Andaikan Politisi-Pengusaha Berwakaf Buku untuk Perpusda Bantaeng

Saban musim politik, jalan-jalan dipenuhi baliho. Wajah para politisi bertebaran di sudut kota, di pertigaan jalan, bahkan hingga ke pelosok desa. Ada yang tersenyum teduh, ada pula yang menatap penuh keyakinan ke arah masa depan. Dana yang berputar pun tidak kecil. Sosialisasi, spanduk, panggung kegiatan, hingga pelbagai ikhtiar membangun popularitas, semuanya membutuhkan ongkos yang tak sedikit.

Namun, di tengah lalu lalang biaya politik itu, kadang terbit satu pertanyaan sederhana: bagaimana bila sebagian kecil saja dari ongkos tersebut dialihkan untuk wakaf buku?

Barangkali satu baliho yang tak lagi dipasang, dapat berubah menjadi puluhan buku bagi Perpustakaan Daerah Bantaeng. Dan puluhan buku itu mungkin akan dibaca berkali-kali oleh banyak orang dalam waktu panjang.

Sebab pada akhirnya, wajah di baliho akan lekas dilupakan zaman. Tetapi buku kerap tinggal lebih lama di dalam ingatan manusia.

Karena itu, gerakan wakaf buku sesungguhnya tidak hanya membutuhkan seruan moral dari para dai ataupun dukungan birokrasi dari pemerintah daerah. Ia juga memerlukan tindakan nyata dari para politisi dan pengusaha yang memiliki kemampuan lebih besar untuk mengambil bagian dalam kerja-kerja kebudayaan.

Politisi, misalnya. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh mandat dari masyarakat. Sebagian duduk di DPRD kabupaten, sebagian di tingkat provinsi, dan lainnya berada di Senayan membawa nama daerah pemilihannya. Dalam posisi seperti itu, sesungguhnya ada banyak cara meninggalkan jejak pengabdian, selain sekadar membangun citra politik.

Andaikan saja setiap anggota legislatif yang mewakili dapil Bantaeng, maupun partai politik menggalang politisi-anggotanya, berwakaf buku secara berkala ke perpustakaan daerah, niscaya rak-rak bacaan akan bertumbuh lebih cepat. Buku sejarah, sastra, pertanian, agama, teknologi, hingga bacaan anak-anak, perlahan akan memenuhi ruang-ruang perpustakaan. Dan, dari lembar-lembar itulah, pengetahuan mulai berkelintangan dari satu singgasana pikiran ke puncak raga lainnya.

Bukankah jauh lebih elok, bila sebagian energi politik, juga diarahkan untuk merawat kecerdasan masyarakat?

Sebab politik, pada akhirnya, tidak semata soal perebutan kekuasaan. Ia juga tentang bagaimana sebuah generasi disiapkan menghadapi masa depan.

Barack Obama berkali-kali memperlihatkan kedekatannya dengan buku. Bahkan di tengah kesibukan politik, ia tetap rutin membagikan daftar bacaan kepada publik. Barangkali, karena membaca membuat seorang pemimpin lebih terbuka, dalam memahami dunia dan manusia.

Hal serupa berlaku bagi para pengusaha.
Di tengah tumbuhnya usaha dan perputaran keuntungan, sesungguhnya ada ruang, dapat diisi oleh kerja-kerja sosial yang lebih panjang napasnya. Banyak perusahaan hari ini memiliki program tanggung jawab sosial atau CSR. Namun, tidak semuanya menyentuh wilayah pengetahuan dan literasi.

Padahal, bantuan buku bagi perpustakaan daerah, dapat menjadi salah satu bentuk investasi sosial yang dampaknya hidup lebih lama.

Bayangkan, bila perusahaan-perusahaan di Bantaeng mulai mengalokasikan sebagian dana CSR mereka, buat membeli buku dan mewakafkannya ke perpustakaan daerah. Imajinasikan, bila para pengusaha perseorangan yang usahanya mulai bertumbuh, ikut menyisihkan sebagian keuntungan mereka, guna membantu pengadaan bacaan. Bahkan, para kontraktor yang mengerjakan proyek-proyek pembangunan pun dapat mengambil bagian dalam gerakan semacam itu.

Gerakan ini tidak menuntut sesuatu yang mustahil. Tiada pula membutuhkan seremoni berlebihan. Ia hanya memerlukan kesadaran, bahwa membangun daerah bukan semata menghadirkan beton dan bangunan fisik, tetapi juga memperkuat isi kepala masyarakatnya.

Sebab, satu daerah tidak hanya dikenang dari infrastruktur yang dibangunnya, melainkan juga dari seberapa kuat tradisi pengetahuannya bertumbuh.

Sejarah memperlihatkan, bangsa-bangsa besar selalu menempatkan buku dan pengetahuan, sebagai bagian penting dari peradaban mereka. Perpustakaan dirawat, ruang belajar diperluas, dan tradisi membaca dijaga, agar tidak meruntas ditelan zaman.

Karena itu, terasa agak janggal, bila hari ini buku justru sering dianggap sebagai kebutuhan pinggiran.

Padahal, satu buku dapat hidup jauh lebih panjang daripada usia pemiliknya. Ia berpindah dari satu tangan ke tangan lain, bermula satu generasi menuju generasi berikutnya. Buku sejarah, seseorang mengenali jejak bangsanya. Karya sastra, manusia belajar memahami batin sesamanya. Dan, buku pengetahuan, anak-anak muda mulai menilik dunia yang lebih luas daripada batas negeri yang selama ini mereka kenal.

Dus, wakaf buku sejatinya bukan sekadar menyumbang koleksi perpustakaan. Ia adalah cara merawat masa depan daerah secara perlahan.

Arkian, andaikan para politisi, pengusaha, kontraktor, dan pelbagai pemilik modal mulai mengambil bagian dalam gerakan wakaf buku, untuk Perpustakaan Daerah Bantaeng, bukan tidak mungkin perpustakaan itu kelak bertumbuh menjadi salah satu ruang pengetahuan yang paling hidup di Bantaeng.

Mungkin kerja semacam ini, memang tidak menghadirkan sorotan sebesar panggung politik ataupun proyek-proyek besar pembangunan. Namun, dari halaman-halaman buku yang diwakafkan dengan ikhlas itu, boleh jadi sedang tumbuh generasi baru lebih tercerahkan, kian luas cakrawalanya, dan makin kuat daya pikirnya.

Waba’du, bukankah salah satu bentuk kemuliaan paling panjang umur, ialah meninggalkan pengetahuan yang terus hidup, selepas nama sang pewakaf perlahan dilupakan zaman?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *