“Puasa mengada: memoderasi lapar dan kenyang.” (Tajali Daeng Litere, 27022026)
Dahulu kala, manusia akrab dengan kelaparan. Paceklik datang tanpa aba-aba. Gagal panen menjelma nestapa panjang. Perut kosong bukan pilihan spiritual, melainkan nasib yang memaksa. Kelaparan serupa bencana kolektif—tubuh-tubuh meranggas, daya hidup menyusut, dan harapan menipis. Lapar menjadi ancaman nyata atas keberlangsungan hidup dan kehidupan.
Kiwari, wajah ancaman itu berubah rupa. Rak-rak pasar penuh. Iklan berpendar tanpa jeda. Pangan melimpah, distribusi meluas, pilihan tak terbatas. Makan tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan gaya hidup dan identitas. Tubuh manusia modern jarang kekurangan asupan; justru ia dibanjiri tawaran.
Namun, dari kelimpahan itu lahir jenis bencana lain: kekenyangan. Penyakit metabolik merambah, jantung melemah, gula darah melonjak, dan tubuh menjadi ladang yang dipaksa menerima lebih dari yang mampu ia olah. Jika dahulu kelaparan menggerus daya hidup, kini kekenyangan merenggutnya perlahan.
Makan berlangsung tiada jeda. Konsumsi bergerak tanpa ukur. Lidah dimanjakan, perut dipenuhi, tetapi batin tetap terasa kurang. Ada dorongan yang terus meminta tambah—lebih gurih, lebih manis, lebih cepat. Konsumerisme bukan sekadar sistem ekonomi; ia menjelma kebiasaan batin. Tubuh menjadi etalase hasrat yang tak selesai.
Bencana kekenyangan bukan hanya soal medis. Ia juga ekologis. Produksi pangan besar-besaran menguras tanah, air, dan hutan. Limbah makanan menggunung, sementara sebagian bumi masih menyisakan kantong-kantong kelaparan. Dunia terbelah oleh paradoks: sebagian tubuh terlalu penuh, lainnya amat kosong. Keberlimpahan dan kekurangan hidup berdampingan tanpa saling menyapa.
Di antara dua ekstrem itulah puasa mengada. Ia tidak memuliakan lapar sebagai penderitaan, pun tak merayakan kenyang selaku kemenangan. Puasa berdiri sebagai jeda—ruang sunyi di tengah arus tanpa henti. Ia menahan bukan untuk menyiksa, tetapi buat mengembalikan ukuran. Dalam lapar yang disadari, manusia belajar bahwa tubuh memiliki batas. Dalam kenyang yang ditunda, manusia belajar bahwa hasrat dapat diarahkan.
Puasa merupakan seni moderasi. Ia mengajarkan, hidup bukan soal sebanyak apa yang masuk ke tubuh, tetapi seberapa arif tubuh dikelola. Di dalamnya ada tarak—laku menahan agar bening muncul. Ketika makan dihentikan untuk sementara, kesadaran diberi ruang guna bernapas. Tubuh yang biasa menerima tanpa tanya, kini dipaksa mendengar detaknya sendiri.
Kelaparan sebagai bencana masa lalu mengingatkan rapuhnya manusia. Kekenyangan sebagai ancaman masa kini mengingatkan lalainya manusia. Puasa merentas di antara keduanya sebagai jembatan kesadaran. Ia tidak meniadakan makan, juga tiada mengagungkan kekurangan. Ia menempatkan keduanya dalam takaran yang nisbi dan selesa.
Dalam puasa, lapar tidak lagi sekadar gejala biologis. Ia menjadi guru yang pelan merawi tentang batas. Perut kosong membuka ruang empati—pada mereka yang tak pernah memilih untuk lapar. Kesadaran sosial lahir dari pengalaman rasa, bukan sekadar wacana. Darinya tumbuh kepekaan, keberlimpahan pribadi tidak boleh menutup mata terhadap kekurangan orang lain.
Di sisi lain, puasa menantang budaya tanpa jeda. Dunia modern mengajarkan akumulasi: tambah produksi, tambah konsumsi, tambah kepemilikan. Pertumbuhan dianggap hukum yang tak boleh berhenti. Namun puasa justru mengurangi. Ia mengingatkan bahwa tak semua yang bisa dikonsumsi perlu dikonsumsi. Tak semua yang tersedia harus dimiliki. Dalam pengurangan itulah manusia menemukan kelapangan.
Kekenyangan sering tampil sebagai simbol keberhasilan. Meja penuh hidangan dianggap pertanda kemakmuran. Tubuh gemuk dipersepsikan sebagai tanda cukup. Namun tubuh memiliki hukum yang tak bisa ditawar. Melampaui batas berarti mengundang rapuh. Seperti perahu tenggelam oleh muatan berlebih, manusia pun mudah karam oleh konsumsi tak tertakar. Dalam sunyi puasa, hukum itu kembali dibaca.
Puasa mengembalikan manusia pada ritme alamiah. Lapar dan kenyang berputar dalam siklus, bukan dalam ledakan. Ia menata ulang relasi dengan makan: dari dorongan instan menjadi kesadaran perlahan. Dalam ritme itu, tubuh diringankan, pikiran dijernihkan, dan batin dilembutkan.
Moderasi yang diajarkan puasa tidak berhenti pada pangan. Ia merembes ke cara berbicara, cara bekerja, cara menginginkan. Menahan makan hanyalah pintu masuk. Lebih dari itu, menahan berlebihan dalam segala hal: emosi, ambisi, bahkan opini. Puasa menjadi latihan menyeluruh untuk tidak terlampau—tidak terlampau marah, rakus, dan merasa benar.
Di pusar sejarah yang pernah dilanda kelaparan dan zaman yang kini terancam kekenyangan, puasa berdiri sebagai laku penyeimbang. Ia mengingatkan, hidup memerlukan batas, cukup dalam kebijaksanaan, dan jeda sebentuk anugerah yang sering diabaikan.
Puasa bukan nostalgia atas derita masa lalu, juga bukan penolakan atas kemajuan masa kini. Ia adalah cara merawat kemanusiaan, agar tidak terjebak pada dua jurang: kekurangan yang mematikan dan keberlimpahan yang melumpuhkan. Dalam kesadaran itulah puasa mengada—sebagai penakar antara lapar dan kenyang, antara kebutuhan dan hasrat, antara memiliki dan melepas.
Pastinya, moderasi bukan sekadar konsep moral. Ia adalah strategi keberlangsungan. Tubuh yang ditakar akan bertahan lebih lama. Masyarakat yang menahan diri bakal lebih adil. Bumi yang tidak dipaksa memberi tanpa henti kelak lebih lestari. Puasa merawat ketiganya dalam satu tarikan napas kesadaran.
Dus, manusia belajar kembali menjadi ringan. Bukan karena tiada makanan, melainkan karena tahu batas atau sebab miskin pilihan, melainkan karena arif memilih. Puasa memoderasi bukan hanya perut, tetapi arah hidup—supaya keberlimpahan tidak berubah menjadi bencana, dan kekurangan tak menjelma keputusasaan.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply