Sebelum Keluar, Masuklah Dulu

‎‎Saat mencoba masuk, masih selalu ada keinginan keluar, padahal di luar berapa serangkai parsel-parsel. Saat keluar seakan  menyembuhkan  sebuah dahaga. Padahal jauh lebih ke dalam akan memberimu isyarat dari segala  syarat. 

Suasana menyembur di langit-langit. Pada syahwat yang  memuncah, di antara realitas dan imajinasi membawa saya berhalusinasi, dipenuhi rangkaian ekspestasi. Betapa saat sebelum keluar, masuk di dalam jauh memberimu sensasi.

“Masuklah!” tegas Vi. Hiasilah yang terlupakan saat itu, sampai pada titik selanjutnya lebih jauh ke dalam, biar tahu dan berani menguatkan hati, jiwa pikiran. Untuk titik-titik selanjutnya menjadi bagian proses sabana dirimu.

Deru kecamuk, memantik Danu,  melenting di alis indah Vi. Suasana mulai penuh perdebatan dengan beberapa anasir serta seribu pengetahuan. Tetapi semua semakin menuju jurang pemisah dalam sebuah hijab, karena lupa memasukkan, baru terasa nikmat katanya saat keluar. 

Diskusi mulai terbangun, arogansi direda, antara di luar dan di dalam, atau segera masuk lebih dalam, agar  sama-sama menikmati tidak saling mengkhianati, dan merasa paling benar tentunya. 

“Saya telah berusaha!” Sambar Danu, saya merasa paling tahu, padahal belum pernah jauh ke dalam, masih saja terseret jauh keluar, saat ke dalam kadang  menghukum diri sendiri.  Saya hanya jongos diri sendiri. Sampai saya merasakan kelelahan, lalu pasrah menyerah tanpa syarat. 

“Sebelum keluar, masuklah dulu. Biar tahu bagaimana rasanya ketika keluar,” Tegas Vi. Tetapi hati-hati rasa itu kadang menipumu, karena buah rekayasa pikiran, serta ilusi yang menjadi dogma sekian lama meringsut dan manghasutmu.

Saya pernah mencoba masuk ke dalam, tetiba saya menemukan diri saya hanya seorang  pecundang.  Begitu juga saat keluar, sesaat saja kenikmatan itu, harus berpura-pura melawan gelombang kejut selanjutnya. Padahal saya masih berlumur penuh lumpur dan lumut pengecut.

Merujuk pada dua perspektif yang seharusnya  dalam memandang suatu kejadian. Perbedaan utamanya terletak pada sudut pandang, keterlibatan subjek, dan pengalaman yang dirasakan.

‎‎Di luar  (perspektif objektif) dalam ‎sudut pandang: Pengamat berada pada posisi sebagai penonton, saksi mata, atau pihak eksternal yang tidak terlibat secara langsung. Hanya menerka  saja, tidak mengalami dampak emosional atau fisik secara langsung. ‎‎

Sementara di dalam, peristiwa pPerspektif subjektif) bagian integral dari peristiwa tersebut: Sebagai merasakan, dan  mengalami, serta sebagai  pelaku. Secara  langsung dampak emosional, fisik, dan psikologis dari setiap proses peristiwa,  serta gejolak, menjadi perenungan tanpa harus merasa pemenang, sebab ada surat dari isyarat yang tersirat.

Benar juga, masuk lebih ke dalam, kadang bersifat sangat personal, subjektif, dan begitu  intens. Fokusnya adalah pada perasaan, sensasi, trauma, motivasi, dan makna pribadi dari setiap fenomena dan nomena, sebelum keluar masukkanlah dulu.

Karena sebelum keluar jauh lebih baik masuk ke dalam, biar tidak menjadi keliru untuk segala hal tindakan, serta proses perjalanan kehidupan itu lebih termaknai, sebagai distribusi pengetahuan mengalami secara spiritual, bukan semata ritual. 

Tapi ingat, saat masuk ke dalam bersiaplah ke sebuah jurang tanpa dasar,  tanpa harus mengaku atau kembali kepengakuan saat keluar. Itu juga masih jauh lebih ke dalam. 

Danu terdiam. Sekilas alisnya juga mulai lunak untuk tidak mengerinyit seperti biasa saat berdebat dengan Vi.

Masuklah ke dalam lebih jauh, tapi jangan merasa dulu paling tahu diri, sepetik hikma, meraba sukma, mendenting tanpa merasa ingin melenting.  Vi menyergap di tengah ilustrasi, jangan gegabah pula,   dengan cara lebih ke dalam, sementara  kau hanya baru belajar mencari cara ereksi dan klimaks yang hanya mencari sensasi. Danu menatap Vi begitu mendalam, sambil berpikir mencari jawaban selanjutnya atau kalau perlu sejenak mangkir dari percakapan yang tidak biasa ini. 

‎‎Danu. Seberapa menghina dirimu sebelum kehinaan hadir merebut dan merenggutmu,  tanpa kau bisa apa-apa untuk menerimanya? Tohokan Vi cukup menghujam.

‎‎Sebelum keluar,  masuklah terlebih dahulu, untuk kemudian kau tahu bagaimana rasanya menjadi subjek dan objek!  Vi melanjutkan sembari menata napas dan sebuah uslah selanjutnya.

‎‎Kadang kita bertindak dan  bersikap sering merasa dalam  pembenaran, atau pengakuan.  Hingga  itu dinantikan sampai besok hari menjadi sebuah dugaan, harap cemas, dan  jauh keluar membahana, merasakan kehangatan, tetapi jauh lebih ke dalam menyusuri lorong sunyi mendengar dan merasakan denyut jantung, nadi, hati, merasakan jiwa tidak lagi asyiknya bercengkrama pada pikiran, rasa dan batiniah.

‎Semua butuh proses, intensitas, mengubur dalam-dalam impian di luar, dari segala pujian sampai pujaan. Seketika telah masuk ke dalam, saat keluar maka rasakan kembali esensi serta sensasinya lagi. Coba lakukan berulang-ulang. 

‎‎Kata seorang filosofi tentang “ke dalam”, katanya  menekankan bahwa pemahaman sejati berasal dari refleksi internal, mengenali potensi, dan mengendalikan pikiran sendiri, bukan bergantung pada faktor eksternal.

‎‎‎Sebelum keluar masuklah dulu. Vi membangunkanku dari mimpi burukku. Lirih dia menancapkan kata bahwa  Socrates itu sama saja denganku, secara teoritis, kritis dan seolah religis.  Tetapi dalam menentukan sikap, kau terlalu jauh tenggelam meresapi bahkan meratapi.

 ‎‎Suasana tidak mengubah kami berdua, saat ceceran diksi dan dedikasi yang cukup membuat saya semakin merasakan hanya ilusi.  Sebelum jauh keluar melempar sauh, saya harus tahu dasar, berapa depah sejauh kedalaman itu.

‎‎Petang yang romantis, sejenak kami diam, mengembalikan ritual bersama, mengajak jiwa batin jauh lebih ke dalam. Saat di luar mulai semakin menggugat.  Angin merambah dan memainkan gaun serta rambut Vi. Senyumannya saya paham, dia menang menguasai cara saya memilih hidup, cara berjarak dengan jejak-jejak di luar sana, selama ini saya terlalu terlena lupa ke dalam, ada hal yang harus segera saya tunai dan urai kembali.

  ‎‎Danu. Intropeksi itu belum cukup, jika hanya menghafal, tanpa harus mencoba masuk ke dalam secara menyeluruh, akan tetapi itu tidak semudah diucapkan. sebab kita kadang juga lari dari kenyataan, menang dari segi pemahaman, kalah dari segi menguatkan hati, bertarung dengan diri sendiri, itu jauh lebih sulit, dan kau harus tahu lawanmu adalah dirimu sendiri.  Vi menurunkan tempo, suaranya lembut, selembut embusan angin sore, pelan tapi mampu menggugurkan ranting dan daun.

Kadang saya liar di luar, saat kembali ke dalam, saya bagai monster yang suka menerka dan menerkam sesiapa saja yang tidak mengikuti selera saya.  Itu arogan namanya, Vi nyelutuk lagi. 

Sama saat tiga sejoli, yang banyak menjadikan rujukan para pencari dan belajar filsafat kehidupan awal, dalam namanya yang  besar di Yunani kuno berjuluk Socrates, Plato, dan Aristoteles, ‎meskipun dalam banyak hal berbeda, self atau diri dipandang sebagai pusat diri (Socrates), sebagai sesuatu yang ‘kekal’ (idea dalam pandangan Plato), atau sebagai potensi ‘rohani’ (Aristoteles). ‎‎

Dan yang menarik dan memantik sampai kita merasa tergelitik dari sebuah semboyan Socrates “kenalilah dirimu sendiri”. Menekankan serta  ingin menegaskan,  agar kita  selalu kembali ke dasar,  ke pusat, ke prinsip-prinsip etis dan kosmik.‎‎

Kalau jauh lebih ke dalam, di luar hanya mitos dan kumpulan narasi yang kadang hoax serta kebenaran, keduanya bertaruh sampai saat ini,  saya mencoba menelaah dengan segala keculungan saya, bahwa betapa saya hanyalah jongos, atau pion-pion catur, bahkan seonggok pengetahuan, setipis  kulit wayang, diwarnai, diberi identitas nama,  diberi peran antagonis dan protagonis yang ‘dimainkan’ oleh dalang‎‎.

Pertarungan itu terjadi, tapi ini bisa dipercaya atau tidak, jauh sebelumnya kadang timbul pertanyaan, memilih hidup dari perjalanan dan penilaian, di sanalah jebakan itu, antara  memilih antara sepi di tengah riuh, atau ramai dalam sunyi. Ini menjadi sindrom bagi saya, dengan persetubuhan tabiat,  atau entah apalah namanya.

‎‎Di tengah percakapan itu, tetiba Rumi menyelinap mengingatkan, meski dulu saya pernah menganggapnya hanya asyik dengan dirinya sendiri, tanpa mengenal suasana hiruk pikuk di luar.  Sepantik dia menguatkan dan mengingatkan bahwa bernama muhasabah atau ntrospeksi,  menurutnya adalah kunci pencerahan, di mana manusia berhenti mencari makna di luar dan menyelami batin untuk menemukan Tuhan.

‎‎Rumi mengajak melepaskan luka,  kecewa, bukan juga menyesali setiap peristiwa yang dialami setiap manusia, di mana  apa yang dicari seringkali tersembunyi di balik luka yang dihindari, menjadikannya sarana transformasi serta afirmasi.  Sembari membalut luka itu, dia menutur dengan kalimat yang dahsyat:  “Mengapa kau mencari setetes air, padahal kau sendiri adalah sungai?”

‎‎Saya mungkin harus mengigau dulu, dan mengarang peristiwa, menerima luka, kepasrahan serta menyerah. Lantas mengamini peristiwa seorang rumi? Tentu berbeda proses, ada jalur dan alur untuk sebuah fase menuju mahkota diri. 

‎‎Kau tidak perlu menjadi Socrates, apatahlagi Rumi. Capaian setiap manusia berbeda, ada  berliku dan berkelok dengan cara si Dalang menikmati caranya memainkan pemerannya.

‎‎Maka masuklah dulu, tanpa mengejarnya di luar, sebab di luar berapa  pemangsa serta tipu daya, yang pada akhirnya kau akan menjadi pembenci, dendam dan kecewa,  Itu juga tidak mengubah cara pandangmu, cara bersikap serta kepenatan yang kau rasakan. Hanya menyisakan ampas-ampas.

Danu. Perjalanan manusia belum selesai, hari ini adalah masa lalumu, semua beriringan melewati setiap sidratulmuntahamu, kau ukir, bisa kau lukis dalam realitas itu, sembari menyeduh kopi dan rasakan kedua manis dan pahitnya.

‎‎Sementara Rumi menarik kanvasnya, diantara kain putih bekas luka dan ringkihan tangisnya dengan membumbuhi kalimat   “manusia untuk tidak merasa kecil dan berhenti menyalahkan keadaan. Manusia harus menyadari potensi penuhnya—seperti sungai yang memiliki kelimpahan—bukan sekadar mencari setetes air di luar.  Sementara di dalam ada setetes yang menggetarkan.  Vi mengutip diakhir percakapan kami.

‎‎Tidak! tidaklah semudah itu. Kau punya proses serta perjalanan, pelajaran hidup sendiri,  walau sama-sama hanya sebagai pion dan wayang yang mengatur, menggerakkanmu sesuai kehendak Sang Dalang.  Vi menutup perjumpaan dalam ritual hari ke sekian ini mulai berakhir. Seketika senja merekahkan cahayanya yang seakan melengking di tengah hujan sore kali ini. ‎


Comments

One response to “Sebelum Keluar, Masuklah Dulu”

  1. ‎‎Tidak! tidaklah mengulanginya. Kau punya proses serta perjalanan, pelajaran hidup sendiri, meski sama-sama hanya sebagai pion dan wayang yang mengatur, menggerakkanmu sesuai kehendak Sang Dalang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *