Sebuah daerah boleh saja memiliki kantor pemerintahan megah, jalan mulus, taman kota tertata rapi, ataupun bangunan-bangunan baru menjulang. Namun, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari apa yang kasat mata. Ada satu hal, sering luput dari perhatian: seberapa dekat masyarakatnya dengan pengetahuan.
Sebab dari ranah itulah, arah masa depan sesungguhnya mulai bernala-nala.
Di Perpustakaan Daerah Bantaeng, harapan tentang tumbuhnya masyarakat pembelajar sebenarnya telah menemukan rumahnya. Gedung perpustakaan daerah berdiri dengan wajah elok nan selesa. Ia tampak seperti ruang yang disiapkan buat merawat pengetahuan masyarakat. Akan tetapi, sebagaimana banyak perpustakaan daerah lainnya, tantangan terbesar masih terletak pada koleksi bahan bacaannya.
Rak-rak tertentu belum sepenuhnya terisi. Penambahan buku berjalan perlahan. Sementara kebutuhan masyarakat terhadap bacaan terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
Persoalannya, bukan semata karena kurangnya perhatian. Pemerintah daerah memiliki banyak prioritas pembangunan. Anggaran mesti dibagi ke berbagai sektor. Akibatnya, pengadaan buku acap kali berada di barisan yang tidak terlalu diprioritaskan.
Padahal, perpustakaan sesarinya bukan hanya bangunan pelengkap dalam tata kota. Ia serupa ruang, tempat sebuah daerah merawat kecerdasannya.
Karena itulah, gerakan wakaf buku untuk Perpusda Bantaeng menjadi penting. Dan gerakan semacam ini akan jauh lebih kuat, bila memperoleh dukungan langsung dari kepala daerah.
Barangkali sudah waktunya Bupati Bantaeng, menyerukan gerakan wakaf buku bagi para ASN dan birokrat di lingkup pemerintahan daerah. Tidak perlu menunggu program besar dengan anggaran fantastis. Kadang-kadang, perubahan justru lahir dari langkah sederhana, dilakukan secara bersama-sama.
Bayangkan, bila ribuan ASN di Bantaeng, menyisihkan satu dua buku, untuk diwakafkan ke Perpusda Bantaeng. Imajinasikan, kalau setiap kegiatan pemerintahan—hari jadi daerah, apel besar, musrenbang, hingga seremoni kedinasan—selalu disertai gerakan wakaf buku. Perlahan tapi pasti, rak-rak perpustakaan akan mulai dipenuhi bacaan beragam.
Dan dari rak-rak itu, pengetahuan akan berkirai ke banyak kepala.
Gerakan seperti itu mungkin tampak kecil. Tidak menghadirkan gegap gempita. Tidak pula menjadi tajuk besar yang riuh diperdebatkan. Namun, sejarah sering menunjukkan, peradaban justru tumbuh dari kerja-kerja sunyi yang dilakukan secara tekun.
Sejarah memperlihatkan, peradaban-peradaban besar selalu bertumpu pada pengetahuan. Barangkali karena itulah, Nelson Mandela, pernah menyebut pendidikan sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Dan buku, pada akhirnya, merupakan salah satu jalan paling panjang, guna menjaga nyala pendidikan itu tetap hidup.
Hal serupa pernah diperlihatkan Soekarno. Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin bangsa, Bung Karno dikenal sebagai pembaca yang rakus. Buku-buku menjadi teman dialognya dalam membangun gagasan tentang Indonesia. Dari bacaan itulah, banyak pemikiran besar lahir dan kemudian memengaruhi arah perjalanan bangsa.
Atau seperti ditunjukkan Bung Hatta, ketika dirinya hendak diasingkan pemerintah kolonial, ia lebih dahulu memikirkan nasib buku-bukunya, ketimbang kenyamanan dirinya sendiri. Bahkan, Hatta pernah berujar bahwa ia rela dipenjara asalkan tetap ditemani buku-buku kesayangannya.
Karena itu, perhatian terhadap buku sesungguhnya bukan perkara kecil. Ia berkaitan langsung dengan mutu pikiran masyarakat. Dari rak-rak bacaan itulah minda bertumbuh, cakrawala merentas batas, dan keberanian bernala-nala melawan kepandiran.
Sejak lama, peradaban-peradaban besar dunia selalu bertumpu pada tradisi membaca dan pengetahuan. Bangsa-bangsa yang kuat bukan hanya membangun pelabuhan, istana, atau jalan raya, tetapi juga merawat perpustakaan, manuskrip, dan ruang-ruang belajar bagi masyarakatnya. Karena itulah, terasa agak janggal bila hari ini, buku justru mulai dipandang sebagai kebutuhan pinggiran. Padahal, darinyalah manusia membangun cara berpikir, kebijaksanaan, dan arah masa depannya.
Ia dapat berpindah dari satu pembaca ke pembaca lainnya dalam waktu yang panjang. Dari lembar-lembar itulah, seseorang mungkin mulai mengenali jejak masa lalunya melalui buku sejarah, menemukan kejernihan batin lewat buku-buku agama, atau belajar memahami perasaan manusia lain melalui karya sastra. Sementara buku pengetahuan kerap menjadi jendela bagi anak-anak muda di daerah, untuk menilik dunia lebih luas daripada bentang negerinya.
Dus, wakaf buku sejatinya bukan hanya tentang membantu perpustakaan menambah koleksi. Ia sebentuk cara satu daerah merawat akal sehat masyarakatnya.
Dan para ASN memiliki posisi strategis dalam gerakan semacam itu. Mereka bukan sekadar pelaksana administrasi negara, tetapi juga wajah pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat. Ketika birokrat ikut berwakaf buku, mereka sedang memperlihatkan, birokrasi tidak hanya bekerja di belakang meja, melainkan juga ikut memuliakan pengetahuan.
Kalakian, bila gerakan wakaf buku benar-benar hidup di lingkungan pemerintahan daerah, dampaknya tentu tidak kecil. Masyarakat akan melihat teladan. Anak-anak muda akan menyaksikan bahwa buku masih dihargai. Dan perpustakaan daerah perlahan akan menjelma bukan hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi sebagai ruang hidup yang terus bertumbuh bersama masyarakatnya.
Mungkin kerja ini memang tidak selalu menghadirkan tepuk tangan. Tiada pula langsung mengubah keadaan dalam semalam. Namun, dari buku-buku yang diwakafkan dengan ikhlas itu, boleh jadi sedang bangkit, lalu tumbuh generasi baru Bantaeng, lebih akrab dengan ilmu, makin luas cakrawalanya, dan kian kuat daya pikirnya.
Dan bukankah salah satu warisan terbaik seorang pemimpin, tatkala meninggalkan masyarakat yang kian merunjam buku dan semakin mencintai pengetahuan?

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply