“Pada setiap urita kewafatan, sekadar menegaskan, insan bersafari dari-Nya menuju pada-Nya.” (Tajali Daeng Litere, 19092024)
Tutur Daeng Litere terdengar lirih, tetapi mengandung simpai kesadaran mendalam. Ia memandang kewafatan bukan semata akhir biologis, melainkan penegasan tentang arah keberadaan manusia. Kematian tidak ditempatkan sebagai keterputusan, hanya menyigi kelanjutan safari—perjalanan panjang sejak mula, telah bergerak dari asal menuju asal.
Kata urita memberi nuansa khas dalam tutur itu. Ia bukan sekadar kabar, melainkan berita pembawa gema batin. Setiap urita kewafatan selalu menghadirkan jeda. Kesibukan mendadak merenggang, percakapan melambat, dan kesadaran disentakkan pada sesuatu yang selama ini kerap disisihkan: kefanaan diri.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mudah terhanyut oleh ilusi keberlangsungan. Hari-hari dipenuhi rencana, ambisi, penumpukan, dan berbagai kesibukan, seolah akan terus berlangsung. Waktu berjalan seperti hamparan panjang nirbatas. Namun, urita kewafatan datang memotong alur itu. Ia mengingatkan, hidup bukan kepemilikan tetap, sekadar persinggahan.
Daeng Litere menabalkan hidup sebagai safari. Pilihan diksi ini penting. Safari bukan sekadar perjalanan berpindah tempat, tetapi pengembaraan yang mengandung pencarian. Mewujud jarak tempuhan, mengada pengalaman merawi, menyata perjumpaan pembentuk kesadaran. Dalam safari, manusia bukan penguasa jalan, hanya pejalan.
Dus, hidup tidak lagi dipahami sebagai keadaan menetap. Manusia hadir selaku musafir eksistensial—singgah sejenak, lalu melanjutkan perjalanan. Rumah, jabatan, harta, bahkan tubuh, hanya lapik sementara. Sekotah yang tampak kukuh, perlahan bergerak menuju perubahan.
“Dari-Nya menuju pada-Nya” menghadirkan lingkar makna utuh. Kehidupan bermula dari sumber yang sama dan kembali ke sumber itu pula. Dalam simpai ini, keberadaan manusia tampak nisbi. Tiada benar-benar dimiliki, sebab seluruh perjalanan berlangsung dalam keluasan, melampaui manusia sendiri.
Urita kewafatan lalu menjadi penanda tentang keterbatasan. Ia meruntuhkan kesan, manusia dapat sepenuhnya mengendalikan hidup. Kematian datang tanpa selalu menunggu kesiapan, tanpa memedulikan penjadwalan duniawi. Pucuknya, manusia diajak melihat ulang ukuran-ukuran yang selama ini diagungkan.
Namun, ujar tersebut tidak bergerak dalam kemuraman. Ia tak menghadirkan kematian sebagai ancaman, hanya sebentuk penegasan arah pulang. Safari menuju pada-Nya, memberi kesan, hidup memiliki orientasi, melampaui dunia lahiriah. Ada gerak batin yang terus berlangsung, bahkan ketika tubuh menua dan melemah.
Dalam banyak kebudayaan, perjalanan pulang selalu disertai perenungan. Musafir yang terlalu sibuk mengumpulkan beban, akan kesulitan berjalan jauh. Demikian pula manusia. Kelekatan berlebihan pada dunia, sering membuat langkah batin menjadi berat. Urita kewafatan hadir seperti penanda, agar manusia menakar ulang, apa yang sungguh perlu dibawa.
Di sinilah kewafatan dapat dibaca sebagai ayat kehidupan. Ia bukan sekadar kehilangan seseorang, tetapi pengingat kolektif tentang kesamaan nasib. Setiap nama yang wafat, perlahan memperlihatkan, hidup bergerak dalam giliran. Hari ini orang lain, kelak diri sendiri.
Kesadaran semacam ini dapat melahirkan kelapangan. Pertengkaran kecil menjadi tampak remeh, kesombongan kehilangan pijakan, dan kerakusan terlihat rapuh. Manusia mulai memahami, banyak hal diperebutkan, ternyata tidak benar-benar elok dipertahankan.
Safari hidup juga menyingkap makna tentang waktu. Waktu bukan semata jumlah hari, melainkan kesempatan merawi kesadaran. Ada orang hidup panjang, tanpa pernah benar-benar hadir. Muncul pula yang singkat, tetapi meninggalkan kejernihan. Dalam perjalanan itu, yang menentukan bukan hanya lamanya melangkah, melainkan bagaimana langkah dijalani.
Ujar Daeng Litere itu menyiratkan, kewafatan tidak memutus relasi makna. Seseorang mungkin meninggalkan tubuhnya, tetapi jejak laku, kebaikan, dan pengaruh batinnya tetap berkelintangan dalam kehidupan orang lain. Puncaknya, hidup memperoleh gema melampaui usia biologis.
Ada kelembutan dalam cara Daeng Litere memandang maut. Ia tidak mengeraskan suasana dengan ancaman, tiada pula menakut-nakuti lewat hukuman. Ia hanya mengingatkan, perjalanan memiliki arah pulang. Kesadaran semacam ini justru membuat hidup lebih jernih. Sebab ketika manusia sadar akan sari dirinya selakon musafir, ia akan lebih berhati-hati kala melangkah.
Tatkala kehayatan gemar memuliakan kepemilikan, ungkapan Daeng Litere menghadirkan keseimbangan. Bahwa manusia tidak sedang menetap selamanya. Segala yang dikumpulkan akan ditinggalkan. Bakal tersisa hanyalah laku, jejak, dan kejernihan batin yang sempat ditumbuhkan sepanjang perjalanan.
Urita kewafatan juga memperlihatkan kesetaraan yang sunyi. Di selasar maut, status sosial merenggang. Gelar, kuasa, dan kemegahan perlahan luruh. Semua insan kembali sebagai pejalan, agar menyelesaikan safarinya masing-masing.
Kalakian, setiap kabar kewafatan, sesarinya bukan hanya berita tentang seseorang telah pergi. Ia serupa cermin bagi yang masih berjalan. Bahwa hidup terus bergerak, menuju simpul akhir yang sama. Bahwa manusia sekadar singgah, lalu kembali.
Waba’du, dalam kesadaran itulah, safari hidup memperoleh maknanya: bukan sekadar menjauh dari asal, melainkan perlahan menyadari jalan pulang menuju pada-Nya—tenang, jernih, dan selesa.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply