Ayat yang Tertawa

“Menertawai diri sendiri serupa ayat, guna mengukuhkan kelantipan laku bijaksana.”
(Tajali Daeng Litere, 15022025)

Ujar Daeng Litere itu menyiratkan satu hal sederhana, bahkan kerap luput: ada ayat yang tidak dibaca dengan mata, melainkan dirasakan dalam batin—ayat yang tertawa. Ia hadir bukan sebentuk gelegar bunyi, melainkan serupa tawa halus, kala seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri.

Dalam keseharian, manusia lebih mudah menertawakan lian. Kekeliruan orang lain menjadi bahan canda, kelemahannya menjadi objek ringan. Tawa semacam itu sering menghadirkan jarak: antara yang merasa benar dan yang dianggap keliru. Dari situ, ego menemukan ruang untuk menguat, seraya menempatkan diri lebih tinggi.

Namun, ujar Daeng Litere membalik arah tawa itu. Ia mengajak menertawai diri sendiri. Di sini, tawa kehilangan sifat merendahkan. Ia menjadi cermin. Ketika seseorang mampu menertawai dirinya, ia sedang melihat dirinya tanpa selubung. Ia mengakui kekeliruan tanpa perlu menutupinya, menerima keterbatasan tiada penting menyangkal.

Tawa semacam ini bukan tanda kelemahan. Ia justru menandakan kelantipan batin. Ada kejernihan yang membuat seseorang tidak terikat pada kelakuan citra diri. Ia tak perlu selalu tampak benar, tiada mesti selalu tampak utuh. Ia memberi ruang bagi dirinya untuk menjadi manusia—dengan segala kurang dan lebihnya.

Dalam ujar tersebut, menertawai diri disebut sebagai “ayat”. Artinya, ia bukan sekadar tindakan spontan, melainkan tanda—penunjuk jalan bagi kesadaran. Seperti ayat yang mengarahkan pembacanya pada makna lebih dalam, tawa kepada diri sendiri menunjukkan manusia pada pemahaman tentang dirinya.

Ketika seseorang mampu melihat kekeliruannya dengan ringan, tanpa kemarahan atau penyangkalan, di sanalah kebijaksanaan mulai bertunas. Ia tidak lagi terjebak dalam pembelaan diri yang berlarut. Ia dapat mengakui, lalu memperbaiki, tanpa harus menanggung beban berlebihan.

Dalam banyak situasi, konflik membesar karena ketidakmampuan melihat diri sendiri. Setiap pihak merasa benar, setiap pihak menutup celah untuk mengakui kekeliruan. Kondisi semacam itu, tawa kepada diri sendiri menjadi langka. Padahal, justru di situlah jalan keluar sering tersembunyi.

Menertawai diri sendiri membuka ruang jeda. Ia meredam ketegangan, melonggarkan ego, dan menghadirkan perspektif  lebih luas. Sesuatu yang semula tampak berat dapat dilihat dengan lebih ringan. Dari situ, keputusan menjadi lebih jernih, sikap berpucuk lebih arif.

Kelantipan, dalam ujar Daeng Litere, tidak lahir dari pengetahuan semata. Ia tumbuh dari kemampuan mengelola diri. Orang lantip bukan hanya cerdas berpikir, tetapi juga sanggup melihat dirinya dengan jujur. Tawa menjadi salah satu jalan buat mencapai kejujuran itu.

Ada nuansa sunyi dalam laku ini. Ia tidak perlu dipertontonkan. Tertawa kepada diri sendiri sering terjadi dalam batin—dalam kesadaran yang tiba-tiba melihat kekeliruan sendiri dengan terang. Pada momen itu, ada kelegaan. Beban ego mencair, digantikan oleh penerimaan.

Tawa semacam ini juga menjaga manusia dari kesombongan. Ketika seseorang mampu menertawai dirinya, ia tidak mudah terjebak dalam perasaan paling benar. Ia tahu bahwa dirinya pun rentan keliru. Kesadaran ini menjaga langkah tetap rendah hati.

Dalam kehidupan bersama, sikap ini memberi dampak luas. Orang yang mampu menertawai dirinya cenderung lebih terbuka, mudah berdialog, dan lentur dalam menghadapi perbedaan. Ia tidak cepat tersinggung, tak lekas mengeras. Ia membawa kelapangan ke dalam relasi.

Sebaliknya, ketiadaan kemampuan ini sering melahirkan kekakuan. Segala sesuatu dipandang serius secara berlebihan, setiap kritik dianggap ancaman. Dalam keadaan demikian, ruang dialog menyempit. Tawa yang seharusnya menjadi pelepas justru menghilang.

Ujar Daeng Litere tersebut, dengan demikian, mengajak pada laku sederhana yang sarat makna. Menertawai diri sendiri bukan sekadar sikap santai, melainkan latihan batin. Ia melatih kejujuran, kerendahan hati, dan kejernihan.

Seiring waktu, laku ini merunrun menjadi kebiasaan. Seseorang menjadi lebih mudah mengenali dirinya, cepat menyadari kekeliruan, dan ringan dalam memperbaiki. Dari situ, kebijaksanaan tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh, melainkan tumbuh dari keseharian.

Dus, tawa kepada diri sendiri menjadi bentuk kedewasaan. Ia menunjukkan bahwa seseorang telah berdamai dengan dirinya. Ia tidak lagi terungku oleh keharusan untuk selalu benar. Ia cukup hadir, belajar, dan terus bertumbuh.

Maka ujar ini bekerja sebagai penuntun halus. Ia mengingatkan bahwa jalan menuju kebijaksanaan tidak selalu melalui keseriusan yang tegang. Ada jalan lain—lebih ringan dan jernih—melalui tawa yang diarahkan ke dalam.

Dalam tawa itu, manusia menemukan dirinya. Bukan sebagai sosok sempurna, melainkan sebagai makhluk yang terus belajar. Justru dari kesadaran itulah, kelantipan laku bijaksana perlahan mengukuh—tenang, selesa, dan berdaya.

Kalakian, cermin kaca menjadi tak lagi perlu untuk menilik cela di luar diri. Sebab, cermin sejati telah bersemayam di dalam diri. Dari lapik inilah, sari diri menguar apa adanya—melalui kejernihan tawa.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *