Aku Rindu Pemimpin Pembaca Buku

Tidak ada yang kebetulan. Termasuk momentum esaiku ini. Persisnya, 8 tahun silam, Facebook mengingatkanku pada salah satu kenangan. Tentang, satu tulisan, muasalnya di lembaran mingguan Kala, Ahad, 03 April 2016, lalu kuunggah di akun facebookku, berjudul “Baca Buku, Baca Buku dan Baca Buku”.

Esai tersebut berisi tentang dua sosok pemimpin dunia kala itu, sering bersuara keras dan menantang hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya. Keunikan atau kelebihan kedua pemimpin itu, termasuk pembaca buku. Dan, dari bukulah mereka memimpin negerinya dengan penuh wibawa. Keduanya mengingatkanku pula para pendiri negeri kita, yang rajin, bahkan rakus baca buku.

Kalakian, apa relevansinya di kekinian? Bukankah pemilihan presiden 2024-2029 sudah lewat? Presiden terpilih sudah ada? Betul adanya, tapi bakal ada gelombang pemilihan berikutnya: Pilkada. Pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota.

Nah, aku lebih tertarik pada pilkada tingkat kabupaten. Tepatnya, di negeri kelahiranku: Bantaeng. Pasalnya, negeriku ini lagi moncer gerakan literasinya, sehingga aku sebagai pegiat literasi, amat berkepentingan dengan bupati terpilih suka baca buku. Adakah?

Ah, sebelum tiba di hajatan pilkada, mungkin terlebih dahulu, aku dedahkan kembali esaiku yang 8 tahun lalu itu. Tentu dengan sejumlah adaptasi, biar semangatnya menghidu perhelatan pilkada nanti. Oke, sila ikut padaku memasuki lorong waktu dengan secarik esai berjudul, “Baca Buku, Baca Buku, dan Baca Buku”.

Saya lagi mendaras bukunya Taufik Pram, yang bertajuk , Hugo Chavez Malaikat Dari Selatan. Lalu saya begitu terpesona pada Chavez, yang menurut buku ini, “Hugo Chavez adalah pemimpin yang suka membaca. Dari barisan kata-kata yang berderet rapi di dalam sebuah buku itulah, dia tahu ada yang salah dengan dunia yang didiaminya. Kesalahan yang dibiarkan langgeng dan akut dalam periode yang terlalu lama. Melalui buku pulalah Chavez menuai banyak inspirasi, yang dibawanya untuk motivasi, metode, dan tujuan perjuangannya membebaskan seluruh manusia dan cengkaraman kanan – yang telah berubah makna menjadi sangat konotatif.”

Lalu, “Sampai kematiannya 5 Maret 2013, dia suka menyimak karya sastra. Terutama karya-karya yang mengembuskan napas Sosialisme; paham yang berhasil membuat El Commandante begitu terpesona. Tentang manusia-manusia yang harusnya bahagia. Tentang manusia-manusia yang harusnya tak diinjak. Tentang manusia-manusia yang berbagi. Juga memberi. Dari mana saja dia dapatkan semangat itu? Salah satunya, tak lain tak bukan, melalui inspirasi yang ditularkan sastrawan Prancis Victor Hugo, melalui Jean Valjean; tokoh karismatik yang dihidupkan dalam karya klasik Les Miserables.” Demikian torehan pena Taufik Pram.

Saya ingin mengutipkan apa yang diajukan oleh Raymond Samuel, dalam salah satu situs media daring, berdikarionline.com, bahwa sejak berkuasa, Chavez sangat memperhatikan dunia pendidikan. Bukan hanya mendorong pendidikan gratis dan berkualitas untuk memastikan seluruh rakyat Venezuela bisa mengakses pendidikan. Tetapi juga memassalkan pengetahuan melalui produksi massal buku-buku gratis.“Baca, baca, baca, dan baca. Itulah slogan kita setiap hari,” kata Chavez saat meluncurkan gerakan membaca pada April 2009. Sejak itu, jutaan buku-buku gratis dicetak untuk disebarkan kepada seluruh anak negeri. Termasuk buku Don Quixote karya Miguel de Cervantes, Les Miserables karya Victor Hugo, dan Das Capital karya Marx dan Engels.

Kesukaan Chaves membaca buku, termasuk karya sastra, khususnya Les Miserables, membuat saya membatin, mengingatkan kembali pada seorang tokoh yang amat revolusioner, Ali Syariati, yang juga suka membaca, bahkan tenggelam dalam perpustakaan pribadi ayahnya, yang juga telah membaca Les Miserables, saat Syariati masih duduk di sekolah menengah.

Syariati dan Chavez telah mendaras buku Les Miserables dan buku lainnya. Kedua sosok ini telah berkontribusi bagi negeri yang dipijaknya. Syariati menjadi salah seorang ideolog Revolusi Islam Iran, yang menyebabkan Iran kemudian terbebas dari rezim monarkhi Syah Reza Pahlevi yang berkiblat ke Amerika. Dan hingga di kiwari, membuat Iran tetap menjadi negara yang disegani, sebab tidak mau didikte oleh Amerika, terlebih lagi ketika dipimpin oleh presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang juga sahabat karib Chavez.

Adapun Chaves, membuat negerinya Venezuela menjadi negera yang berani melawan Amerika. Amerika dengan sekutunya, yang mengusung ideologi Neolib, berusaha sekuat tenaga menghancurkan Chavez, tapi ia tak gentar. Sebab Chavez adalah malaikat pemberontak yang tak pernah rela jika manusia harus hidup tertindas.

Dunia yang timpang seperti sekarang ini, setidaknya pernah memiliki dua manusia yang berwajah malaikat, sebagai malaikat pemberontak, meski dengan sayapnya yang berbeda. Ahamadinejad dengan sayap kanan malaikat dan Chavez dengan sayap kiri malaikat, kedua sayap ini pernah bersatu, terbang bersama membawa bendera pembebasan melawan tirani Neolib. Ahmadinejad harus “berhenti” melawan Amerika disebabkan masa jabatan kepresidenannnya sudah selesai selama dua periode, sedangkan Chavez harus “mengakhiri” perlawanannya dikarenakan jatah usiaya telah habis, direnggut oleh penyakit kanker yang dideritanya.

Pertanyaanya kemudian adalah bagaimana dengan pemimpin-pemimpin negeri ini di berbagai bidang dan levelnya? Adakah mereka sosok-sosok yang suka baca buku? Lalu menjadikan buku sebagai santapan ruhaninya sehingga mereka layak memandu negeri ini, agar terbebas dari berbagai macam jenis tirani? Sederhannya, sudahkah kita membaca Les Miserables, buku-novel yang telah dibaca oleh Syariati dan Chavez itu? Kalau belum, marilah mendarasnya dan juga buku-buku yang menggelorakan ruhani lainnya.

Cukup provokatif esaiku itu bukan? Lalu adakah pemimpin semacam itu pada level kabupaten? Khususnya di negeriku Bantaeng?

Sekadar menegaskan saja. Esai itu kutulis tahun 2016, 8 tahun lalu, bertepatan dengan Nurdin Abdullah selaku bupati Bantaeng. Dengan sederet titel akademiknya, aku yakin, beliau seorang pembaca buku. Lebih dari itu, Nurdin Abdullah sering merujukkan tingkat literasi layak tiru, pada sebuah negara: Jepang.

Begitupun juga penggantinya, Ilham Azikin, selain titel akademiknya mengindikasikan seorang pembaca buku, pun aktivitasnya dalam mendukung gerakan literasi, tiada bertepi. Dukungan Ilham telah kutulis dalam beberapa esai, salah satunya, secarik esai bertajuk, “Ilham Azikin dan Kisah-Kisah Selingkung Buku”.

Jujur, aku merindukan pemimpin suka baca buku. Sebab, sosok pemimpin demikian sering mengilhami percakapan. Bukankah ilham seringkali datang dari hasil imajinasi membaca buku? Dan, amat memantik geliat gerakan literasi yang diinisiasi secara kultural oleh masyarakat, khususnya pegiat, penggiat, dan komunitas literasi.

Bagiku, selaku pegiat literasi, pemimpin yang suka baca buku, serupa “tomanurung” buat memandu negeri ke arah masyarakat tercerahkan. Sosok seperti itu, aku merindukannya.

Kredit gambar: nuvolanevicata/Shutterstock


Comments

6 responses to “Aku Rindu Pemimpin Pembaca Buku”

  1. Muhammad Farid Avatar
    Muhammad Farid

    Alhamdulillah 🤲 apa bukunya sdh di cetak ? Sangat cocok untuk penguatan Literasi.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Esai-esa tersebut belum dibukukan.

  2. Ahmad Rusaidi Avatar
    Ahmad Rusaidi

    Kalau pemimpin-pemimpin sebelum dua orang no.1 di Bantaeng, bagaimana kecintaannya pada buku ustadz? Adakah rujukan?

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Saya ndak punya pengetahuan memadai. Sebab, saya jadikan patokan gerakan literasi per Maret tahun 2010, ketika Boetta Ilmoe saya dirikan. Wallahu a’lam.

  3. Rumah Baca Ambo Nai Avatar
    Rumah Baca Ambo Nai

    Kerinduan yg tak bertepi…

    Literasi adalah kemuliaan
    Bukankah Rasullah SAW yg telah lebih awal diperintahkan oleh Allah SWT berliterasi… Iqra Bacalah
    Diangkatnya derajat adalah kemuliaan, untuk memperoleh kemuliaan salah satunya dengan “bacalah”.
    “Yarfa’i llahu ladzina amanuu walladzina utul ‘ilma darojat”

    Kita di Kiwari, larut dalam buaian yg disebut “hempong”

    Sederet buku hanya jadi pajangan, hanya bagian dari dekorasi rumah, dan juga agar terlihat “oh dia juga suka buku”

    Buku : “Jangan kau menyanderaku di Rak Penjaramu”

    Buku : “Aku ingin bebas… bebas dibaca…”

    Buku :”Aku ingin dibaca anak-anak, remaja, orang tua, mahasiswa, guru-guru & pemimpin”

    “Refleksi minat baca”

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Terima kasih atas refleksinya. Barakallah selalu bersama kecintaan pada buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *