Ritual manusia, ada yang merayap, meratap, sampai yang terlelap. Menjadi bijak atau jahat, peran ini telah berlangsung dan kita lena selama belum pulihnya kesadaran itu sendiri.
Di sudut lain seseorang menanti balas sebuah budi! Sementara si Budi diam-diam di sudut keadaban, mulai menyesuaikan diri, dalam keadaan terperangkap kondisional dan transaksional.
Perkembangan manusia berfokus pada refleksi rasional mengenai esensi, tujuan, dan perubahan yang dialami sepanjang rentang kehidupannya, mulai dari pembuahan hingga kematian. Ini bukan hanya tentang pertumbuhan fisik, tetapi juga evolusi, pola pikir, dan nilai-nilai.
Suatu hari. Usai ibu menanak nasi. Ibu menimang-nimangku kembali, agar selalu menenun diri, dalam relungnya disertai kidungnya menjaga setiap tindakan, ucapan hingga tetaplah berempati ke sesiapa saja. Berinteraksilah, tetapi jangan asal bersikap sebab kemanusiaan kini telah bablas.
Vi kembali hadir dari sekian lama absen, di tengah sinopsis yang kini semakin menarik di ulas. Celetuknya seperti biasa: “Segeralah kamu berkemas dan beranjak menuju kesadaran, bahwa kelak kau akan dibuai lalu ditinggalkan, bahkan dilupakan tanpa nama bahkan pusara”.
Ingat! keadaan sudah berbeda di tengah peradabanmu di mana orang-orang ramah mulai mengelupas oleh kasualitas yang semakin menjadi bias untuk diselesaikan.
Vi menggeser posisinya lebih dekat, wanginya yang khas melanjutkan dengan sebuah kisah. Suaranya lirih! Bukan dongeng apalagi mitos. Ini kisah nyata, di mana peristiwa ini sebagai eksperimen menguji nilai kemanusiaan.
Pada tahun 1974, di Naples, Italia, Marina Abramovic melakukan sebuah uji kemanusiaan dan empati, dalam pertunjukan seni yang mengusik serta menggelitik rasanya, saat saya menemukan kisah tragis bin mirisnya kemanusiaan serta menghujam, menguji nurani publik.
Tema pertunjukannya “Rhythm 0”, menyediakan tubuhnya sebagai objek pasif selama enam jam. Penonton bebas melakukan apa pun terhadap dirinya. Tidak ada larangan.
Tidak ada sanksi. Tidak ada respons dari sang seniman. Wow sebuah eksperimen dan penelitian Sifa dan psikologi manusia yang miris.
Lantas apa yang terjadi kemudian? Yah. Saya hanya bisa menggugurkan lintasan berpikir dan bayangan saya bagaimana bisa merelakan dirinya sebagai objek, dan bukan sekadar eksperimen seni, melainkan potret telanjang tentang manusia.
Di atas pentas ada meja, disediakan tujuh puluh dua objek yang bisa digunakan penonton, mulai dari yang memberi kesenangan seperti mawar, bulu, madu, serta parfum.
Hingga yang menyakitkan seperti gunting, pisau, batang logam, cambuk, bahkan pistol bermuatan satu peluru.
Awalnya tampak penuh kasih. Begitu lembut, sebagian terdiam memikirkan ketololoan eksperimen ini. Dalam durasi cukup cepat lamat-lamat, bagai mengubah secara drastis begitu agresif.
Dalam situasi itu, ada yang bersikap sopan atau penasaran. Namun, setelah menyadari Marina tidak akan melawan, mereka mulai bertindak brutal.
Ada yang meraih gunting, lalu menggunting baju Marina, ada pula dengan duri mawar, berkenaan dengan pisau, dan bahkan sempat memperlakukan secara seksual.
Tetiba ada suasana mencekam dalam puncak ancaman psikologi manusia. Seseorang mengambil pistol yang disediakan, mengarahkannya ke leher Marina, meletakkan jarinya di pelatuk sebelum.
Akhirnya dihentikan oleh pengunjung lain. Setelah enam jam. Saya mulai meringis, miris betapa suasana jiwa, hati kemanusiaan begitu cepat berlalu mengubahnya menjadi beringas.
Saat waktu habis dan Marina mulai bergerak keluar dari peran sebagai objek, penonton panik dan melarikan diri karena merasa malu dan bersalah atas tindakan mereka sendiri.
Betapa fenomena ini real pula terjadi di zaman dimana kejujuran, empati serta kerelaan itu sepertinya punah, diantara gairah manusia yang mulai saling individualis. Sebagaimana
Pertunjukan ini, melihat seberapa jauh publik akan melangkah ketika diberi kekuasaan penuh tanpa konsekuensi antara aturan budaya manusia dan hukum yang kebanyakan tergulung.
Di titik inilah psikologi kepribadian menjadi relevan. Bahwa yang baik, bisa jahat yang jahat bisa saja tak tanggung melakukan apa saja ketika diberi kekuasaan penuh.
Setidaknya ada setitik peran, untuk menghadapi dilema etis serta yang mulai pragmatis, mempertahankan identitas, dan menjaga hubungan sosial yang sehat. Merasakan penderitaan, ketakutan orang lain.
”Jangan biarkan kesadaran empati diabaikan, tetapi tidak pula pura sadar lalu empati butuh si-budi berbalas”. Celetuk Vi.
Ritual kemanusiaan begitu mudah terkoyak seketika oleh keadaan. Jiwa dan kemerdekaan berpikir dipenjara oleh dogma, budaya yang kemudian menghambat bagaimana kesadaran itu pulih. Selalu dipaksakan untuk merasa baik,
Tentang ujaran serta ajakan. Manusia sama-sama punya perasa. Hanya saja kadarnya mulai tercemari oleh sisi lain sinopsis yang dia bangun sekian lama, tentang diri yang merasa bajik, tetapi lemah pada satu titik! Mencari, mencuri perhatian saja untuk melengkapi sinopsis kemanusiaannya memburu indeitias.
Bukankah manusia sebagai wakil Tuhan di bumi yang memiliki kebebasan kehendak, daya pikir, dan tanggung jawab tinggi? Konsep kemanusiaannya menekankan pada pengembangan yang aktif, kreatif, dan dinamis. Serta seimbang secara spiritualitas dan tindakan di dunia. Kata seorang Filsuf (Muhammad Iqbal)
Tetapi saya membaca sinopsis kemanusiaan serta teorinya mulaibtidak relevan dalam kondisi secara sikis manusia sekarang, dengan menekankan terlalu bersifat dogmatik (pada agama). Sementara ritual kemanusiaan menjadi pelupa setiap detik.
Sementara Kisah Marina di atas, adalah mencoba sisi lain sifatia manusia, tanpa harus tahu bagaimana pengetahuan, budaya dan agama berlaku.
Batapa rapuhnya kita, begitu mudahnya suasana berubah seperkian detik berdampak kepada sesiapa saja. Yang kalem menjadi kalap, pada niat jahat menambah lebih bejat! Hanya karena diberi sejenak kekuasaan, naluri yang ada setiap diri manusia mudah tersulut serta goyah oleh keadaan.
Memperbincangkan (sinopsis manusia) memang sering kali mengulur benang naif dan paradoks, membuat nalar bepikir kita lebih dalam. Seraya menguatkan untuk bertindak kepada sesama meski kebebasan dan keleluasaan untuk bertindak serta bertingkah itu dibiarkan.
Sulit dibayangkan, seperti peperangan yang begitu mengerikan itu diciptakan oleh makhluk yang bahkan kehilangan hampir seluruh kesadaran saat sedang tidur, membutuhkan makan dan minum untuk bergerak, tidak bercakar, bertaring, bahkan telanjang saat muncul di dunia ini.
Mereka (manusia) adalah satu-satunya makhluk di bumi yang mampu menciptakan sebuah alat pemusnah pada nuansa kompetisi mengumpulkan amunisi untuk membinasakan sesamanya, ada dengan menyakiti perlahan penuh kelembutan, ada menciptakan derita, dan memusnahkan harapan, mimpi kehidupan aman, nyaman harmoni.
Ternyata mahluk bernama manusia ini, punya potensi yang sama untuk saling menghegemoni. Terlalu riskan untuk merasa atau mengakui kesalahan. Begitulah pola dan merambah ke setiap titimasa peradabannya. Berkembang, berpikir serta selalu ingin menguasai.
Bidak-bidak yang kemudian saling memperbudak, dari biduk kemanusiaan yang bertarung sampai saat ini.
Sebuah petikan menggugah: Jika ada satu fragmen yang paling bertanggungjawab atas kerusakan yang dilakukan oleh manusia, dia adalah ambisi. Anak kandungnya adalah kekuasaan. Manusia makhluk yang begitu tidak berdaya, mampu menciptakan berbagai keajaiban beserta kerusakannya.
Mereka layaknya Tuhan yang mengatur kehidupan dunia. Ya, mereka memang diciptakan menjadi “Tuhan kecil” bagi makhluk-makhluk lainnya. Tapi, bukankah Tuhan tidak pernah berbuat kerusakan?
Hingga pada sebuah Fragmen selanjutnya, ditambahkan di mana manusia dapat menguasai dengan cara yang baik atau langkah yang paling buruk maupun keji sekalipun. Ambisi berkuasa memiliki konsekuensi adanya pihak yang dikuasai. Untuk dapat menguasai, tentu mereka harus dikalahkan dengan segala cara.
Bahkan pada jalur apa saja, dari yang minimal, sampai maksimal bahkan secara ekstrim, saling mengebiri daya dan kekuatannya, sehingga pada satu dominasi tertentu ingin merasa, seperti penguasa seketika kesempatan itu hadir di tengah kesempitan.
Ambisi inilah yang melahirkan berbagai macam dinamika konflik, pertaruhan antar manusia, pada gengsi, merasa benar dan pintar, manusia mulai tertukar dalam sifatianya sebagai mahluk sosial yang mulai brutal, tempramental, sentimentil, dalam sejarah peradaban manusia.
Saya mulai berpikir, dan melapangkan pikiran, jiwa, hati yang susah untuk searah, seia sekata. Sering membusungkan pengetahuan yang sebenarnya ada g saya belum paham.
Perlahan, secara hati-hati, dan tetap optimis bahwa manusia saat ini dalam sebuah perbaikan sistim alam semestanya, proses refresh pada sebuah kesadaran awal, membangkitkan pengetahuan, menempatkan ilmu kebudayaan, spiritual dan agama itu menjadi pijakan. Bukan menjadi topeng klasik sambil asyik dengan dirinya sendiri.
Sebagai mahluk sosial, menyantuni, merasakan sakit, derita, duka, tidak hanya pepesan kosong di tengah pergumulan jiwa. Banyak kehilangan kesadaran, menggunakan nalar, pada akhirnya menjadi kumuh, rusuh tidak lagi berdamai dengan diri sendiri, apalagi dengan manusia lainnya.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply