dengan meniru keteladanan Baginda Rasulullah saw.
Namun, bisa jadi akibat kelalailan kita, rohani kita yang telah terhias sedemikian indah dan tumbuh demikian subur, melalui ibadah-ibadah Ramadan yang kita lakukan menjadi buyar. seperti perumpamaan dari rerumputan (almara’a) yang hijau kemudian meranggas menjadi tumpukan rumputan kering yang hitam (gutsa’an ahwa). Hal ini diingatkan Allah dalam QS. 87:4-5
Idulfitri adalah penanda, apakah puasa kita telah sampai pada derajat yang “menuhan” atau masih sebatas puasa yang menahan. Idulfitri adalah titik star apakah kita selanjutnya menahun berssama Tuhan, atau sekadar menahan selama sebulan. Semoga puasa kita “menuhan”, tak sekadar menahan.
Mari kita lantunkan petikan doa dalam rintihan suci cicit Nabi saw, Imam Ali Zainal Abidin, saat menyambut Idulfitri. “Ya Allah, kami bertaubat kepadaMu di hari fitri kami, yang kau jadikan bagi kaum Mukminin hari raya dan Bahagia…. terimalah taubat kami, ridai kami dan teguhkan kami di dalamnya.”
Semoga Allah menerima amal kita semua. Semoga kita termasuk orang yang kembali (pada kesucian) dan termasuk orang-orang yang peroleh kemenangan.
Guruku bernama Sulhan
Rajin memberi pencerahan
Semoga puasa kita “menuhan”
Tak sekadar hanya menahan
Jangan keluar ketika hujan
Nanti kamu masuk angin
Mari sambut kemenangan
Mohon maaf lahir dan batin.
Kredit gambar: Katadata.co.id

Doktor di bidang studi agama. Peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Memiliki spesifikasi pada kajian agama dan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.


Leave a Reply