Menyibak Lebur tapi Tak Larut

Ada yang larut dengan pesona, ada yang lebur dengan persona. Tipuan-tipuan bagai pesulap, lamat-lamat menyusup, mengendap, melesap masuk tanpa permisi (adab). Pura empati tetapi menaruh belati. Ada yang meringsut kemudian menjalin jala-jala sengketa. Benalu dinamakannya. Sebab ia berusaha lebur secara terpaksa kemudian hendak pula larut. Berpotensi akan menjadi karut marut.

Ibatat pada satu komponen dan kompoisisi musik,  tidak harus merasa paling menguasai melodi dan ritme, bukan adu skil.  Ada elemen dan bagan instrumen dalam sebuah aransemen, sebagai jalur agar tidak kesasar. Kemudian kita larut, tanpa harus lebur.

Lebur adalah sebuah homonim  artinya  memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Kemudian dapat masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan bisa  bukan dalam arti yang sebenarnya.

Lebur memiliki arti dalam kelas adjektiva atau kata sifat sehingga lebur dapat mengubah kata benda atau kata ganti, biasanya dengan menjelaskannya atau membuatnya menjadi lebih spesifik. Ia memiliki arti dalam kelas nomina atau kata benda sehingga lebur menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.

Larut ia mencoba membenamkan dengan merangkaikan dirinya secara klasik (arkais) dan merasa asyik,  misalnya “Tenggelam karena sepi mencengkram kami.”

Kita larut dalam pikiran. Hanyut semakin jauh, bertambah lama. Sementara suasana makin menimang-nimang. Tidak juga harus memaksakan lebur. Karena ada komponen dan zat-zat lain yang menjadi bagian kendalinya. Kemudian membuatnya sangat terobsesi.  Untuk lebur tidak semudah itu. Misalnya  kopi larut bersama gula, air, tambah susu. Lalu ada dua komposisi yaitu pahit dan manis. 

Ada banyak proses yang cukup baik secara alibi, kronologi, analogi, biologi, atau jenis makna sesungguhnya larut itu sendiri.  Tidak lepas dan bebas, ia hanya lebur, menyatunya (larut) butuh waktu merunut. Ia berhubungan kata berbaur, membaur tetapi tidak harus terpaksa lebur.

Seperti denting piano dimainkan seseorang, dengan komponen, notasi, cord yang berjubel meliuk-liuk,  atau  beberapa orang memainkan alat  musik. Terbawalah  kita larut mendengarkan, bahkan ingin lebur  bermain, tetapi kita jauh di bawah bakat dan kemampuan. Hanya bisa menikmati. Sambil pura bersenandung.

Percakapan di beranda itu. Dengan gemercik air, menepuk pundakku sambil menyirat larut pada sebuah instrumentalia malam itu. Terasa betah, tapi sahaya berusaha menepis rasa itu.   Ada ketenangan, meski bukan untuk mencari kesenangan, justru yang hilang itu adalah ketegangan. Larung kita menyusuri rimba raya yang merekam jejak-jejak kebaikan, serta nilai-nilai, adab budaya manusia yang lesu, lesung bahkan manusia berbudaya tetapi masih bisjng, saling memasung dan suka membusung.

Di serambi bangunan tua itu, pada malam ketiga perjamuan dengan karib  Umbu dan Danu. Seperti mangajakku  berbaur pada suasana seadanya. Tanpa embel-embel merasa paling ini dan itu. Lebur itu mudah, namun tak seintim biasanya dalam kelarutan senyawa dari komponen berbeda, tetapi tidak sulit juga membaur. 

Umbu menepuk pundak sahaya.  Sejenak sahaya terhentak sesaat kemudian ingatanku merambat ke sebuah titian masa.  Sahaya terjemahkan dengan isyarat bahwa perjamuan ini adalah tautan sebelumnya. Bahkan secara tersublim (rahasia) ada keintiman jauh sebelum keberadaan kita di sini bernama “dejavu” atau pertemuan jauh dari sebelumnya pernah membaur. Tanpa harus menciptakan kenduri (perayaan). 

Mental dan nyaliku yang hampir ciut. Lantas berusahalah sahaya mengambil sikap jalur tidak kabur.  Setelahnya  menjeda jarak pertemuan secara intensitas. Akan tetapi  merawat kualitas. “Sejawat kita jamak, ibarat rindu saya urungkan setiap saat.” Pandu melirik ke arah sahaya, berkenaan saat seorang Umbu menyeduhkan secangkir kopi dari petik olah di tanah bertuahnya bernama Sumba.

Umbu menambat suguhan, “Agar ia tidak hambar mari kita tuangkan sedikit gula, tanpa harus kesusu menaruh susu, kita abaikan pahitnya, karena kita telah terlatih dan tertatih merawat kepahitan itu s” Tanpa dia harus memaksaku antara lebur dan larut. Sahaya kemudian merunut. Kembali ke rumah mengingat dan meluapkan segala tepukan, tiup pujian yang membuatku kian larut. 

Sahaya semakin paranoid. Takut ditambat, trauma kelarutan yang romantis nan harmoni. Namun, bagai permen karet dikunyah lebur ke lidah dan lengket sedikit ke gigi rahang, meninggalkan ngilu yang sakit. Dia  perasa dan pemanis sesaat saja, Pandu menimpali. Jangan larut, cukupi saja dengan tabir tabiat dan belajar tidak terlalu membaur.

Seperti gaun pengantin, hanya pabelobelo (riasan penyedap mata)  pesta hanya menyuguhkan kemeriahan sesaat, bukan nilai sakral yang sebagian umat manusia lalai dan menafikan sebuah ikrar dua manusia, menyatu di alam langit, disambut  Tuhan-Nya. Ya, seorang Umbu memaknai kesakralan, menjamu manusia sebagaimana diri itu tidak harus larut dengan kegembiraan, tetapi  lebur secara luhur.

Bukan semata  kultur apatahlagi struktur yang pada akhirnya juga perangai ngawur  bin  ngelantur.  Ada beberapa helai terajut, menjadi guyub bersama.  Tidak harus menganulir dengan gimik sebuah  kepekaan (kelarutan), ada lebur, bukan larut,  melingkupi geliat perangai membujuk, lalu terjatah lantas jatuh  di bidan dada, kemudian menjadikanmu  budak (larut kebablasan).

Bagai petapa, mengucap mantra samadinya dengan khidmat, tanpa memaksakan ingin lebur berkenan sejatinya jiwa, batin penyatuan tanpa melibas komponen larutan yang lain yang masih butuh “nipassiama” (lebur, menyatu). 

Meski kita berbeda, tapi  kita membaur. Umbu mengasuh kata, menguatkan satu sama lain. Kesamaan padu padan, sebagai  pelengkap ia masuk dan melebur.  Sebagaimana biasanya manusia pada umumnya, ada hanya pandai mengacau, dan meracau, perayu tanpa ilmu. Sahaya tercekat, sepertinya Umbu membuka sekat dari jabatan, strata dan menukilkan dirinya pintar merasa, tidak merasa pintar. 

Pandu yang duduk dekatku tidak tinggal diam, membaut dalam percakapan.  Pandu merangkai bahwa “Ada secara teoritis, kritis bahkan idealis, sama seperti sahaya ini sambil menunjuk dirinya. Mudah larut, kagum dan takjub, akan tetapi pada akhirnya terkecoh juga kita dibuatnya.” Ada pula  yang bersifat ambigu. Ujuk-ujuk sekian persona hadir mengusung. Ending-nya kau hanya menjadi lesung ditumbuk berpalu-palu.

Malam kian larut, agar tidak terjabak dalam karutku di timang-timang rasa senang. Serta takut juga berbuah  yang konyol. Sahaya sepertinya harus hadap kanan, hadap kiri.  Yang paling kronis lagi, kesan saya lupa  hadap diri.  Sahaya mudah larut, gampang membaur, mudah terpedaya. Gampang dikenang. Mudah dilupakan. Sahaya, Umbu dan Pandu saling menatap dan menata kata selanjutnya, saling menatap seraya pamit untuk sementara, esok dan malam selanjutnya kita kembali lebur, saling mengingatkan kelarutan dari asam, manis, pahit, dan sejuta larutan rasa yang tidak butuh kita debatkan atau kita bakukan,  apatahlagi mendefenisikannya.


Comments

6 responses to “Menyibak Lebur tapi Tak Larut”

  1. Umbu dan Pandu adalah teman sejati dengan sejuta rasa..🙂🙂

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Ashiaap kakak. Makasih telah berkenan

  2. Saya juga mudah larut,
    Seperti kopi dan beberapa sendok susu kental manis, Sebagaimana saya merasakan nikmatnya imaji serasa saya ada dalam kisah “Menyibak Lebur Tapi Tak Larut”

    Sambil kueja dengan agak cepat

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Wow. Makasih kakak apresiasi dan telah berkenan

  3. Rekliman Avatar

    Satu nama Jacky UMBU semoga sehat selalu \(^-^)/

    1. Dion Syaif Avatar
      Dion Syaif

      Berkah sehat bersama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *