Hendak menjual satu anaknya pada saat pandemi Covid mencekik, hingga sering berhalusinasi hendak menyudahi hidupnya dengan dua kali percobaan bunuh diri.
Seorang ibu terhentak. Selepas niatnya ingin mengakhiri hidupnya, dia nekat dengan jalan itu untuk selesai dari persoalan dunia dan kehidupan yang menghujamnya.
Kisah ini real terjadi pada kontes kehidupan terpapar kemiskinan yang menggugah dari seorang komedian bernama Mpok Citra. Di sebuah wawancara podcast, dia, sambil cengengesannya yang khas, nyeletuk mengimbangi rasa sedihnya sebagai orang miskin:
“Kalau miskin jangan banyak anak.” Bahkan dengan candaan, tapi memantik nurani, dia enteng saja. Siapa bilang banyak anak banyak rezeki? Mitos juga ternyata. Cengengesan lagi, tambah terbahak, menambah suasana diubah sepersekian detik pada situasi haru menjadi tawa lepas begitu saja.
Rumahnya di atas tanah seorang pemilik konglomerat, memberinya ruang berteduh untuknya. Mpok Citra sadar diri suatu kelak jika pemilik tanah ini memintanya untuk segera hengkang dari tanah tersebut. Rela dan tahu diri segera meninggalkan tempat dengan segala peristiwa drama kehidupan di tanah dan gubuk; air mata dan suara pecah ketubannya mengiris, menahan sakit dan bertahan, berteduh dari terik dan hujan selama sekian tahun.
Mpok Citra, seorang komika dan ibu lima anak asal Bekasi, berjuang melawan kemiskinan dengan berjualan pecel keliling. Ditinggal suami dan hidup terbatas, ia bangkit melalui stand-up comedy, mengubah tragedi hidupnya menjadi materi komedi, serta dikenal karena ketegarannya.
Menafkahi lima anaknya dengan berjualan pecel keliling menggunakan motor. Ia sering menyisipkan bahasa Inggris saat berjualan untuk menaikkan harga, menunjukkan sisi humoris dan kreatifnya dalam berdagang.
Sebuah perjalanan menuntunnya. Gegara menonton stand-up, bukan gegara ceramah dan ayat-ayat yang membuatnya seketika dia terhentak saat hendak bunuh diri, dengan minum racun Baygon dan lompat di sebuah jembatan.
Seketika diurungkan saat duduk merenung jauh membalut luka dan duka kehidupannya. Tetiba, tidak sengaja, di sebuah kanal menemukan letupan yang kuat menghujam sebuah opening seorang komika bernama Coki Anwar sebagai personanya: “Selamat malam orang-orang lemah.” Mpok Citra seperti tergugat untuk bangkit, tidak mau kalah oleh rentetan persoalan hidupnya, untuk tidak mengalah dan lemah, dan pada akhirnya dia berusaha mendaftar sebagai peserta stand-up.
Mpok Citra, yang menikah di usia 18 tahun, mengalami masa sulit di mana suaminya jarang pulang, sehingga ia merasa berjuang sendirian.
Tinggal di rumah yang dibangun dari sisa-sisa kayu bekas di atas tanah milik orang lain. Rumahnya sering kebanjiran, memaksanya menggunakan lantai dua dari puing kayu bekas seadanya.
Meskipun pernah terlintas untuk menyerah karena himpitan ekonomi yang ekstrem, Mpok Citra memilih bertahan dan tetap ceria demi anak-anaknya. Hingga pada akhirnya menemukan jalan sebagai komika yang seketika itu tampil secara natural pada tema kehidupannya dia bawakan, dia kisahkan.
Mpok Citra menjadi inspirasi karena semangatnya yang tak pernah menyerah meski hidup dalam keterbatasan, menjadikannya salah satu sosok komika yang dikagumi karena kejujurannya di atas panggung.
Sampai suatu titik, apa yang diyakini selama ini bahwa banyak anak banyak rezeki, Mpok Citra menampiknya. Ternyata dia mengalami fase itu dan memahami bahwa itu tidak sesuai dan relevan pada kondisinya. Ibu dari lima orang anak ini toh juga masih tetap miskin papa, menderita. Dia sadar bahwa rezeki yang dimaksud harus berusaha, tidak harus mengemis dan pesimis untuk melanjutkan kehidupannya.
Polos, ceria, serta kadang air matanya hendak tumpah saat sesi wawancara sebagai tamu di sebuah acara talk show dan podcast. Dia tidak menjual kesedihan sebagaimana biasa sering menjadi gimmick.
Lelucon kehidupannya sebagai bahan/tema stand-up-nya, dan cara dia menceritakan pula begitu apik tentang “kemiskinan bukan seharusnya ditangiskan semata. Kesedihan begitu juga tidak harus tampak memelas berharap bekas kasih, tetapi persoalan hidup menghimpitnya dijadikan lelucon menutupi segala guncangan jiwanya.”
“Selamat malam orang-orang lemah. Jika menonton di bioskop menghadap ke layar? Kalau saya, tidak. Saya menghadap ke proyektor! Itu silau.” Tawa Mpok Citra lepas seketika mengingat awal dia kembali bangkit, sebuah opening dia hafalkan dari seorang Coki Anwar.
Betapa kelucuan tidaklah menjadi tertawaan semata. Tidak harus gengsi bin jaim sebagai cara melengkapi dan segera menuntaskan kecewa dan kebencian, menghiasinya dengan tawa serta segala anekdot untuk bisa keluar dari kedok pura nyaman. Begitu pula kehinaan itu tidak harus merasa paling rendah, tetapi menganyam penderitaan rasa, sensi, dan kesadaran itu terasah.
Kocak, polos, serta apa adanya, dia jujur menceritakan di atas panggung. Di tengah kumpulan orang yang merasa terhibur, padahal sesungguhnya menghujam, mengajari agar dalam mengelola jiwa dan hari di tengah kumpulan keresahan peristiwa kehidupan di muka bumi ini.
Perlu cara kocak mungkin, seperti cara Mpok Citra dengan menjadikannya lelucon dan menerimanya, bukan sekadar sabar dan pasrah akan takdir, menuduh Tuhan menghukum hamba-Nya.
Air mata Mpok Citra kembali tumpah saat menceritakan pertanyaan anaknya: mengapa dulu ibu pelit, berbeda dengan sekarang begitu baik memberi kepada kami? Mpok Citra menyeka air matanya. Mereka dulu tidak tahu bagaimana membedakan kikir, pelit, dan hemat: satu liter beras, uang jajan, serta beberapa keperluan lainnya. Tawanya lepas kembali. Begitulah orang miskin cara menghibur dirinya dengan lelucon dan menertawai dirinya sendiri.
Saya disuguhkan beberapa saat peristiwa Mpok Citra, bagaimana menikmati, merasakan, menjalani, dan menemukan jalan keluar dari setiap persoalan hidup. Membantah setiap teori dan arahan untuk bertobat, katanya, tetapi belum melingkupi penerimaan secara utuh setiap peristiwa kehidupan.
Pada akhirnya, Baygon dan saksi sebuah jembatan mewarnai setiap ulasan pertanyaan dalam setiap wawancara, sampai anak kelimanya yang hampir dijual, dan kini tumbuh sehat serta pintar di tengah nutrisi dan gizi yang minim, menjawab bahwa standar kebodohan dan kepintaran bukan karena kemiskinan. Bukan tolok ukur data sekunder yang sering juga blunder.
Tawa lepas di sebuah ruangan, padahal yang dikisahkan adalah ketimpangan dan kesenjangan sosial. Begitulah hidup dari segala peristiwa sosial manusianya, perlunya untuk kita tertawakan bersama.
Gegara stand-up, dengan lirih yang seakan angkuh seorang Coki: “Selamat malam kaum-kaum lemah.” Bukan karena sebuah khotbah serta dalil berjubel kisah diceritakan paling heroik. Padahal itu juga dongeng seorang Mpok Citra mengubah cara pandang, nalar, dan proses bangkit melawan dirinya sendiri, bukan seolah penikmat penderitaan atau sekadar berkhayal di tepi kanal malam.
Seketika pagi tiba, masih saja menggugat, mengeluh, dan membakar dupa tradisi berharap wangi kemenyan merambat, menghadirkan rasa nyaman tanpa berusaha menganyam dan mengenyam lebih dalam kehidupan. Apatah lagi duduk pasrah mengunyah bait doa, lupa kesadaran, berharap sandaran.
Leluconlah yang mengubahnya. Kocaknya membalut luka kehidupannya yang terkoyak, menempanya melewati lorong dengan menjajal jajanan dengan keuntungan seadanya. Satu liter beras dia tanak untuk kelima anaknya. Sandang, pangan, dan papan dia papah sendiri di negerinya yang kaya raya. Melimpah ruah tanah surga, katanya. Tetapi ketimpangan manusia setiap detik terdengar jeritan di balik kolong jembatan, di lorong sempit, di dekat rumah mewah, bahkan masjid nan megah.
Mpok Citra hanya satu dari sekian banyak Mpok serta peristiwa miris yang lain di tengah gempita dan slogan pemenuhan program sebagai kebijakan, tetapi hanya kebisingan di tengah lapar, kemiskinan, pendidikan, bahkan kesehatan.
Sepeka yang terasa, kalimat ini masih saja sesuai dan terjadi begitu pelik hari ini: “Orang miskin dilarang sakit dan dilarang sekolah.” Mpok Citra tertawa lepas, seakan menyuguhkan satu pemahaman dan kejutan kecil yang jauh dari jangkauan kita, sembari dia nyeletuk, “Bangun dan bangkit segera. Berusaha, jangan jadi kaum lemah, kata Bang Coki Anwar.”

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply