Di tengah gejolak sosial kemanusiaan, pertarungan individu menjadi pentas monolog. Sembunyi di balik tirai kebijaksanaan, kehilangan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat di Nusantara ini.
Akhir-akhir ini, sebagian di antara kita tak lagi ramah, saling ingin meremah, suasana semakin kacau, isu dikemas, para cendekia, tokoh menjadi pengamat yang lamat-lamat hanya menemui jalan buntu di tepi jurang, diadu menjadi kekacauan disengaja, sampai saling melahap hanya karena kepentingan yang tidak terpenuhi dari kelompok satu dengan lainnya.
Di sinilah filosofi Assiama dengan “sikamaseang” mulai hilang, ditumbuhi belukar kemanusiaan yang mulai saling menggasak tatanan nilai.
Umbu tetiba hadir menyeka dan membasuh kembali, di antara siang menuju sepucuk sore percakapan kami. Menggugah pada narasi yang dia sematkan, memantikku kembali.
Mengingatkan ketika proses assiama itu lahir menjadi solusi, bagaimana peran Assiama itu tetap mengaliri jiwa-jiwa kesemestaan manusia.
Beliau menutur: Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks. Urbanisasi, kesenjangan sosial, polarisasi informasi, hingga derasnya arus digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, sekaligus memunculkan tantangan baru dalam menjaga stabilitas keamanan.
Di tengah kondisi tersebut, pendekatan keamanan yang semata-mata mengandalkan kekuatan atau penegakan hukum dapat dikatakan belum cukup memadai. Yang dibutuhkan adalah pendekatan yang mampu menyentuh akar persoalan: “kepercayaan sosial”. Saya menikmatinya, betapa sangat kuat mengikat hirarki kemanusiaan yang diterangkan.
Umbu melanjutkan tuturnya, di mana kepercayaan menjadi mata uang baru dalam menjaga stabilitas. Ketika kepercayaan melemah, potensi konflik meningkat. Sebaliknya, ketika kepercayaan terbangun, masyarakat dengan sendirinya menjadi bagian dari sistem keamanan itu sendiri.
Dalam konteks inilah, Assiama Presisi menjadi relevan, bahkan strategis. Assiama Presisi menawarkan pendekatan yang menempatkan masyarakat bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek dalam menjaga keamanan.
Melalui keterlibatan langsung, baik dalam bidang sosial, budaya, politik, dengan dialog terbuka, maupun interaksi keseharian, sehingga terbangun hubungan yang lebih setara sebagai penegak hukum (polisi) dan masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan praktik kepolisian modern di berbagai negara maju. Jepang, misalnya, telah lama mengandalkan sistem “koban” yang dikembangkan oleh National Police Agency Japan.
Dalam sistem tersebut, polisi hadir secara dekat, mengenal warga, dan menjadi bagian dari komunitas. Wow. Umbu atau memiliki nama lengkap yang sekarang sebagai Kombes Edward Jacky Tofany Umbu Kaledi, S.I.K., M.M.
Sebagai penegak hukum, keamanan dalam hal ini di kepolisian dan pernah menjabat sebagai Kapolres Bantaeng, bersama jejak artefak dia tinggalkan bernama “assiama presisi”, ada kepekaan di tengah kenduri peradaban kemanusiaan.
Dia mengambil peran dalam suasana di negerinya Indonesia yang memiliki karakter yang berbeda. Dengan keragaman budaya, tingkat kesenjangan sosial, dan kompleksitas geografis yang tinggi, pendekatan yang berhasil di negara lain tidak bisa diadopsi secara mentah.
Di sinilah keunggulan Assiama Presisi hadir! Tegasnya. Tidak meniru, tetapi mengadaptasi. Dengan menjadikan kebersamaan sebagai nilai utama, pendekatan ini berakar pada budaya gotong royong yang telah lama menjadi kekuatan sosial bangsa Indonesia.
Betapa kita kehilangan kebersamaan, yang kini bukan sekadar nilai moral, tetapi menjadi instrumen yang miris, menegakkan keadilan sosial, hukum, dan kesenjangan sosial, yang mulai hilang dengan kenduri serta stabilitas menghujam dan mengancam setiap saat.
Dalam perspektif yang lebih luas, Assiama Presisi juga memiliki dimensi geopolitik domestik. Stabilitas keamanan berbasis masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan nasional, terutama di tengah potensi fragmentasi sosial akibat disrupsi digital dan dinamika politik.
Ketika masyarakat merasa dilibatkan dan memiliki rasa kepemilikan terhadap keamanan, maka potensi konflik horizontal dapat ditekan. Bahkan lebih jauh, masyarakat dapat menjadi early warning system yang efektif terhadap berbagai potensi gangguan. Tegas Umbu menaruh harapan untuk sebuah kesenjangan kemanusiaan yang terjadi.
Percakapan kami mengalir. Umbu membalut duka peradaban kemanusiaan dengan pendekatan ini, mengedepankan prinsip negara tetap memegang peran utama, tetapi masyarakat menjadi pilar yang tidak terpisahkan.
Kemudian saya terbawa suasana dan memutar waktu dua tahun lalu, bagaimana proses dan latar belakang “assiama presisi” menjadi pilihan amat tepat dalam bingkai menguatkan dan melahirkan ikrar bersama.
Mengingatkan kembali seorang Umbu tentang bagaimana latar belakang kami memberi nama kegiatan Assiama, yakni ketika kami melakukan kunjungan ke desa-desa ada beberapa kendala dalam berkomunikasi dengan warga, jadi ini merupakan upaya kita agar program-program kebijakan dari Kapolri dan Kapolda Sulsel ini bisa sampai ke seluruh lapisan masyarakat,” kata Kapolres Jacky.
Sore menjelang buka puasa. Di ruangan Aula Endra Dharmalaksana 99 Mapolres, 18/3/2024. Pada acara launching “Assiama Presisi” menggema, menjadi gempa kebaikan, sebuah perjamuan menderma keluhuran setiap jiwa manusia, menyatu mulai dari tokoh agama, OKP, jurnalis, tokoh masyarakat, ormas, tokoh budaya. Dengan “Assiama Presisi” menguatkan semua pihak yang selayaknya mengambil peran untuk menyatu, peduli walau sehelai, menawar diri untuk sebuah ikatan saling asah, asih, asuh “sipa’rikongang, sikamaseang”.
Dengan implementasi pendekatan ini membutuhkan konsistensi dan kesungguhan. Lalu menekankan semua harus turun dan hadir, para aparat tidak hanya seremonial dan bersifat simbolik, melainkan harus nyata dan berkelanjutan.
Komunikasi tidak boleh satu arah, tetapi dialogis. Dan yang terpenting, kepercayaan harus dijaga melalui tindakan, bukan sekadar narasi.
Sebuah penanda di tengah kecamuk zaman, Umbu merajutnya di tengah tantangan global yang semakin tidak menentu, dari peradaban teknologi hingga ketegangan geopolitik, stabilitas internal menjadi kunci utama kekuatan suatu bangsa. Dan stabilitas itu tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga dari bawah, yakni dari masyarakat itu sendiri.
Saya menikmati tutur yang begitu teratur dari seorang Umbu dengan Assiama Presisi memberikan pelajaran penting: “bahwa keamanan yang kokoh bukan hanya soal sistem yang kuat, tetapi tentang hubungan yang kuat”.
Pada akhirnya, masa depan keamanan daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh kepolisian, tetapi oleh seberapa besar kepercayaan yang mampu dibangun antara polisi dan masyarakat.
Begitulah Assiama Presisi hadir, bukan sebagai semata program, melainkan arah baru Polri untuk masyarakat di tengah kemanusiaan kehilangan cara memanusiakan manusia yang kini mulai hilang. Perisai manusia adalah harga diri, tetapi bagaimana itu bisa terjaga jika saling mencabik-cabik nilai keadaban itu sendiri.
Begitu apik uraian tersebut, saya terbawa mengalir dengan menyuguhkan bagaimana Assiama bukan hanya kata sifat sekadar dilontarkan begitu saja, dia adalah aktualisasi untuk merawat kearifan lokal, di mana unsur kata itu hadir yang urunannya menjadi luhur, untuk menjadi tolok ukur di tengah gairah gerah peradaban yang kehilangan kenduri.
Gotong dan royong telah punah seketika, layu pada deru gejolak serta geliat tabiat, memburu martabat dengan muslihat.
Lalu apa penyebab utama pudarnya gotong royong? Salah satu persepsi mengurainya dan mengonfirmasi bagaimana sifat kebersamaan itu terserabut, di antaranya:
Individualisme tenggelam asyik dengan diri sendiri hingga mengurangi ketergantungan dan interaksi langsung. Ditambah sikap apatis terkikis dalam sebuah egoisme: “Kurangnya motivasi dan rasa enggan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemasyarakatan”.
Ataukah ini dinamakan pergeseran nilai budaya lokal menjadi budaya populer yang lebih ke barat-baratan? Hem.
Detak nadi kemanusiaan, pada titik didih yang semakin tertindih, semestinya ada upaya menumbuhkan kembali pada sebuah bernama kesadaran. Menanamkan kembali rasa rela berkorban.
Akhirnya percakapan siang itu menambah gurah bagi saya dan menutur satu pesan: “Jangan biarkan kesosialan lalu menjadi kesusilaan”.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply