“Proses merupakan kekayaan pribadi. Hasilnya adalah kepemilikan bersama.” (Maksim Daeng Litere)
Sebagian besar manusia menginginkan keselamatan, setidaknya untuk dirinya dan orang-orang terdekat. Tentu, tidak hanya itu, segala kemuliaan, keberkahan dan kebaikan senantiasa menghampiri kehidupan kita.
Hidup di atas keberkahan bukanlah tanpa alasan, setidaknya, seseorang telah memiliki kesadaran terhadap kebesaran Ilahi, sekecil apapun itu. Dalam caption media sosial, menuliskan, “Teruslah berjalan, jangan berhenti, sepahit apa pun hidup, jalani dengan sabar tak bertepi, dan syukur tak berujung.”
Setiap peristiwa, ada makna di baliknya. Ada makna langsung terungkap, ada pula terungkap di kemudian hari. Tugas manusia hanya berjalan sesuai kehendak semesta. Setiap perbuatan sekecil apa pun akan memberi pengaruh secara sosial maupun personal.
Ucapan dan perbuatan merupakan tindakan seseorang merespon peristiwa dihadapinnya. Dalam laku sosial, tindakan seseorang tergantung seberapa jauh kebermanfaatan yang dirasakan orang lain. Semakin banyak manfaat yang memberi, makin baik manfaat bagi diri sendiri.
Rasa peduli terhadap orang lain, merupakan laku sosial paling bertuah. Kepedulian antar sesama atas dasar kemanusian, merupakan kasta tertinggi dalam pergaulan sosial. Terjalinnya kepedulian melahirkan empati, relasi, toleransi dan ikatan-ikatan sosial lainnya.
Secara maknawi kepedulian merupakan jalan cepat menuju pintu Ilahi. Mengedepankan rasa peduli terhadap orang lain tidak semudah membalik telapak tangan, alih-alih peduli orang lain, sedangkan orang terdekat pun berat melakukannya. Banyak residu diri menjadi penghalang ketidak pedulian kita kepada sesama, terutama egoisme yang masih bersembayam dalam diri.
Setiap orang memiliki cara sendiri mengatasi egonya, dan sangat mungkin tenggelam dengan egonya. Mengatasi ego diri bukanlah hal mudah, pasalnya, manusia merupakan makhluk materi yang membutuhkan materi untuk bertahan hidup.
Kenyataannya, kebutuhan materi bukan hal esensi dari kehidupan manusia. Manusia sejatinya, adalah makhluk spiritual yang mengemban amanah Ilahiat di alam dunia, sehingga materi hanyalah alat untuk memenuhi kebutuhan spiritual.
Pemenuhan nilai spiritual persis dengan menjalankan amanat Ilahi. Setiap orang memiliki amanatnya masing-masing, tugas seseorang, ialah mencari amanatnya hingga menemukannya. Tak perlu repot menjalankan amanat Ilahiat, apalagi harus mengunakan hal prestisius, semisal gelar, pangkat, jabatan, uang, dll.
Bukankah para rasul menajalankan amanat tidak membutuhkan semua itu, namun keberadaan Rasul membuat bumi terus tegak sampai saat ini?
Kadang hidup membuat kita cemas, takut dan timbul rasa penyesalan, hal itu jamak adanya apabila perspektif spritual belum kuat dalam diri. Perjalanan hidup manusia diawali dengan perjanjian primodial kepada Tuhan akan kesanggupan menjalankan amanat-Nya.
Awal mula kehidupan, manusia merupakan makhluk spiritual, kehidupannya belum terpengaruh oleh perspektif materi. Beranjak dewasa, sesorang mulai tertarik dengan segala macam imajinasi, angan-angan, cita-cita, dan sebagainnya. Di saat itulah manusia akan mengunakan segala potensi dimilikinya untuk mendapatkan dengan cara apapun.
Persaingan pun tak terelakkan, kompetisi antar sesama merupakan satu-satunya cara mendapat keinginan duniawi. Perlahan cahaya spiritualitas merudup, manusia tenggelam dengan angan-angannya.
Sesungguhnya, hidup dalam keadan seperti itu, menyalahi fitrah manusia sebagai makhluk spiritual. Hakikatnya, manusia tidak membutuhkan pemenuhan materi, sebab kebutuhan manusia berada pada sisi spiritualitasnya. Tidak berarti pula manusia lepas sepenuhnya terhadap materi, untuk sekadar bertahan hidup.
Bagi seorang spiritualis, apa pun realitas di dunia bisa dijadikan medium untuk mengaktualkan spiritulitasnya, meraih cinta Tuhan. Mengutip buku anggitan Sulhan Yusuf, Maksim Daeng Litere, “Setiap insan, mesti menemukan mandat hidupnya di kehidupan. Itulah titah sari diri.”
Di semenjana umur manusia, sudah saatnyalah kembali menyadari, sesungguhnya, kehadiran manusia semata-mata menjalankan amanat Ilahiat. Bukankah dunia sekadar tempat bersanda gurau belaka, sebagaimana firman Allah, “Kehidupan dunia ini hanya main-main senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS.al-An’am [6]:32).
Satu dari banyak pintu keberkahan hidup manusia, yakni saling peduli sesama makhluk Tuhan dan lingkungan sekitar. Tentu, kepedulian merupakan pintu dari segala kebaikan. Turunan dari laku peduli, persis melakukan perkhidmatan sesama ciptaan Tuhan.
Tak banyak orang menempu jalan sepi perkhidmatan, sebab, jalan ini tak banyak menjanjikan manisnya kehidupan dunia, namun, bagi seorang pejalan, perkhidmatan adalan jalur pintas meraih cinta Ilahi. Kehidupan seorang pejalan tak memerlukan gemerlapnya dunia, baginya, pemenuhan nilai spiritual lebih penting dari segala kemewahan dunia.
Tak dimungkiri setiap makhluk memiliki takdirnya sendiri-sendiri, begitu pun perannya sebagai makhluk Tuhan yang mengemban amanat di dunia. Tugas insan terus berjalan, hingga menemukan takdirnya.
Sisihkan perasaan penyesalan, khawatir, apalagi takut. Kata Iman Ali bin Abi Thalib kw, “Kehidupan di dunia mengusangkan raga, membarukan angan, menghampiri kematian, memperpanjang keinginan. Orang yang menggapai dunia segera bosan, sedangkan orang yang tak menggapainya merasa sengsara.”
Melespakan kemelekatan duniawi, dan menuju jalan spiritual adalah upaya keras manusia, selebihnya kehendak Tuhan. Bukankah Tuhan berfirman, “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (QS. At-Takasur[8]:102).
Manusia mulia karena kemanusiaannya. Sesungguhnya kemualiaan manusia berada pada kebaikan jiwanya. Semakin banyak berbuat kebaikan, jiwanya makin mulia.
Bukankah sebaik-sebaiknya bekal kematian, ialah kembali dengan jiwa yang tenang? “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam posisi suka dan disukai. Maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surgaku.”(Qs al-Fajr 27-30).
Jelas, dengan begitu, manusia hendaknya berupaya keras membersikan jiwanya untuk dipersembakan kepada sang pemilik semesta. Wallahualam bissawab.
Kredit gambar: https://id.pngtree.com/

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply