Author: Sulhan Yusuf

  • Memimpin Nirjabatan

    Memimpin Nirjabatan

    “Menjadi pemimpin nirjabatan adalah suatu keniscayaan. Pasalnya, jabatan membatasi waktu dan wilayah kepemimpinan.” (Tajali Daeng Litere, 20042025) Satuan ujar Daeng Litere tersebut, menyingkap lapisan makna, kerap terlewatkan. Ia tidak menafikan jabatan, tiada pula menegasikan struktur. Perhatiannya diarahkan ke hakikat kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan tak sepenuhnya bertumpu di kursi, melainkan daya pengaruh, bekerja melampaui penetapan formal.…

  • Safar Hayat dari Selesai ke Selesai

    Safar Hayat dari Selesai ke Selesai

    “Sungguh, safar hayat hanyalah dari selesai ke selesai.”(Tajali Daeng Litere, 26072023) Deretan kata itu terkesan amat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman, pelan-pelan mengendap. Ia tidak membicarakan tujuan besar, juga tak mengagungkan capaian. Yang dihadirkan justru kata selesai, sebuah penanda, waima kerap diabaikan dalam kebudayaan serba mulai dan menuju. Di ucapan Daeng Litere, hidup didaras sebagai perjalanan…

  • Mengeja Ulang Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Mengeja Ulang Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Lantaran esai saya, “Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallua Dongkonga”, Paraminda.com, 11 Desember 2025, memoncerkan sejumlah esai, terbit belakangan—baik menyoal negara dan bangsa, bangsawan dan hierarki, maupun bangsa dalam uji sejarah—telah memperluas gelanggang pembacaan. Petta Tjalleng tidak selalu disebut, tetapi kegelisahan yang mengitari namanya terus berdenyut: bagaimana membaca figur berakar feodal di tengah kritik atas…

  • Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Menakar Kebangsawanan Petta Tjalleng Daeng Magguliling

    Percakapan ihwal Petta Tjalleng Daeng Maggulilling Karaeng Tallua Dongkonga, tidak pernah tuntas pada urusan silsilah. Setiap ikhtiar membacanya kerap berujung pada laku, jarak, dan pilihan etis di tengah pusaran kuasa. Tanggapan M. Yunasri Ridhoh melalui esai berjudul, “Bangsa dan Bangsawan”,Paraminda.com, 28 Desember 2025,  menghadirkan satu timbangan konseptual penting, terkait pembedaan tegas antara bangsa sebagai persekutuan…

  • Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona

    Melatai Negeri di antara Pesona dan Persona

    “Janganlah tebar pesona dalam memimpin negeri, bila personamu belum mampu menaklukkan semesta negeri.”(Tajali Daeng Litere, 18 Desember 2025) Sajian tutur Daeng Litere memuat peringatan lembut sekaligus tegas. Ia tidak menolak kepemimpinan, juga tidak mencurigai pesona. Perhatiannya tertuju pada urutan batin. Sebelum pesona ditebar ke hadapan khalayak, kerja sunyi mesti dituntaskan terlebih dahulu, yakni menaklukkan diri…

  • Pengabdian nan Mengabadi

    Pengabdian nan Mengabadi

    “Amat penting untuk mengintimi perbedaan antara mengabdi kepada negeri dengan mengabdi kepada pengurus negeri. Satu mengabadi dalam pengabdian, sedangkan lainnya sementara dalam kesementaraan.”(Tajali Daeng Litere, 17/12/2025) Ungkapan Daeng Litere menuntun pembacaan ulang atas kesetiaan. Ia tidak menolak pengabdian; ia memurnikannya. Persoalan terletak pada arah serta maksud, bukan semata laku melayani. Arah keliru membuat pengabdian tergelincir,…

  • Tiga “Malaikat” dan Urita dari Emirates

    Tiga “Malaikat” dan Urita dari Emirates

    Tiada maksud memanggil malaikat turun ke lapangan hijau, apalagi mengaitkan kemenangan dengan campur tangan langit. Sepak bola tetap urusan kaki dan napas panjang, serta kecermatan taktik via nalar berlaga. Dua pucuk waktu menghidu saya. Pertama, dini hari berselimut Subuh, hingga pertengkaran gelap dan terang. Kedua, hari terakhir, Rabu, 31 Desember 2025. Apa yang elok di…

  • Siapa Pewaris Petta Tjalleng Daeng Magguliling?

    Siapa Pewaris Petta Tjalleng Daeng Magguliling?

    Kadang, sejarah kerap menorehkan kisah, tentang mereka yang bertengger di pucuk kuasa. Ia jarang menyapa sosok yang memilih menepi, kala jalan menuju puncak terbuka. Padahal, keputusan menahan langkah, acap kali menentukan keberlangsungan sebuah tatanan. Pada wilayah sunyi semacam itulah, nama Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga menggapai maknanya. Esai saya di Paraminda.com, tentang “Petta…

  • Pelajar dan Literasi Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas 2045

    Pelajar dan Literasi Moderasi Beragama untuk Indonesia Emas 2045

    Koridor dan ruang kelas di tengah hiruk-pikuk sekolah. Sekotah pelajar berjalan tergesa-gesa. Ransel bertengger di punggung berisi buku pelajaran. Sebagian sibuk bercanda, ada pula yang menunduk memeriksa layar ponsel. Dari mereka, tampak isyarat kecil, masa depan bangsa sebenarnya sedang menghidu mereka. Penuh energi, tanya, dan kemungkinan. Namun, muncul hal lain, sering luput dari sorotan: bagaimana…

  • Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga

    Petta Tjalleng Daeng Magguliling Karaeng Tallu Dongkokanga

    Sekira 10 tahun belakangan ini, setiap bulan Desember, baik saat menjelang peringatan Hari Jadi Bantaeng, maupun sesudahnya, saya amat suka mengintimi perkara-perkara berdimensi Butta Toa sebagai julukan Kabupaten Bantaeng. Selain bersilaturrahmi dengan budayawan, tetua negeri, juga amat intens mengeja karya-karya literasi terkait masa silam Bantaeng. Bentangan masanya cukup panjang untuk dintimi, sejak zaman Orang Toala,…