“Bagi jiwa yang lapang, tak butuh lebaran. Sebab, setiap hari berlebaran.” (Tajali Daeng Litere, 01042025)
Ujar Daeng Litere tampak simpel, tetapi menyimpan kedalaman yang pelan merawi. Ia tidak menolak lebaran sebagai peristiwa, tiada pula meremehkan tradisi. Namun, ia menggeser pusat makna: dari hari menuju batin, berlapik momentum merunrun keadaan.
Lebaran, dalam pengertian umum, sebentuk penanda waktu. Ia datang setahun sekali, dirayakan bersama, disemarakkan dengan perjumpaan, maaf, dan kegembiraan. Orang menunggu, menyiapkan diri, lalu merayakannya sebagai puncak dari laku panjang. Namun, dalam ujar tersebut, lebaran tidak lagi terikat pada tanggal. Ia dilepaskan dari kalender, lalu ditempatkan dalam ruang batin.
“Jiwa yang lapang” adalah koentji. Lapang bukan sekadar tenang. Ia sewajah situasi, kala batin bebas sesak beban. Dendam tidak mengendap, iri tak bercokol, hasrat tiada menguasai. Dalam kelapangan itu, insan tidak lagi terterungku dirinya sendiri. Ia menjadi ringan—mampu menerima, sanggup melepas, pun bisa memahami tanpa tergesa menghakimi.
Ketika jiwa mencapai kelapangan semacam itu, lebaran tidak lagi perlu ditunggu. Ia hadir sebagai keadaan yang terus menyala. Setiap hari menjadi ruang pulang, perjumpaan menjadi kesempatan memaafkan, jeda mewujud ruang membersihkan diri. Lebaran tidak lagi sesaat, melainkan berlangsung.
Dus, lebaran bergeser dari seremoni menjadi kesadaran. Ia bukan lagi perayaan yang bergantung keramaian, melainkan pada kejernihan. Dalam banyak hal, insan merayakan tanpa sungguh-sungguh berlebaran. Tangan saling bersalaman, kata maaf diucapkan, walau batin tetap menyimpan sisa. Lebaran hadir di luar, tetapi belum menyata di dalam.
Ujar Daeng Litere membongkar paradoks tersebut. Ia mengalamatkan, lebaran sejati tidak terletak pada peristiwa, melainkan pada transformasi batin. Tanpa kelapangan, lebaran hanya menjadi rutinitas. Dengan kelapangan, lebaran menjelma laku hidup.
Puasa, dalam hal ini, menjadi jalan menuju kelapangan itu. Ia bukan tujuan akhir, melainkan proses merapikan batin. Menahan lapar dan dahaga hanyalah lapisan awal. Yang lebih dalam adalah menahan amarah, meredam ego, dan membersihkan niat. Ketika puasa dijalani sebagai laku menyeluruh, ia membuka ruang dalam diri—ruang yang sebelumnya tertutup oleh kebiasaan.
Dari ruang itulah kelapangan tumbuh. Ia tidak datang tiba-tiba, melainkan merunrun dalam kesadaran. Sedikit demi sedikit, beban dilepas, penilaian dilonggarkan, kelekatan dikendurkan. Dalam proses itu, insan mulai merasakan kebebasan yang sunyi, serupa kebebasan dari dirinya sendiri.
Lebaran kemudian tidak lagi menjadi garis akhir. Ia menjadi tanda perjalanan batin, telah mencapai suatu kejernihan. Namun, bagi jiwa yang lapang, tanda itu tidak berhenti pada satu hari. Ia meluas, menjalar, dan menetap. Lebaran tidak selesai; ia berlanjut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kelapangan ini tampak dalam sikap sederhana. Memaafkan tanpa diminta. Memberi tanpa dihitung. Mendengar tanpa tergesa menilai. Tidak mudah tersinggung, tak lekas marah. Sekotahnya bukan hasil paksaan, melainkan buah dari batin yang telah lapang.
Di tengah dunia yang mudah tersulut, kelapangan menjadi langka. Orang cepat bereaksi, mudah menghakimi, dan lekas tersinggung. Ruang batin menyempit oleh informasi, opini, plus ambisi. Dalam kondisi semacam itu, lebaran menjadi penting—selaku pengingat buat kembali melapangkan diri.
Namun, ujar itu melangkah lebih jauh. Ia tidak berhenti pada pengingat tahunan. Ia mengajak menjadikan kelapangan sebagai keadaan yang terus dirawat. Lebaran tak lagi sekadar momen memperbaiki, tetapi laku menjaga.
Ada nuansa sunyi dalam minda ini. Ia tiada riuh, tak demonstratif. Jiwa yang lapang tidak merasa perlu menunjukkan dirinya. Ia bekerja diam-diam, dalam cara bersikap dan merespons. Lebaran yang menyala di dalam tidak membutuhkan pengakuan. Ia cukup hadir.
Dalam lanskap semacam ini, hubungan antar manusia menjadi lebih jernih. Tidak ada beban masa lalu yang terlalu berat untuk dilepas. Tiada luka yang terus dipelihara. Relasi tak lagi ditentukan oleh perhitungan sempit, melainkan oleh keluasan pandang.
Lebaran yang demikian bukan berarti tanpa konflik. Perbedaan tetap ada, gesekan masih mungkin. Namun, kelapangan membuat semua itu tidak berujung pada keterikatan. Ia hadir, lalu dilepas. Ia dihadapi, berikutnya dilampaui.
Ujar Daeng Litere tersebut, dengan demikian, bukan sekadar refleksi tentang hari raya. Ia separas ajakan menata ulang cara memahami kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari peristiwa besar, melainkan dari batin yang tidak lagi sempit. Dari jiwa yang tiada lagi terkurung.
Sebab, kala batin telah lapang, hidup tidak lagi menunggu momen guna dirayakan. Ia menjadi perayaan itu sendiri. Setiap hari memiliki rasa cukup. Acap waktu memiliki ruang syukur. Dan setiap perjumpaan memiliki kemungkinan untuk menjadi lebaran.
Di selasar batin, insan tiada lagi sibuk mencari hari baik. Ia menjadikan hari sebagai baik. Tak pula menunggu waktu buat pulang, sebab ia sudah tinggal dalam kepulangan itu sendiri.
Kalakian, lebaran pun tak lagi sesaat. Ia menjelma keadaan—tenang, jernih, dan selesa—yang terus menyala dalam diri.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply