Imam Ali Khamenei: A Hero’s Journey

Ramadan 1447 H, saya serasa berada dalam pusaran keharuan tak bertepi. Pasalnya, seorang panutan, Imam Ali Khamenei, menjemput kesyahidan dengan teladan konsistensi dan persistensi perlawanan terhadap imperialisme Amerika Serikat dan Israel. Sulit menemukan insan sepertinya di kekinian.

Kesyahidannya memunculkan beragam reaksi. Salah satu bentuknya, berupa majelis duka di berbagai tempat. Kota Makassar, ikut menggelar majelis buat mengenang sang Syahid. Dua ormas Islam berparas Mazhab Ahlul Bait, yaitu Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Wilayah Sulawesi Selatan.

Keharuan saya semakin suntuk, sebab diundang oleh dua ormas tersebut untuk memantik percakapan, guna merefleksikan kesyahidan sang Rahbar, Imam Ali Khamenei, 28 Februari 2026, oleh serangan Israel dan Amerika.

Di majelis tersebut, 3 Maret 2026, ABI dan 7 Maret 2026,  IJABI, saya tidak mendedahkan konsep kesyahidan dalam perspektif Islam, khususnya dalam sudut pandang Mazhab Ahlul Bait. Namun, saya memetakan bagaimana perjalanan kesyahidan Imam Ali Khamenei, melalui konsep Hero’s Journey dari seorang schoolar, di bidang kajian mitologi dan legenda: Joseph Campbell.

Konsep Hero’s Journey, tersurat dalam bukunya, The Hero with a Thousand Faces, dirumuskan Joseph Campbell, menggambarkan pola universal perjalanan tokoh besar dalam sejarah dan mitologi manusia. Dalam pola ini, seorang tokoh mengalami panggilan, menghadapi ujian, mengalami krisis besar, lalu kembali membawa makna bagi masyarakatnya.

Waima teori Campbell lahir dari kajian mitologi, pola tersebut sering dipakai untuk membaca perjalanan tokoh sejarah dan politik. Salah satu figur yang dapat dibingkai melalui perspektif ini adalah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade.

Mengeja perjalanan Imam Khamenei melalui kerangka Hero’s Journey bukan berarti menilai secara moral seluruh kebijakannya, melainkan mencoba memahami bagaimana perjalanan hidupnya membentuk peran historis yang ia jalani. Ada delapan tahapan perjalanan seorang pahlawan menurut Campbell. Saya coba adaptasikan.

Dunia Biasa: Seorang Pelajar Agama di Mashhad.

Dalam struktur Campbell, perjalanan pahlawan selalu dimulai dari dunia biasa. Bagi Imam Khamenei, dunia ini adalah kota religius Mashhad di Iran timur, tempat ia lahir pada 1939 dalam keluarga ulama. Ia kemudian menempuh pendidikan agama di Kota Qom, salah satu pusat studi teologi Syiah terpenting di dunia.

Kala muda, Imam Khamenei dikenal sebagai pelajar agama yang tertarik pada filsafat, sastra, dan pemikiran politik Islam. Dunia ini masih merupakan kehidupan biasa seorang santri dan ulama muda, jauh dari panggung kekuasaan.

Panggilan Petualangan: Perlawanan terhadap Monarki

Tahap berikutnya dalam Hero’s Journey adalah call to adventure, panggilan untuk meninggalkan kehidupan biasa dan memasuki konflik yang lebih besar.

Panggilan ini muncul ketika Imam Khamenei bergabung dengan gerakan perlawanan terhadap monarki Iran di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia menjadi pengikut dekat pemimpin revolusi Iran, Ruhollah Khomeini.

Pada 1960-an hingga 1970-an, ia aktif menyebarkan ceramah dan tulisan yang menentang rezim monarki. Aktivitas ini membuatnya beberapa kali ditangkap oleh polisi rahasia Shah, SAVAK.

Dalam kerangka Campbell, fase ini merupakan momen ketika seorang tokoh meninggalkan zona aman dan memasuki medan konflik yang berisiko.

Ujian dan Pengasingan

Dalam Hero’s Journey, pahlawan yang telah menjawab panggilan akan memasuki dunia ujian. Di sinilah karakter seorang tokoh diuji melalui penderitaan dan kesulitan.

Bagi Imam Khamenei, fase ini terjadi melalui penangkapan, penyiksaan, dan pengasingan yang ia alami selama masa pemerintahan Shah. Ia ditahan beberapa kali dan menghabiskan periode hidupnya dalam pengawasan ketat pemerintah.

Pengalaman ini memperkuat identitasnya sebagai aktivis revolusioner. Dalam banyak narasi revolusi, pengalaman penderitaan sering menjadi sumber legitimasi moral bagi seorang tokoh.

Menembus Ambang: Revolusi 1979

Tahap penting dalam Hero’s Journey adalah crossing the threshold, ketika tokoh memasuki dunia baru yang mengubah hidupnya secara drastis.

Peristiwa ini terjadi ketika Revolusi Iran tahun 1979 menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam Iran. Setelah revolusi, Imam Khamenei segera masuk ke lingkaran kekuasaan baru. Ia menjadi anggota Dewan Revolusi dan kemudian menjabat berbagai posisi penting dalam negara yang baru lahir.

Dunia baru ini adalah dunia politik revolusioner, yang penuh dengan konflik internal, perang regional, dan perebutan legitimasi.

Krisis dan Kematian Simbolik

Dalam Hero’s Journey, setiap pahlawan menghadapi ordeal—krisis besar yang hampir menghancurkan dirinya.

Bagi Imam Khamenei, krisis ini terjadi pada 1981 ketika ia menjadi target percobaan pembunuhan. Sebuah bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak saat ia berpidato di sebuah masjid, menyebabkan tangan kanannya lumpuh permanen.

Dalam narasi revolusioner Iran, peristiwa ini sering dianggap sebagai “luka revolusi”—sebuah tanda pengorbanan bagi perjuangan. Dalam kerangka Campbell, pengalaman seperti ini berfungsi sebagai kematian simbolik, yang mengubah tokoh menjadi figur yang lebih besar dari kehidupan biasa.

Hadiah dan Kenaikan

Setelah melewati krisis, Hero’s Journey biasanya membawa tokoh pada tahap reward atau pencapaian.

Dalam perjalanan Imam Khamenei, tahap ini terlihat ketika ia terpilih sebagai Presiden Iran pada 1981 dan menjabat dua periode hingga 1989.

Namun, titik balik terbesar terjadi setelah wafatnya Imam Khomeini pada 1989. Majelis ulama Iran memilih Imam Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) negara tersebut. Dalam posisi ini, ia menjadi otoritas tertinggi dalam politik, militer, dan arah ideologis Republik Islam.

Dengan demikian, perjalanan seorang ulama muda dari Mashhad mencapai puncak kekuasaan negara.

Kembali dengan “Elixir

Dalam Hero’s Journey klasik, pahlawan kembali ke masyarakat dengan membawa “elixir”—sesuatu yang dianggap menyelamatkan atau memberi arah bagi komunitasnya.

Dalam kasus Imam Khamenei, “elixir” itu adalah visi ideologis tentang keberlanjutan Republik Islam dan konsep velayat-e faqih, yaitu kepemimpinan politik oleh ulama. Selama lebih dari tiga dekade, ia membentuk arah politik Iran, memperkuat peran militer dan menjaga sistem revolusi yang lahir pada 1979.

Bagi para pendukungnya, ia dipandang sebagai penjaga revolusi dan kedaulatan Iran di tengah tekanan internasional. Bagi para pengkritiknya, kepemimpinannya dianggap terlalu keras dan mengekang kebebasan politik. Perbedaan penilaian ini menunjukkan bagaimana figur historis sering memiliki makna yang kompleks dalam memori kolektif.

Pahlawan, Pemimpin, atau Figur Sejarah

Kerangka Hero’s Journey dapat dijadikan lapik, buat mengeja perjalanan Imam Khamenei, serupa narasi transformasi: dari pelajar agama, menjadi aktivis revolusi, lalu pemimpin negara.

Namun, seperti banyak tokoh sejarah lainnya, perjalanan ini tidak bisa direduksi hanya sebagai kisah heroik atau tragedi semata. Ia merupakan bagian dari dinamika sejarah Iran modern—sebuah kisah tentang revolusi, kekuasaan, ideologi, dan perubahan sosial.

Dalam perspektif Campbell, perjalanan seorang tokoh besar sering mencerminkan perjalanan kolektif masyarakatnya. Dengan cara itu, kisah hidup Imam Khamenei tidak hanya berbicara tentang dirinya sendiri, tetapi juga tentang perjalanan panjang Republik Islam Iran dalam menghadapi dunia modern.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *