Omong-Omong Menuju Mei Bulan Menggambar

Malam itu, ketika semua orang rumah masih terlelap. Waktu menunjukkan dini hari pukul 02.21 WITA. Keheningan menyelimuti rumah, hanya sesekali terdengar deringan bunyi alarm dari gawai, pemecah keheningan, penanda waktu sahur segera tiba. Dalam keadaan setengah sadar, alarm aku matikan sembari mengecek notice WhatsApp. Beberapa notice muncul, salah satunya salam sapa seorang kawan yang dulunya kami pernah se-almamater.

Dia adalah Rahmat Qadrianto, pemuda kelahiran Bantaeng, 13 Oktober 1999. Kini ia tengah merakit akal dibawah teduhnya pohon pengetahuan, tepatnya di salah satu  kampus seni ternama di Indonesia. Ia mengambil jurusan penciptaan seni di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta).

Kami belum lama terpisah, terhitung setahun setengah sejak kami didaulat sebagai Sarjana Pendidikan bidang Seni Rupa. Kini posisi kami sama-sama pascasarjana, bedanya ia ditakdirkan menjadi mahasiswa pascasarjana sedang saya pascasarjana pulang kampung. Lewat pesan singkat itu ia mengingatkan tentang suatu momen Seni Nasional “Mei Bulan Menggambar”.

Mei Bulan menggambar  merupakan even seni yang dulunya pernah kami garap bersama, sebuah propaganda gagasan yang dicetus  oleh Forum Drawing Indonesia (FDI) sejak 2018. Salah satu tujuanya menanamkan nilai dasar pendidikan karakter anak bangsa secara insting dan naluriah menyangkut ekspresi, imajinasi, dan kreasi (Baca, Seni.co.id).

Waktunya sahur lagi sekedipan mata, namun obrolan makin awet. Tukar pikiran pun makin tak terelak, ia  mengajak aku, ” Ayo gas lagi Mei Bulan Menggambar!” terangnya. Rahamat juga memberitahu, kalau hajat pameran ini juga dibersamai seniman Jogyakarta. Hajat tahunan ini rencana ditunaikan pada 17 Mei 2024 bertepatan Hari Buku Nasional.

Kami menyadari setiap gerakan yang digaungkan di berbagai provinsi dan daerah di Indonesia bukanlah euforia semata. Di balik setiap gerakan, terdapat aspirasi dan harapan rakyat yang ingin didengar dan diakui. Sehingga saya menekankan bahwa momen penting untuk mengangkat topik tentang penguatan identitas inklusif sebagai bangsa yang beradab.

Lalu ia menyodoriku sebuah topik “Coretan dalam Saku”, intisari dari hasil diskusi mereka bersama seniman lainnya. Sepenggal kalimat bermuatan konsepsi diri yang berusaha divisualisasi dalam ragam simbol dan bentuk seni (pameran seni). Topik “Coretan Dalam Saku” merupakan sebuah undangan untuk menyelami kedalaman diri dan mengekspresikan identitas melalui seni. Setiap coretan, simbol, dan bentuk seni menjadi cerminan muatan konseptual diri, sebuah representasi visual dari nilai-nilai, keyakinan, dan pengalaman.

Pameran seni ini bukan hanya tentang memamerkan karya seni, tetapi juga tentang membangun jembatan antara individu dan budaya. Setiap karya seni menjadi perantara untuk menjalin semangat keterhubungan atas keragaman budaya, suku, ras, dan agama.

Refleksi “Coretan dalam Saku”

Berakar pada individu membentuk jejak uniknya sebagai entitas diri. Mereka membawa  muatan konsep bekal luhur mengarungi perjalanan hidupnya. Setiap tindakan memberi implikasi terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Prinsip adalah salah satu muatan konseptual secara harfia merujuk pada seperangkat nilai, atau aturan moral yang mendasari perilaku dan keputusan individu. Bagai kompas moral menuntun jalan hidup individu. Sedang jalan yang terlewati,  mereka menyisahkan jejak atau tanda “sign” atas wujud perbuatan manusia yang menyangkup segala sesuatu yang mencerminkan dirinya (objek seni).

Simbol-simbol nilai yang tersimpan pada entitas individu ibarat setumpuk coretan dalam saku. Ada moralitas, spritualitas, etika, kreativitas, kebijaksanaan, keseimbangan, keadilan dan banyak lagi.  Rumpun nilai itu berdasar pada latar belakang individu yang unik, dibentuk oleh faktor keluarga, budaya dan pengalaman hidup.

Ketika nilai ini diterima secara kolektif oleh masyarakat, membentuk identitas dan membantu menciptakan kohesi sosial. Pameran, menggambar bersama, dan sejenisnya adalah salah satu bentuk kohesi sosial merujuk pada kekuatan atau kesatuan perupa secara aktif mencapai tujuan bersama.

Gambar dan Menggambar

Hakikatnya gambar adalah bahasa universal. Ia melampaui hambatan bahasa dan budaya, tak serupa dengan bahasa lisan ataupun tulisan. Simbol dasar dan emosi yang disampaikan gambar dapat dipahami oleh manusia sebagai mahluk visual dari berbagai latar belakang bahasa. Istilah menggambar sudah ada sejak ribuan tahun silam, bahkan sebelum manusia mengenal bahasa lisan dan tulisan (Baca, Liputan6.com). Sebagaimana tertanda di gua Leang-Leang Maros, Sulawesi selatan. Gambar-gambar itu melekat langgeng sebagai alat komunikasi kongkrit dan transendental manusia prasejarah.

Menggambar bukan sekedar aktivitas corat-coret, melainkan sebuah kata kerja yang berarti tindakan  mewujud citraan visual dalam bentuk kongkrit. Citraan ini kemudian menjadi materi perantara perasaan atau ide artistiknya. Setiap ide yang muncul dari banyak entitas tentu muatanya juga beragam. 

Kedati demikian sebagai manusia yang menjunjung tinggi keluhuran, tentu kita mengakui dan menghargai setiap perbedaan  tersebut.  Menyadari dalam konteks keyakinan apa pun, bahwa dunia ini saling terbubung dan memengaruhi, menciptakan realitas hidup yang kompleks dan kaya.

Realitas hidup yang dialami masyarakat kemudian memicu semangat untuk melakukan berbagai gerakan (Mei Bulan Menggambar). Gerakan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan realitas hidup mereka melalui gambar, sekaligus menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan positif dalam diri dan lingkungannya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *