Life begins at Forty, konon, kehidupan sesungguhnya di mulai pada usia 40 tahun. Mengapa? Jelas, di usia 40 tahun, bagi seorang insan, adalah usia yang cukup matang. Untuk sampai usia 40 tahun, tentu, telah merasakan manis pahit kehidupan, asam garam pengalaman, dan pahit getir perjuangan.
Sudah menjadi pengalaman umum, setiap insan memiliki bentangan sejarahnya masing-masing. Peristiwa kiwari, relate dengan masa silam. Keberadaan hari ini, tidak lepas dari peristiwa masa lalu. Ringkasnya,apa yang telah diperbuat, itu pula yang membentuk keberadaan kita sekarang. Dalam hal ini, siklus kausal berlaku kepada semua makhluk, setiap laku apapun itu, memiliki takdirnya sendiri-sendiri.
Beberapa detik lagi, Ramadan akan berakhir, melanjutkan safarnya menuju singgasana. Ramadan dengan segala keistimewaannya, usai menapakkan jejak-jejak rohani pada setiap insan.
Selanjutnya, kita akan menjalani kehidupan seperti biasanya. Pada saat itulah, imunitas iman kita akan diuji, setelah ditempah di madrasah Ramadan. Segala perbuatan amal kebaikan di masa Ramadan, akan tercermin di luar bulan Ramadan, sebagaimana hukum kausalitas berlaku.
Ramadan kali ini, sungguh, syukur nikmat merenggut diri atas nikmat Ilahi, seiring safarnya Ramadan. Bagaimana tidak, di waktu yang sama, di pucuk Ramadan, usia lelaki selatan itu genap 40 tahun. Kata Rumi, “Syukur adalah inti nikmat, dan nikmat itu hanya kulit. Syukurmu akan membawamu ke singgasana kekasih.”
Sesungguhnya, safar kehidupan baru di mulai. Akan banyak nikmat dan syukur bakal dialami di semenjana safar usia. Dunia tak lain adalah kemelekatan atas nikmat yang kita rasakan.
Bukan tidak mungkin, nikmat itu menjadi penyebab kelalaian kita. Belajar dari sejarah manusia, kita menjadi tahu, bukankah karena nikmat-nikmat duniawi, setan telah menghempaskan ribuan orang ke dalam air kelalaian.
Sebaliknya, selalu mensyukuri nikmat, menegaskan posisi kita tetap sadar. Dari kesadaran atas nikmat itu, kita dibawa menuju singgasana Ilahi. Keinginan dan kenyataan hidup selalu ada jarak keduanya. Tak jarang berakhir derita, pun bahagia.
Apa pun ceritanya, semuanya dalam rangka meraih rida Ilahi. Mengutip tulisan Muh. Nur Jabir, direktur Rumi Institute, menuliskan tahapan syukur, “Pertama, syukur hati, yakni manusia menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Tuhan. Kedua, syukur lisan seperti berucap Alhamdulillah. Ketiga, syukur tindakan, yakni dengan amal-amal kebaikan, berbagi kepada orang lain, dan menjalani hidup dalam kebaikan.”.
Tuhan berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatku), maka pasti azabku sangat berat.” [Q.S Ibrahim(14):7]
Kenyataan hidup tak lepas dari derita dan bahagia. Biasanya, untuk meraih harapan manis, didahului dengan situasi sulit. Tak perlu ragu dalam kondisi apa pun.
Selama yang kita lakukan adalah kebaikan, dan cara yang baik, semesta akan mengembalikan dengan caranya sendiri. Intinya, jangan putus asa atas segala nikmat-Nya.
Imam Ali bin Abi Thalib menerangkan hal tersebut, “Sesugguhnya nikmat itu berhubungan dengan syukur, sedangkan syukur berhubungan dengan maziid (penambahan nikmat). Keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka maziid dari Allah tidak akan terputus sampai terputusnya syukur dari hamba”.
Pada puncak Ramadan ke 40 tahun, lelaki selatan itu masih terpenjara dalam sangkar jiwanya. Masa hidupnya, dikelilingi banyak orang dalam lingkaran pertemanan. Satu per satu datang dan pergi, tak seorang pun bisa membatu keluar dari tawanan jiwanya.
Tak ada hujan tak ada angin, akhirnya, kesadarannya muncul, berusaha mencari kawan seperjalanan, untuk membatu keluar dari tawanan jiwanya. Seorang sufi berucap padanya, “Hidup ini tidak lebih menemukan kawan seperjalanan”
Sudah terlalu terlama hidup lelaki selatan itu, sendiri tanpa teman rohani. Makin ke sini, sangkaan-sangkaannya makin menegaskan keakuan dirinya. Dia pikir dengan segala sangkaan temannya, seperti paling baik, paling berilmu, paling dermawan, paling peduli, paling bertakwa, paling beriman, dst. Membuatnya kenyang, padahal, asalinya semakin membuatnya tak kenyang-kenyang.
Sebagai amsal, Jalaluddin Rumi menjelaskan dalam baitnya :
kata yang ini, “aku akan menjadi kawan karibmu”.
Kata yang lain, “tidak, akulah satu-satunya yang menyertaimu”.
Kata yang ini, “tak ada wujud yang serupa denganmu dalam keindahan, kemuliaan, kebaikan, dan berderma.”
Kata yang ini, “ kedua alam itu milikmu, seluruh jiwa-jiwa kami mengikuti jiwamu.”
Karena ia melihat seluruh manusia terpesona padanya.
Betapa angkuhnya sampai ia kehilangan dirinya sendiri.
Ia lupa, setan telah menghempaskan ribuan orang seperti dia ke dalam air. Kelembutan dan kemunafikan dunia seperti makanan lezat, makan sedikit saja karena makanan itu penuh api!
Apinya tersembunyi dan manis ditampakkan.
Asapnnya akan terlihat di akhir perbuatan.
Kini, 40 tahun Ramadan, lelaki selatan itu jauh dari teman-temannya. Di sudut sepi nan hening, ia tersungkur menggelayut menapaki kehidupan selepas 40 tahun. Ia khawatir, pada saat kematian menghampirinya, masih menjadi tawanan burung jiwanya.
Bila ia masih terus tergantung oleh pujian, lama-lama semakin membuatnya lupa diri, sementara waktu makin menipis. Di ujung jalan keabadian, sang kekasih telah menunggunya sejak lama.
Sang lelaki selatan, telah mengikrarkan diri, merdeka dari sangkar jiwanya, kuncinya senantiasa menempatkan diri menjadi hamba, rendah hati, tahan dari semua pukulan.
Kata Rumi,
“Dampak pujian bagai gula yang berkelanjutan, selang beberapa waktu, timbul bisul mencari tusukan.
Jiwa yang dipenuhi pujian akan berubah menjadi Fir’aun.
Jadilah orang yang rendah hati. Jangan tinggi hati. [25:63]
Sejauh yang kau bisa, jadilah hamba, jangan jadi raja! Bertahanlah dari pukulan. Jadilah bola, jangan jadi pemukul! Jika tidak, saat kelembutan dan keindahan ini pergi, kawan-kawanmu akan membecimu! Akhirnya mereka yang menipumu, ketika melihatmu akan berkata, “ini setan” Jika mereka melihatmu di depan pintu akan bergumam, “Mayat ini bangkit lagi dari kuburnya.”
Kredit gambar: Pngtree

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply