“Bila saja memfatwakan sesat kepadaku, itu merupakan tiketmu untuk masuk surga, silakan saja. Berarti aku telah membantumu masuk surga.” (Tajali Daeng Litere, 27062025)
Ujar Daeng Litere itu terdengar seperti kelakar, waima menyimpan simpai permenungan yang dalam. Ia hadir tanpa nada perlawanan dan dorongan membela diri. Sebaliknya, ia memancarkan kelapangan—kejernihan batin yang tidak mudah terseret oleh penilaian orang lain.
Dalam kehidupan sosial keagamaan, memfatwakan sesat dan menyesatkan, kerap lahir dari keyakinan diri yang kukuh. Seseorang merasa berada di jalan lurus, lalu memandang lian sebagai penyimpangan. Dari lapik ini, label dilekatkan: sesat, menyimpang, keliru. Kata-kata itu terdengar tegas, sekaligus mengandung dorongan halus untuk menegaskan posisi diri sebagai yang benar.
Ujar Daeng Litere memilih jalur lain. Ia tidak masuk dalam gelanggang perebutan benar dan salah. Ia membalik arah, menerima tudingan sebagai sesuatu yang bahkan dapat menguntungkan penuduhnya. Di situ, ironi bekerja dengan tenang, tanpa riuh.
“Tiket surga” menjelma metafora yang menggugah. Dalam banyak keyakinan, surga dipahami sebagai ganjaran atas kebaikan dan kebenaran. Namun, dalam laku sehari-hari, sering muncul bayangan bahwa jalan ke sana dapat dipastikan dengan menilai orang lain. Memfatwakan sesat lalu terasa seperti penegasan posisi aman bagi diri sendiri.
Ujar ini menyentil kecenderungan tersebut. Jika memfatwakan sesat memberi rasa dekat pada surga, maka biarlah itu berlangsung. Bahkan, secara ironis, orang yang difatwa sesat dianggap turut membuka jalan bagi penuduhnya. Di sini tampak kelapangan yang jarang ditemui—tenang, tanpa beban untuk membalas.
Sikap semacam ini lahir dari kedewasaan batin. Ada tudingan yang cukup dilepas, tampak penilaian yang selesa tanpa diluruskan. Energi batin tidak dihabiskan untuk mempertahankan citra, melainkan dirawat agar tetap jernih. Bukan sebab lemah, tetapi karena tidak terikat pada kebutuhan agar selalu dibenarkan.
Dalam ruang batin yang lapang, identitas tidak mudah goyah oleh label. Disebut benar tidak membuatnya membumbung, didapuk sesat pun tidak meruntuhkan. Ia berdiri pada kesadaran diri, bukan pada penilaian luar. Dari sana, reaksi berlebihan meredup dengan sendirinya.
Ujar itu juga memantulkan cara beragama yang lebih jernih. Ketika iman direduksi menjadi daftar benar dan salah yang diarahkan ke luar, ruang kebijaksanaan menyempit. Agama berubah menjadi arena penilaian, bukan jalan pematangan diri. Dalam keadaan demikian, fatwa mudah menjelma alat keluar, alih-alih cermin ke dalam.
Dengan menerima tudingan sebagai bagian dari perjalanan orang lain, fokus pun bergeser. Perhatian kembali ke dalam diri, ke cara merespons, ke kejernihan yang dijaga. Di sinilah kebebasan bersemi: batin tidak lagi terperangkap dalam permainan penilaian.
Ada nuansa sunyi dalam sikap ini. Ia berjalan tenang, tanpa kebutuhan untuk ditampilkan. Ia merawat martabat dalam diam, membiarkan orang lain dengan keyakinannya masing-masing. Dalam sunyi itu, keteguhan justru terasa lebih utuh.
Sikap ini bukan relativisme tanpa arah. Ia berakar pada keyakinan yang matang—keyakinan yang tidak rapuh oleh perbedaan. Keteguhan semacam ini tidak memerlukan pembuktian lewat menjatuhkan yang lain. Ia cukup berdiri, selesa dalam dirinya.
“Tiket surga” pada akhirnya menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana manusia, sering membayangkan keselamatan, sebagai sesuatu yang dapat diklaim melalui penilaian sepihak. Padahal, jalan menuju keselamatan jauh lebih halus—ia tumbuh dalam laku, kejernihan, dan kelapangan.
Dalam kehidupan bersama, ujar ini membuka kemungkinan relasi yang lebih jernih. Perbedaan pandangan hadir tanpa harus berujung pada penghakiman. Keyakinan berkembang tidak mesti melahirkan permusuhan. Ada ruang bagi keberagaman buat hidup berdampingan.
Kelapangan semacam ini tidak datang seketika. Ia merunrun dalam pengalaman, perjumpaan, dan kesediaan buat merenggang dari ego. Dari situ, manusia belajar bahwa tidak semua hal perlu diperebutkan, tak mesti penilaian harus ditanggapi.
Pucuknya, ujar Daeng Litere ini berkelindan serupa penuntun halus. Ia tidak mengarahkan dengan keras, melainkan membuka jalan sunyi bagi cara pandang lain. Cara yang tidak mengeraskan, tetapi melapangkan.
Sebab, perkara benar dan salah sering kali bukan satu-satunya yang perlu dijaga. Paling mendasar adalah kejernihan hati di tengah perbedaan. Kapasitas agar tetap utuh, tanpa harus merendahkan yang lain.
Dalam kelapangan itu, tudingan pun berubah rupa. Ia menjadi cermin, mengada jeda, mewujud kesempatan untuk menimbang diri. Ia tidak lagi sekadar serangan, melainkan bagian dari perjalanan memahami batas diri.
Dan, ketika kelapangan benar-benar bersemayam, manusia tidak lagi sibuk mencari pembenaran. Ia telah berada dalam ruang yang cukup: tenang, jernih, dan selesa.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply