Manusia, Prasangka dalam “Kandang”‎

Kalau hidup diandaikan seperti manusia, sifatnya akan seperti karakter Dasamuka, salah satu karakter dalam mitologi Hindu. Dasamuka dipercaya memiliki sepuluh muka yang, jika diibaratkan seperti hidup, memiliki banyak sisi.

Hidup selalu berubah-ubah, jiwa, sifat, dan reaksinya bisa naik, turun, berwarna merah, kuning, atau biru, lalu meletuslah balon hijau. Tergantung dilihat dari sisi mana. Lalu datanglah para manusia bertemu dengan hidup, memberikan banyak kisah, membuat perspektif-perspektif yang berbeda.
‎Wow. Saya terkesima dengan sebuah pembuka di atas saat berselancar ke beberapa laman dan artikel. Tetiba algoritma itu memainkan kembali perannya, mempertemukan sebuah perihal menarik untuk menjadi bahan percakapan pada narasi ini.

‎Yah. Sepakat! Gumamku. Kemudian melanjutkan mengikuti paragraf selanjutnya: “Meskipun begitu, tidak semua manusia bisa hidup dengan banyaknya pandangan berbeda. Sebagian dari kita masih sering kali berada dalam kandang, enggan untuk mempertanyakan kembali kepercayaan, enggan untuk menantang kepercayaan kita sendiri.”

‎Semakin menyeretku. Lalu kembali mengurai beberapa kisah menarik. Kuceburkan segera mendarasnya, kemudian pada kejutan berikutnya menyuguhkan ilustrasi bahwasanya “menikmati hidup sebagai manusia adalah selayaknya singa yang dilepas di hutan belantara. Coba bayangkan kalau singa hanya berada dalam kerangkeng saja. Lama-kelamaan singa itu akan mati karena tidak mengikuti naluri predatornya.”

‎Sejatinya, singa harus berburu, bersimbah darah memperebutkan mangsa di alam liar. Itulah sifat dasar seekor singa. Begitu juga manusia. Kita dianugerahi akal budi untuk terus diasah, untuk terbuka pada hal-hal baru di sekitar, dan untuk berani keluar dari kandang.

‎Perlunya interaksi percakapan, menuang dalam naungan kesadaran menempa dirimu. Seni hidup sebagai permainan ini. Tindakan dan ucapan merancang ulang kembali bangunan pemikiran. Tidak perlu liar seperti dicontohkan di atas dengan menjadi singa!

‎Semakin lupa saya membaca dan membalas beberapa pesan WhatsApp di ruang obrolan dari beberapa orang. Tanggung dan semakin asyik menemukan algoritma apa yang terpikir dari hal tampak sederhana peristiwa manusia sekitar, hingga di depan hidung kita! Sebagaimana manusia yang berbagi ruang dengan kisah yang berbeda-beda.

‎Bayangkan jika kita bisa melihat isi kepala setiap manusia yang kita temui di perjalanan, akankah kita jadi lebih baik ke sesama? Wets. Sama dengan apa yang selama ini saya percakapkan setiap bersua dengan seorang Karib Mubaraq.

‎Mereka yang kita temui di jalan, di taman, mal, bahkan sehari-hari lalu lalang di hadapan halaman rumah dan di depan kita, bahkan orang terdekat kita, memikul beban dan masalahnya masing-masing. Begitu pula aib, gaib serial paling mengasyikkan dan menerobos sampai menjadi sekutu.

‎Seperti dekapan hangat, menyanggah bilur dan keteledoran, bahkan goblok-gobloknya saya menerjang dan menghadang pertukaran informasi yang hangat sampai bahkan paling basi sekalipun justru yang paling asyik.

‎Sejenak mengubah cara menerka dan membuat persepsi yang tampak saja. Sampai sajian ketiga ilustrasinya dengan menceritakan sebuah contoh ketika kita bertemu dengan seorang yang penampilannya terlihat seram dengan tato rantai di leher.

‎Awalnya kita pikir ini adalah seorang preman yang mungkin saja akan meminta uang dengan paksa. Tetapi semua terbantahkan, ternyata tato rantai di lehernya merupakan sebuah peringatan untuk dirinya sendiri karena dia merasa egonya seperti serigala lapar yang dapat merugikan orang lain. Baiknya beliau ikat dengan rantai supaya tidak merugikan orang lain.

‎Begitu juga dengan tato bertuliskan Ama seorang perempuan di bawahnya, untuk mengingatkan pada mantan istrinya. Yang tampang preman tersebut harus berpisah dengan sang mantan istri karena kelakuannya yang buruk, padahal beliau begitu menyayangi sang istri.

‎Semakin kukucilkan diri. “Penghinaan terhadap diri sendiri” minim risiko untuk merasa paling arif. Menghantar saya ke sebuah gerbang kesadaran itu.

‎Begitulah hidup dan manusia dalam hamparan komunal, serta riwayat-riwayat kitab yang termaktub diyakini. Mendesah saja menjadi hamparan persepsi dan subjektif. Yah. Bagai anak cukung di tengah anak palung, cukup kurelung pada tato kalung bertuliskan di bawahnya sebuah nama, tetapi bukan sang mantan.

‎Memang banyak orang sulit melihat suatu pandangan dari sisi yang berbeda, kurang bisa menerima pendapat dari orang lain, dan sulit untuk keluar dari tembok sosial. Tak ada jalan yang paling efektif selain memahami bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain melihat dari sisi yang sama dengan kita.

‎Serimurni nan gemulai, merasuk sukma, dirangkaian bunga kehidupan, melakukan hal sederhana menambal yang bocor di setiap relung dan peristiwa manusia, dari hal kacau sampai pada pertengkaran receh hanya karena cara pandang yang berbeda dalam ruang persepsi, pikiran, hingga menentukan dengan acak kalimat-kalimat atau ucapan yang bisa berbuah petaka.

‎Berkenaan dengan entitas manusia pada sebuah karakteristik, emosi, dan perilaku dasar yang melekat pada diri seseorang, dibentuk oleh faktor genetik, lingkungan, dan pengalaman hidup. Sebagai makhluk yang dinamis, setiap individu memiliki kombinasi sifat yang unik nan kompleks.

‎Ada yang jujur, ada yang suka ngacir bin kabur. Sampai ada yang menyeduhkan kebaikan, ada pula yang menceburkan. Sampai pada titik tertentu jiwa dan perilaku yang belum terlatih akan tertatih. Sedetik bisa mengubah menjadi ruang berbeda pada sifat. Ia akan lebih gaduh, tidak lagi mengamini, justru sebagai pelupa menguasai menjadi sindrom dan alasan klasik sebagai manusiawi.

‎Kita masih belum bisa secepat untuk move on sebagai manusia yang selalu berada pada zona nyaman di sudut nilai. Lupa mengasah, mengasuh diri sebagai pelengkap permainan hidup bersama manusia dan makhluk lainnya hanya karena kita dimitologikan dan atau pada struktur dan kultur penciptaan yang sama, dengan hanya definisi sebagai manusia yang membedakan.

‎Pada akhirnya, cara berakal dan punya naluri yang sama dengan makhluk lainnya jika tiada mampu menggunakan cara emosi, reaksi, dan aksi kita secara rasio dan menjadi pembeda dari yang lainnya.

‎Rupa jiwa saling memenuhi sisi kemungkinan, manusia terjebak dan tersandung pada sebiji pasir, lalu tersungut menyalahkan sekitar. Memuncah, mencacah, merasa paling benar, dan merancang diri dendam kembali. Sejatinya, kelengkapan manusia berkelindan dan sejawat prasangka, cara pandang yang menjadi sengketa abadi.

‎Pada akhirnya, saya menarik satu hal tentang “kesadaran” tanpa menafikan memakai ketakwaan, keimanan, dan apalah namanya, yang kadang ribet, terlalu eksklusif, namun tidak efektif untuk menjadi kesadaran itu sendiri jauh lebih mumpuni: adalah pusat dari pengalaman manusia yang mendefinisikan bagaimana kita memahami diri sendiri, merasakan rangsangan, dan berinteraksi dengan realitas sekitar.

‎Ini adalah fenomena kompleks yang melibatkan pemuktahiran mental, bukan sekadar spiritual, tetapi kewaspadaan dan refleksi mendalam, serta berfungsi sebagai jembatan antara pikiran dan lingkungan, seraya menjadi penakluk diri sendiri, sebagai lawan paling membuat kita kadang menjadi manusia seolah pendakwah, pencatut kebenaran pada kebohongan terhadap diri sendiri.

‎Sebagai alarm bagi pribadi saya agar tidak menjadi manusia dalam “kandang”, lalu kemudian kelak akan ditendang tak lagi dikenang. Kusematkan pesan-pesan Ibuku:

Sikatutuiko, nanutangasiakala’jjui dudu. Teako ia ngaseng nuissenga nanu napbebe’ ma’ring nupau. Kanasaba rupa tauwwa nayawana assulu angtama’ji. Anre nissengi uko membara inai lakodi, inai labaji. Nasaba singkammajaki.”

‎Saling mengingatkan dan menjaga intensitas yang berlebihan. Tidak semua yang kau tahu harus kau sampaikan, sebab manusia dengan hati yang sama mampu dibolak-balik, kita kadang terlena tanpa kita tahu. Esok lusa entah siapa yang akan menjadi baik dan merusak, sebab kita sama-sama sebagai manusia saling berinteraksi, asih, asuh, dan menyeka air mata bersama.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *