Hudzaipah: “Mentari” Energi yang tak Terbatas

Kehidupan ini dinamis. Cinta adalah energi dan keniscayaan bukan sekadar emosi, melainkan energi fundamental yang mampu mengubah diri dan menuntun manusia menuju kesadaran tertinggi”

“Inilah kisahnya”, narasi visual seorang kawan. Pemuda lajang bernama Hudzaipah (Daeng Naba) atawa sapaan akrabnya Saipal. Lahir di Gowa, 03 Januari 1999. Saipal dikelilingi oleh kreativitas sejak usia muda. Semangat bawaan untuk seni menemukan panggilan yang sebenarnya ketika ia terjun ke dunia seni rupa dan desain. Upayanya dalam bidang akademik membawanya ke Universitas Negeri Makassar (UNM), membenamkan diri dalam kancah seni Makassar yang semarak sambil mengasah keterampilan dan mengembangkan suara artistiknya yang unik.

Bagi Saipal, berkesenian adalah aktivitas olah rasa dan gagasan melalui tanggung jawab estetik. Tidak sekadar aktivitas untuk menciptakan keindahan, tetapi merupakan perjalanan mendalam untuk mengeksplorasi rasa, gagasan, dan pengalaman. Pengalaman real, imajiner, dan intuitifnya direka citra menjadi objek bernama “karya seni”. Seni mengonstruksi pengalaman dari bentuk yang tidak jelas (amorf). Heidegger mengistilahkan seni “poiesis” (Yunani), memiliki arti menampilkan, membuat tampak, dan berwujud.

Sebagai alumni mahasiswa pendidikan seni rupa, tentunya wujud dan perwujudan karya seni Saipal banyak dipengaruhi lingkungan akademis. Ruang tempat dirinya dan mahasiswa lain ditempa dasar-dasar berkesenian. Pengalaman teknis dasar lukis, patung, keramik, seni grafis (cukil kayu wood cut), dan desain. Saipal menemukan inspirasi dari dunia di sekitarnya, menyerap berbagai pemandangan, suara, tekstur, dan emosi yang membentuk realitasnya. Masukan sensoris ini kemudian diubah menjadi ekspresi estetika melalui proses artistiknya, mengambil bentuk dan makna baru saat diinterpretasikan.

“Mentari”, kalimat yang ia sematkan pada salah satu karya grafisnya. Karya itu   dicetak menggunakan cat atau tinta ofsset pada kain kanvas berukuran 50×60 cm. Berdasar pada sebuah perbincangan ringan dan wawancara tatap muka, karya seni grafis tersebut merupakan salah satu dari karya seni terinstal pada pameran bertajuk “Revolusi Esok Pagi” disingkat (REP). Pameran kolaborasi yang diselenggarakan komunitas seni rupa Makassar di Rumata’ Art Space, tertanggal 28—30 Oktober 2022 lalu.

Melihat objek visual seni Saipal menuntun saya pada sebuah refleksi pikiran Cartesian tentang kebebasan memilih dan menentukan tindakan (free will). Dimulai dari titik kehadiran diri/self dalam ingatan (refleksi) masa lalu, melihat dan menakar diri (self image) menuju sebuah perubahan diri. Jokowi menyebutnya “Revolusi Mental”.  Mengamati karya seni Saipal, kita diajak untuk menelusuri jejak diri di lorong ingatan, mengukur citra diri  yang terkonstruksi dari pengalaman dan interaksi dengan dunia. Karya-karyanya bagaikan peta jalan yang menuntun kita untuk menemukan jati diri yang autentik, melepaskan diri dari belenggu batasan dan membuka ruang bagi transformasi diri.

Berdasar pada perbincangan dan telaah visual seni, terungkap makna mendalam tentang naluri manusia sebagai pusat perubahan. Idiom Saipal menghadirkan analogi Mentari, konstelasi idiomatikal tentu dimaknainya sebagai pancaran spiritdan sumber energi penggerak menuju harapan dan cita setiap insan. Sama seperti Mentari yang menerangi dan menghangatkan Bumi, spirit manusia membangkitkan semangat, tekad, dan optimisme.

Idiom ombak tafsir pasang surut kehidupan yang pasti dilalui temasuk rintangan dalam diri manusia dan lingkungan. Lautan kehidupan diwarnai oleh gelombang pasang surut, mencerminkan suka duka, rintangan, dan kemenangan yang pasti dihadapi  manusia. Manusia hidup disetir alam bawah sadar berupa masalah internal, seperti keraguan diri, ketakutan, dan kelemahan. Di sisi lain, ombak juga melambangkan peluang dan kemungkinan.     

Oleh karena itu, Bill Gould dalam nukilannya Transformationan Thinking berupaya menyadarkan  bahwa Kita bukan sekadar korban keadaan, melainkan ada kekuatan pribadi yang cukup untuk mengubah apa pun dalam diri. Kita penyedia kekuatan sekaligus nahkoda rakit mendekati pantai tujuan.  Kesadaran ini menjadi landasan bagi transformasi diri, membuka pintu menuju perubahan dan pencapaian. Kita adalah pencipta realitas kita sendiri, dan kita memiliki kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang kita inginkan.

Sementara itu, di luar diri manusia terdapat kekuatan penyokong, penguat dan pendorong perkembangan kekuatan pribadi. Kekuatan motivasi sebagai efek interaksi sosial membantu individu untuk melihat diri mereka dari sudut pandang yang berbeda dan mendapatkan perspektif baru. Taufik Pasiak dalam bukunya Brain Management For Self Improfement membagi 3 kecenderungan perubahan diri manusia.  Menurutnya, naluri setiap individu (self) dan kelompok sosial (Society) mehendaki kebaikan, kesempurnaan, dan kesenangan. Interaksi sosial merupakan salah satu sumber kekuatan penyokong. Keluarga, teman, mentor, dan komunitas dapat memberikan dorongan untuk terus belajar, berkembang, mencapai tujuan.

Ada tanda kelopak bunga tafsir nasib manusia atas kehendak bebasnya. Memilih diam di dasar pijakan berarti menantikan diri menuju pada keleburan seperti debu tertiup angin. Memilih bergerak menuju perubahan berarti menuju pada masa depan yang luas, seperti galaksi diangkasa tak terbatas. Bunga, dengan kelopaknya yang indah dan rapuh, sebagai simbol nasib manusia. Keindahan dan kerapuhan bunga mencerminkan sifat sementara hidup manusia, dan kelopaknya yang bermekaran dan berguguran melambangkan pasang surut kehidupan.

Namun, manusia perlu menyadari bahwa energi terbesar pembawa perubahan dalam diri adalah kekuatan cinta. Cinta sebagai kristalisasi pengalaman estetik anugerah Tuhan Yang Maha Esa, menuntun manusia mencapai kesadaran tertinggi (kesadaran ilahiah).


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *