Tubuh saya ambruk, di antara tegukan demi tegukan, dan saat  saya terpaksa  sejak kecil untuk menekuni sebuah doktrin antara agama. 

‎‎Sejak kecil, remaja sampai usia dalam kecanduan, sampai ada yang  masturbasi agama. Seketika mental saya tertempa, berusaha untuk terlepas dari  kegamangan itu,  saya dicekal dalam sebuah dogma pamali dan tabu.

‎‎Agar lebih merasakan mabuk berlebihan saya kembali disuguhkan dengan meneguk dua, hingga sampai beberapa gelas, langkah tertatih menuju arah kesadaran.  Rasanya melayang, bersama  beberapa pendebat serta pencacah yang sakau akan agama, sempoyongan mabuk  di simpang jalan dekat sebuah masjid. 

‎Kadang berperilaku berlebihan dalam setiap menikmati mabuk selama ini. Betapa benar-benar mabuk berat secara fanatik, mengklaim dan kedok agama,  serta mengatasnamakan Tuhan untuk menghakimi.

‎‎Sikap ini muncul akibat ketidaksadaran, merasa paling mengikuti dan patuh atas nama ajaran secara  mendalam, ditambah  konsumsi sehari-hari saya dilingkupi pemabuk yang sama, menerjemahkan, menerima  informasi berlebihan begitu saja. Begitu bergairahnya  dengan  ambisi pribadi.‎‎

Seketika Karib Mubarak mengingatkan, jangan gegabah memberi narasi, lagian diantara mereka masih belum menumbuhkan kesadaran, sensi, dan cenderung masih melihat secara subjektif.  Apakah ketika kau urai akan membuat mereka menerima? Bahkan  menjadi lebih gaduh!

‎‎Ini hanya narasi kegelisahan, sekadar hidangan narasi sederhana saja, dari apa yang bisa saya terjemahkan selama ini,  perilaku beragama berlebihan yang mengabaikan logika, akal sehat, dan kemanusiaan. Fenomena ini sering ditandai dengan fanatisme, sambil merasa orgasme dan penggunaan simbol agama secara berlebihan. Bukankah kita telah pernah mengalaminya dihardik, disuruh bertaubat?‎‎

Mubaraq hanya menggumam, sambil menguatkan saya agar tidak gegabah mengubah cara pandang sebagian orang dalam menyikapi suasana batiniah.

‎‎Butuh jeda untuk segera memulihkan mabuk yang masih tersisa semalam, setelah memintal doa di tengah malam sunyi.  Esok hari petantang petengteng menggemgam kitab, serta mengalungkan tasbih. Membuat surganya sendiri.  Kita sendiri adalah jahanamnya. 

‎‎Wangi kecubung agama itu semakin merasuki, kusambut semburat pagi. Dulu pernah  saya merasakan mabuk seakan masuk surga dan paling benar beragama. Sementara interaksi saya masih sering mencak-mencak menghardik orang-orang sekitar yang katanya jauh dari agama.

‎‎Padahal saya  sebatas mencari perhatian, serta identitas bahwa saya saleh, dan paling rajin beribadah, padahal saya ini bedebah juga! Hari ini peristiwa simbol agama yang kini semakin marak dipernak, bahkan diternak untuk menjadi tameng dalam kehidupan serta kemanusiaan yang kian terpuruk. 

‎‎Di suatu Jumat yang saya tunda untuk segera bergegas seperti orang lain  ke masjid, karena sesuatu dan lain hal. Pikiran dan kesadaran saya mulai muncul, saat sekian lama mabuk.  Saya healing ke sebuah laman dan menemukan kisah menarik, lucu dan menggelitik kita simak bersama saja dibawah ini:

‎‎Nama belakangnya Hoja dia menceritakan pengalamannya tentang sekitarnya orang  yang masih mabuk beragama.

‎‎Di kantor lamanya  tahun 2000-an dulu, ada salah satu karyawan laki-laki yang lumayan fanatik. Jenggotnya panjang berkibar, jidatnya ada tanda hitam dan celananya agak naik di atas. ‎‎

Sebenarnya dari segi ibadahnya yang bagus, gaya komunikasi, pekerjaan dan saat dia anteng, tidak ada masalah sama sekali, hanya kadang tingkah lakunya sedikit mengganggu dan agak unik.

‎‎Saat itu Hoja diminta untuk mengganti toner printer laser di meja dia yang kebetulan sudah habis. Dia buka box-nya, lalu dia buang kertas manualnya, tarik pengaman toner, pasang di printer. Beres.‎‎

Tapi disinilah masalah bermula. Kertas manual yang kebetulan terjatuh, dan nampak ada manual pemasangan yang berbahasa dan berhuruf Arab, terinjak oleh Hoja.

‎‎Langsung bapak jenggot itu khotbah panjang. Karena Hoja  dianggap tidak menghargai dan menista agama (Islam) dengan cara menginjak-injak  huruf Arab.

‎‎Dia ngegas balik. Ini kertas manual toner printer pak, bukan ayat kitab suci. Surat kabar bahasa Arab di Jeddah juga pada, tapi  akhirnya berakhir jadi bungkus sayuran, buat cebok onta atau diinjak-injak  dijadikan alas salat. Begitu dongkol sambil dan tegasnya si Hoja.

‎‎Beberapa hari kemudian, dia menemukan  lagi kertas manual bahasa Arab sejenis, dipotong persegi satu alinea, lalu dia  tempel di pinggiran kubikelnya. Yah katanya  hanya iseng saja. Maksudnya biar tidak ada yang jahil mengambil kertas dokumen sembarangan, karena dikira ada “mantra” nya sedikit. Sambil senyum tipis si Hoja.

‎‎Eh, tak dinyana, si jenggot lewat lagi dekat kubikelnya, sambil sumringah dia berkata. “Nah begitu dong, taubat. Kalau pasang ayat suci begini, kan keren bang”. Kata si jenggot yang memiliki tanda di jidatnya.

‎‎Hoja nyeletuk. Ayat suci apaan pak, itu kertas potongan manual printer kok, buat ngusir demit yang suka makan kertas kalkir. Tetiba sijenggot kesumat  dan marah. Mencopotnya lalu membuang ke tempat sampah. Itu syirik, ini tidak bener. Huruf arab kok buat mainan. Sambil berlalu. 

‎‎Hoja  mencoba menahannya. Eh pak,  itu huruf arab lho, kenapa dibuang ke sampah. Diambil lagi terus dibawa entah kemana.

‎‎Ada juga beberapa fanatik yang kaku bin ambigu diantara kita, mendukang  dalil, mengancam dengan begitu mencekam,  dan menggugurkan proses petualangan sekian lama mencari  sisi lain perumpamaan (metafora) dari Tuhan itu sendiri. Maka tertuduh beragam caacahan. Ah saya mulai menerima dan santai menanggapinya, sebab itu biasa dalam kehidupan dan berpendapat,  menjadi nilai. 

‎‎Ada pula.  menerjemahkan agama dengan mencoba membius dan mengutuk saya, saat baca mantra, doa membujuk dan merayu Tuhan, sampai memaksanya. Sebagian diantara mereka panik mengatasnamakan etika katanya! Bukankah Tuhan harus di rayu, dibujuk bahkan di paksa? Kata  menggoda Tuhan dalam dekapan kasih-Nya, diantara mereka risih dan tabu, padahal Tuhan Maha sastra.

‎‎Begitulah kira-kira, sebagai. mengumbar  atas nama agama, tetapi hambar dalam menerjemahkan dan menerapkan.  Setidaknya saya sepakat pada sebuah  Ilustrasi di laman  NU Online Jateng, sembari saya menyesuaikan akar atau landasan  berpikir saya tentang Mabuk agama adalah prilaku seseorang dalam mengamalkan ajaran agama secara belebihan sehingga mengabaikan ilmu dan akal sehat.

‎‎Begitu menghujam kalimat di laman tersebut “”ereka beragama tapi tak menyadari makna beragama”. Sebuah kutipan dia jadikan landasan katanya  KH Ahmad Mustofa Bisri sering dhawuh dalam berbagai kesempatan semangat beragama diimbangi dengan pemahaman beragama.

‎‎Tahapan selanjutnya diurai di mana orang menjadi gila yang pertama adalah diawali dengan nafsu/keinginan kemudian keinginan yang kuat berubah menjadi ambisi. Dari ambisi yang berlebihan menjadi mabuk dan mabuk yang tak terbendung menjadi gila. Misal gila agama, harta, tahta, cinta, dan sebagainya. Wow. Cukup menantang pernyataan ini menurut saya.

‎‎Jadi mabuk adalah fase sebelum gila. Salah satu tandanya dalam  kemanusiaan untuk melaksanakan ajaran agama tanpa mempertimbangkan dampak baik-buruk, benar-salah, bagus-tidak terhadap lingkungan sekitar.

‎‎Agama memang menjauhkan kita dari dosa, tapi berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama? Hem. Saya tercekat di sini dan mengikuti ritme serta mencoba memahami dalam kesadaran, sebab saya masih gelas kosong, maka butuh  sumber untuk mengkonfirmasi apa yang selama ini saya ketahui, serta saya coba memahami. ‎‎

Tetiba  perkataan Bung Karno di kutip di laman tersebut, seakan memantik  berkata seperti ini: Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini.

‎‎Pendapat itu bukan berarti bung Karno anti-agama tapi lebih kepada menghargai kearifan budaya lokal. Atau beberapa pembaca menjadi panas dingin, menghukum sebagian narasi ini, dan membuat penilaian secara subjektifitas.  Hem.

‎‎Ada begitu penuh gairah yang begitu semangat, tak mengedepankan ilmu dan akal sehat dalam menjalani hidup beragama. Ditambah dengan fanatik buta. Kritikus sastra asal Inggris Robert Graves fanatik terhadap agama adalah bentuk kegilaan yang membahayakan. Ingat kesempitan berpikir dlm beragama membawa dapat mengarahkan kepada kemudharatan. Gunakan akal sehat agar hidup lebih bermanfaat.

‎‎Pemabuk agam selanjutnya adalah dengan begitu aktif bahkan massif dalam sebuah gerakan, yaitu gerakan yang menuduh bahwa selain kelompoknya baik muslim atau non muslim dianggap kafir. Atau berbeda mahzab saja saling merasa benar, menggugurkan nilai ilmu, pengetahuan bahkan sesama kaum sendiri saling mencederai satu dengan lainnya.

‎‎Menjadi fhasion, dipaksakan dengan ini muncul di kalangan orang-orang mudah, dan butuh valifasi agamanya sudah matang, telah hijra serta begitu paling saleh saleha.

‎‎Peradaban ini sesungguhnya diriwind, butuh di refresh, dengan menginstal ulang, agar kita tidak mudah terpapar, yang bisa mengubah tatanan berpikir atau gaya hidup yang dianggap lebih agamais. Gerakan ini kian massif karena didukung oleh publik figur atau yang ikut-ikutan mabuk serta hijrah.‎

Mubarak mencoba memahami percakapan sore ini, dengan mengajak saya sebatang mari kita bakar dulu, biar lebih rileks pada perbincangan yang bisa membuat orang sekitar kita menjadikannua  fitnah di.ana  kita telah menyimpang atau sesat. ‎

Tawa kami pecah, sepecah awan yang bergumam hendak memuntahkan hujan, tetiba menjadi berserakan ke Utara dibawa angin senja. ‎


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *