Berkah Lailatulqadar untuk Mengenal Diri

Seyogianya, bulan Ramadan penuh berkah, membawa ketenangan jiwa seluruh alam. Bagi jiwa-jiwa yang tenang, makin ke sini Ramadan makin garib adanya. Pemandangan itu kontras, apabila kita melihat beberapa peristiwa lalu lalang di layar media sosial, makin ke sini Ramadan makin bising adanya.

Tengok saja beberapa kejadian kekerasan, pencurian, pertikaian, makin intens di bulan berkah ini. Tanda-tanda apakah ini? Apakah Tuhan seolah ingin menujukkan kadar manusia sesungguhnya? Entahlah.

Ramadan dengan segala keistimewaannya akan membawa manusia kepada levelnya masing-masing, artian, sejauh mana manusia berusaha berbenah diri, sejauh itu pula level kedudukannya.

Konon, menurut guru kehidupan, pada bulan Ramadan, setiap makhluk akan mendapat lailatulqadar sesuai dengan kadar ibadah dan amal salihnya. Mafhum adanya, pada bulan Ramadan terdapat satu malam yang disebut lebih baik dari seribu malam, itu adalah malam lailatulqadar.

Mengutip kata Jalaluddin Rakhmat, “Pada Surah Al-Qadar, kata Lailatul Qadr disebut tiga kali. Karena ada tiga kemuliaan yang terjadi di malam Qadar. Pertama, turun kitab suci yang mulia. Kedua, Al-Quran turun kepada nabi yang mulia. Ketiga, kemuliaan juga diberikan kepada mereka yang menghidupkan malam Ramadan dengan ibadah dan amal salih.”

Malam-malam hari merupakan waktu paling khusuk merasakan kemuliaan Ramadan, apalagi bertepatan dengan malam lailatulqadar. Pada malam itu dianjurkan menengadahkan tangan, berdoa memohon ampun dan melafalkan pujian kepada Sang pemilik semesta.

Bagi sebagian umat muslim, pada malam itu adalah kesempatan meraih kemulian Ramadan, meskipun di luar sana, sebagian umat muslim lainnya, mengisi malam-malam Ramadan dengan gemerlap aktifitas sosial dan ekonomi. Apalagi intensitas geliat ekonomi makin meningkat, seiring berakhirnya bulan Ramadan.

Usaha dan upaya meningkatkan kualitas diri di bulan Ramadan, sebuah kesadaran yang muncul dari dalam diri. Kesadaran itu tidak muncul begitu saja, tapi kesadaran yang muncul dari rentetan Ramadan-Ramadan sebelumnya. Kata pemimpin Agung “Jika kalian di bulan ini tidak bisa memperbaiki diri, mendidik dan mengendalikannya, maka akan semakin sulit lagi jika nanti Ramadan telah berakhir.”

Pekerjaan sepanjang hidup adalah mendidik diri, sedangkan Ramadan merupakan madrasah mendidik diri, kesempatan memperoleh rahmat ilahi terbuka lebar, bukankan bulan Ramadan itu sendiri bulannya Allah.

Puasa yang kita kerjakan, Allah sendiri yang memberi ganjarannya. Kata Rumi, “Ada rahasia tersembunyi tersimpan alam perut kosong. Kita ini hanya alat musik petik, tak lebih tak kurang. Jika kotak suaranya penuh, musik pun hilang.”

Ramadan, waktu yang tepat melatih diri menjadi insan garib. Melatih sabar dan ikhlas menerima segala takdir Allah, merupakan bekal manusia melakoni kehidupan selepas Ramadan.

Apa pun keadaannya, setelah Ramadan berlalu, diri ini tak peduli, kemudahan atau kesulitan hidup apapun dialami, kewajiban manusia hanya berharap  rida Ilahi, sembari bersyukur atas kemudahan yang didapatkan.

Di bulan Ramadan, setiap orang mempuyai pengalaman rohaninya masing-masing. Bagi seorang darwis, hidupnya semata berjalan ke dalam batinnya. Menebar kebaikan kepada semua orang, walaupun tak punya apa-apa untuk berbagi. Ia hanya bisa berbagi hikmah.

Mengutip tulisan Muh. Nur Jabir, direktur Rumi Institute, “Seorang darwis tak lagi menaruh perhatian atas segala persepsi orang lain, apalagi hanya sekadar terkenal. Hati seorang darwis telah merdeka, tak lagi terbebani dengan segala bentuk asumsi, persepsi, dan sangkaan.”

Lebih gamblang, Nur Jabir menegaskan, “Benar, penderitaan terbesar itu, ketika orang-orang mengenal kita, sementara kita tak mampu mengenal diri kita sendiri. Ujungnya hanya akan memberi keterasingan dan kehampaan.”

Pengalaman Ramadan membawa kita pada kesadaran mengenal diri. Berbagai kemelekatan merengkut diri selama ini. Inilah tabir yang mesti disingkirkan. Berbagai cara dilakukan, utamanya meninggalkan nikmat raga agar bisa meraih panggilan Ilahi. Tuhan berfiman, “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridaiNya.” (Q.S 27:28)

Mendiamkan diri, salah satu ikhtiar meraih kembali panggilan Ilahi. Selama ini, kita tertawan oleh nikmat raga dan nafsaniyah, tertipu oleh pikiran-pikiran dunia, serta hanya mengandalkan indra-indra zahir. Allah mengingatkan “ Jadilah tanpa indra, tanpa telinga, dan tanpa pikiran, agar kau mendengar panggilan, kembali.” (Q.S 89:28)

Manakala kemelekatan pikiran, perkataan, indra zahir, dst. Masih menyelimuti diri, bagaimana mungkin kita bisa terhubung dengan alam batin, maka diamkan sejenak diri dari percakapan dunia, lalu temukan suara Tuhan.

Rumi menukas “Selama kau terlena dengan percakapan di alam ini, kapan kau bisa menyadari percakapan di alam mimpi?

Keutamaan Ramadan laksana percikan api. Pada mulanya manusia diberi pertolongan, semacam anugerah berupa kesadaran diri,  lamat-lamat, api itu menjalar ke dalam batin.

Percikan kecil dan lemah itu, kini menjadi besar dan kuat, hingga benar-benar menjadi budi pekerti yang agung. Terang adanya, kehendak Allah di atas segalanya.

Jika Allah menghendaki, Dia akan menjadikan, ikhtiar sekecil pun, menjadi bermanfaat di hati manusia. Sebaliknya, sebanyak apa pun ucapan yang keluar, maka, semua itu tidak akan berarti apa-apa, jika tak ada pembenaran dari-Nya.

Dengan demikian, ungkapan “barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya”. itu adalah tentang kesadaran jiwa insaniah. 

Segala keindaha n dan kemegahan dunia, merupakan bias-bias sinar dan refleksi dari Allah Swt. Menyetir tulisan Jalaluddin Rumi dalam buku Fihi Ma Fihi, “Ada dunia yang sudah sepatutnya kita cari, di luar dunia yang biasa kita bicarakan, yakni, dunia yang memberikan hidangan pada sifat kemanusiaan berupa ilmu, kebijaksanaan, dan kemampuan melihat Tuhan.”

Seyogianya, manusia tidak sepatutnya puas, atas keindahan dan kemegahan dunia yang merupakan bias dan refleksi dari Allah. Sebab, meski semua itu adalah kelembutan dan sinar keindahan-Nya. Tetap, semua itu tidaklah abadi.

Waktu Ramadan, membawa kita pada dunia yang menyajikan hidangan rohani. Pemberian itu, adalah anugerah, agar kita merasakan taufik Ilahi. Mengutip buku  Fihi Ma Fihi, yang menjelaskan  orang yang mendapatkan taufik, yakni “Ada pemberian ada juga pengetahuan. Ada yang mendapatkan pemberiaan, tapi tak memiliki pengetahuan.  Ada pula yang mendapatkan pengetahuan, tapi tak memiliki pemberiaan. Jika keduanya bisa dimiliki seseorang, maka orang tersebut benar-benar mendapat taufik yang besar dan tak tertandingi.”

Semoga dengan berkah datangnya dan berlalunya lailatulqadar, kita bagian orang-orang yang mendapat taufik Ilahi.     

Kredit gambar: Islami.co      


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *